Laporwan Wartawan Persda Network, Ade mayasanto/Rachmat Hidayat

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.22.13441294&channel=1&mn=1&idx=1


JAKARTA, SELASA - Mantan Panglima TNI Jenderal purn Wiranto dan mantan
Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung duduk bersama, berdialog
tentang kondisi kemiskinan Indonesia yang diklaim pemerintah
menunjukkan angka perbaikan.

Bersama Bambang Widianto (Bappenas), Saiful Bahari (Partai
Perserikatan Rakyat) dan Angelina Sondakh (Partai Demokrat), serta
Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia mengukur sejauh mana
keberhasilan SBY-JK menanggulangi kemiskinan.

Diskusi bertema Kaum Miskin Indonesia Menggugat dimoderatori pengamat
politik Sukardi Rinakit. Bertempat di gedung
Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa (22/1), acara pun
berlangsung dengan nuansa uneg-uneg kepada SBY-JK.

"Pemerintah SBY-JK masih cenderung mengabaikan suara kaum miskin dalam
penentuan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Kaum
miskin tidak dilibatkan dalam proses kebijakan dan pengangguran," ujar
Sekjen GAPRI Darmawan Triwibowo.

Pemerintah SBY-JK, menurut Darmawan terus menerus mengklaim program
dan anggaran penanggulangan kemiskinan terus naik. Dari
tahun 2005 yang hanya sekitar Rp 40,6 triliun, dan kini pada 2008
menjadi Rp 99,1 triliun. "Semua itu tidak tercermin dalam pencapaian
target-target pengurangan kemiskinan," katanya.

Lain hal dengan mantan pengurus teras Parti Golkar yang juga memimpin
ormas Barindo, Akbar Tandjung. "Pemerintah harus
memperhatikan dampak kebijakan, dan memberikan iklim yang kondusif
bagi dunia usaha. Kita harus melakukan pendekatan pembangunan ekonomi
secara tepat," terangnya.

Akbar menilai, keberhasilan pemerintah mengelola kemiskinan bukan
lantaran kebijakan yang berasal dari pemerintah semata. Laju
pertumbuhan di Indonesia meningkat karena kebutuhan akan produk
Indonesia seperti CPO meningkat tajam.

"Kita lihat saja penyerapan tenaga kerja masih kecil," tandasnya.

Angelina Sondakh yang mengikuti diskusi rupa-rupanya panas juga
pemerintahan SBY-JK yang disokongnya terus disudutkan dalam penanganan
angka kemiskinan. "Kita harus fair. Angka kemiskinan bagaimana pun
menurun," tegas Angelina Sondakh.

Menurut politisi asal partai Demokrat ini, masyarakat miskin mesti
melek mata kembali. Pasalnya, menjelang Pilpres dan Pemilu 2009
kemiskinan kerap diperjualbelikan sebagai komoditas politik.
"Hati-hati, kemiskinan kerap digunakan untuk komoditi politik. Ini kan
jelang 2009," tuturnya.

Kirim email ke