Para petani di Indonesia memang di NOMER DUAKAN oleh pemerintah dari pada para 
PENGUSAHA ASING dan PEBISNIS IMPORT Indonesia. Asalkan lebih menguntungkan 
Pemerintah, maka masyarakat Indonesia sendiri yang di RUGIKAN. Pemikiran jangka 
panjang juga tidak pernah menjadi ACUAN/KEBIJAKAN dari  pemerintah sekarang.
  Yang terpikir hanya PARTAI POLITIK dan KEDUDUKAN saja, jangan sampai 
kehilangan kedudukan dan maka dari itu menggalang para pedagang untuk membantu 
pemerintahan sekarang. Maka jika para pebsinis ini mengajukan tuntutan tentang 
import pangan dari luar negri maka akan disetujui.
  Pembukaan lahan dihutan untuk penanaman kelapa sawit juga langsung disetujui, 
walaupun itu juga menghancurkan lingkungan. Dan lagi-lagi rakyat yang menderita.
  Maaf sampai ngelantur ke hutan dan lingkungan.

  Kembali ke Kedelai, soalnya pajak import pangan diturunkan untuk memberikan 
insentive, katanya, tetapi sekarang siapa yang menanggung itu semua?? Sungguh 
suatu KEBIJAKAN yang tidak masuk diakal.
  Lagi-lagi rakyat, mau makan tempe dan tahu saja tidak bisa lagi.

  Salam,
  Yuli



heru suprapto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Awas Kedelai AS Masuk dengan CLQ

KOMPAS/RIZA FATHONI / Kompas Images
Perajin tempe di sentra produksi tahu-tempe Tegal Parang, Mampang, Jakarta, 
mengolah kedelai untuk dibuat menjadi tempe, Minggu (20/1). Sebagian pengusaha 
tempe di kawasan tersebut yang memiliki tempat usaha sendiri masih berusaha 
bertahan dengan margin yang sangat pas-pasan karena kenaikan drastis harga 
kedelai yang diimpor dari Amerika. Sementara pengusaha yang menyewa tempat 
terpaksa gulung tikar karena tidak sanggup membayar uang sewa.


