Oleh: Elyusra

Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK
1. Pendahuluan

Dunia pendidikan sekarang dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi
dalam pembelajaran, pada berbagai aspeknya, mulai dari visi, misi,
tujuan, program, layanan, metode, teknologi, proses, sampai evaluasi.
Bagi seorang dosen pemilihan model pembelajaran hendaknya dilakukan
secara cermat, agar pilihan itu tepat atau relevan dengan berbagai
aspek pembelajaran yang lain, efisien dan menarik. Lebih dari itu,
banyak pakar yang menyatakan bahwa sebaik apa pun materi pelajaran
yang dipersiapkan tanpa diiringi dengan model pembelajaran yang tepat
pembelajaran tidak akan mendatangkan hasil yang maksimal. Kecermatan
pilihan itu semakin penting jika kondisi yang dihadapi kurang
kondusif, seperti halnya pembelajaran teori sastra bagi mahasiswa
semester awal di LPTK.

Pengalaman belajar sastra yang telah dilalui oleh mahasiswa baru atau
mahasiswa semester satu di LPTK selama menempuh pendidikan di SLTP dan
SMA sudah banyak, namun pada kenyataannya mahasiswa kurang menguasai
konsep �konsep sastra, seperti istilah-istilah teknis sastra. Sewaktu
di SLTP dan SMA mahasiswa semester awal tadi telah memperoleh
pengalaman belajar mengungkapkan aspek estetis sebuah puisi, seperti
pola persajakan, menyatakan pendapat tentang tampilan puisi dan
variasi bunyi konsonan dan bunyi vocal yang digunakan penyair . Akan
tetapi, ketika duduk di LPTK mahasiswa tadi tidak kenal dengan istilah
unsur mental dan unsur fisik puisi. tidak mengetahui bahwa penggunaan
bunyi vocal dan konsonan tadi disebut dengan asonansi dan aliterasi
dan tampilan puisi di atas kertas yang mempesona mereka itu disebut
dengan istilah tifografi, bahkan dari pengalaman penulis pada
mahasiswa yang menyamakan tifografi dengan biografi. Kejadiannya pun
di waktu ujian tengah semester.

Baca Lanjutannya di
http://pkab.wordpress.com/2008/01/28/petakonsep-sastra

Kirim email ke