Kamis, 24 januari 2008 | 02:33 WIB
Hermas E Prabowo
Dulu susu, sekarang kedelai... lalu apa lagi? Pertanyaan bernada sinisme itu 
terlontar dari seorang ibu rumah tangga di Bintaro, Jakarta Selatan. Ia memang 
pantas gelisah. Pasalnya, satu demi satu benteng pertahanan pangan bangsa ini 
runtuh. Padahal, 19 tahun lalu ada kenangan manis yang dirasakan peternak.
Ketika itu peternak sapi perah nasional menikmati kegembiraan luar biasa. Harga 
susu segar peternak rakyat dibeli oleh industri pengolahan susu (IPS) dengan 
harga 300 persen lebih tinggi dari harga semula.
Kegembiraan peternak saat itu tidak bisa lepas dari peran Menteri Muda Urusan 
Koperasi merangkap Kepala Bulog. Ketika itu pemerintah bertekad meningkatkan 
produksi susu lokal —sebagai sumber protein hewani—untuk memenuhi kebutuhan 
gizi masyarakat.
Namun apa daya, produksi susu nasional saat itu baru memenuhi 5-10 persen 
kebutuhan masyarakat Indonesia sekitar 500.000 ton susu. Ketua Dewan Persusuan 
Nasional Teguh Budiyana, Rabu (23/1), mengungkapkan, untuk mendongkrak produksi 
susu nasional, pemerintah membuat gebrakan.
Wujudnya, pada 1979-1983 pemerintah mengimpor sapi perah jenis frisian holstein 
(FH) sebanyak 80.000 ekor dari Australia dan Selandia Baru.
Dengan kebijakan peningkatan produksi susu nasional, sekali dayung pemerintah 
mendapat banyak keuntungan, yakni peningkatan kesejahteraan peternak, 
kebangkitan ekonomi pedesaan, pengembangan industri minuman, dan peningkatan 
gizi masyarakat. Sementara pengangguran dapat ditekan.
Setelah mengimpor sapi, waktu itu Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri 
Pertanian, dan Menteri Perindustrian menandatangani surat keputusan bersama 
yang mewajibkan IPS membeli susu segar jika akan impor.
Titik balik kehancuran susu berawal ketika pemerintah menandatangani letter of 
intent (LoI) dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
IPS tidak memiliki kewajiban lagi membeli susu peternak. Mereka memang 
berkomitmen untuk tetap menyerap susu petani, tapi bagaimanapun mekanisme pasar 
telah memberikan pilihan bagi industri susu untuk mengimpor susu karena lebih 
murah.
Peternak tak lagi memiliki posisi tawar kuat dan pemerintah pun tak bisa 
berbuat banyak. Peternak susu perlahan bangkrut. Produksi susu jatuh dan 
dominasi susu impor terjadi.
Ambruknya produksi susu nasional terjadi ketika peran industri susu 
multinasional semakin kuat dalam bisnis susu di Indonesia.
Krisis bahan baku susu terjadi ketika Australia dan Selandia Baru dilanda 
kekeringan tahun 2006. Produksi susu Australia sebagai pemasok utama susu ke 
pasar Indonesia turun.
Harga susu melambung, sementara pemerintah tak berdaya. Konsumen susu dalam 
negeri langsung dihadapkan pada fluktuasi harga susu dunia.
Apa yang terjadi pada susu tidak beda jauh dengan kedelai. Pemerintah 
menggenjot produksi kedelai hingga 1,8 juta ton pada 1992 dengan menjalankan 
berbagai program peningkatan produksi seperti Crash Program Pengapuran, Upaya 
Khusus Kedelai, dan Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, Jagung.
Pascapenandatanganan LoI antara IMF dan pemerintah produksi kedelai hancur. 
Petani kedelai terus berproduksi, tetapi tidak ada jaminan untung.
Setelah ”dipaksa” melepas intervensi tata niaga komoditas pertanian, pemerintah 
juga harus menurunkan bea masuk impor kedelai dari 20 persen menjadi nol persen.
Sebagai ”imbalannya”, AS mengekspor kapas ke Indonesia untuk menyelamatkan 
industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Kasus CLQ
Beberapa waktu lalu, Pemerintah AS juga menawarkan strategi serupa untuk 
memasukkan produk ayam potongan (chicken leg quarter/CLQ), seperti paha dan 
sayap ayam.
AS harus memperjuangkan ekspor CLQ ke Indonesia karena produksinya terus 
meningkat dan CLQ di AS nilai ekonomis rendah. Ekspor produk ayam AS tahun 2004 
mencapai 2,163 juta ton, 60 persen di antaranya berupa CLQ.
Negara-negara yang menjadi sasaran ekspor CLQ dari AS antara lain Rusia, 
Jepang, China, Arab Saudi, dan beberapa negara Eropa. AS perlu terus mencari 
pasar baru dan Indonesia salah satu sasarannya.
Karena itu, dalam strategi diplomasi perdagangan AS-Indonesia, CLQ selalu 
menempati ”daftar tunggu”. Persoalan CLQ selalu muncul dalam bisnis unggas di 
AS karena konsumen AS selektif.
Mereka tak mau mengonsumsi potongan ayam, seperti paha bawah dan sayap, karena 
dianggap makanan binatang.
Saat ini, peluang AS untuk memasukkan CLQ ke Indonesia muncul lagi ketika 
Indonesia terperangkap krisis kedelai. Pemerintah sendiri ”angkat tangan” 
karena tak bisa menurunkan harga kedelai jauh dari harga di pasar dunia.
Memberikan subsidi harga untuk menjamin kebutuhan kedelai lebih murah juga 
berat karena tak ada anggaran dalam APBN 2008. Dana yang dibutuhkan untuk 
meng-cover kebutuhan subsidi kedelai hingga enam bulan ke depan sekitar Rp 200 
miliar.
Sementara perajin tahu-tempe mendesak penurunan dan stabilitas harga kedelai 
agar terlepas dari kebangkrutan. Di sisi lain, AS merupakan produsen kedelai 
utama di dunia.
Kedelai yang diperdagangkan di pasar dunia sekitar 50 persennya dari AS. Karena 
itu, bukan tidak mungkin AS akan menawarkan kedelai murah ke Indonesia dengan 
mekanisme dumping untuk sekadar mencari cara agar mereka bisa memasukkan CLQ ke 
Tanah Air.
Apalagi saat ini harga produk unggas di Indonesia juga mahal akibat tekanan 
harga pakan. Melihat peluang AS itu sudah saatnya pemerintah mewaspadainya.
Apalagi kebijakan Menteri Pertanian soal impor bubur daging (mechanically 
deboned meal/MDM) yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 61 
Tahun 2007 memberi ”angin segar” bagi negara lain untuk mengimpor ayam dalam 
kondisi tidak utuh.
Padahal, dari syarat aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) yang diterapkan 
pemerintah untuk menghindari tekanan masuknya CLQ dari AS, hanya syarat ”utuh” 
yang paling ampuh.
Celah ini kalau tidak ”ditutup” rapat bisa menjadi alasan bagi AS untuk menekan 
Indonesia agar menerima CLQ dengan jaminan harga kedelai murah. Kalau itu 
sampai terjadi, satu lagi gerbang pertahanan pangan bangsa ini ambruk karena 
jutaan peternak unggas bakal bangkrut.

Kirim email ke