Oleh AKHMAD SAHAL
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.06.02253842&channel=2&mn=46&idx=46



Sikap kaum liberal yang menampik glorifikasi diri mungkin bisa menjadi
alternatif bagi Amerika sekarang. Kemauan untuk mengekang diri justru
pada saat Amerika mempunyai kekuatan yang tak tepermanai niscaya akan
menjadikan warga dunia menaruh hormat pada Amerika.

Pada 26 Oktober 1988 sebuah pembelaan terhadap liberalisme muncul
dalam bentuk iklan satu halaman penuh di harian The New York Times.
Iklan bertajuk "Reaffirmation of A Principle" itu ditandatangai oleh
63 intelektual dan tokoh publik terkemuka, di antaranya Arthur
Schlesinger, Irving Howe, John Kenneth Galbraith, Clifford Geertz,
Robert K Merton, dan George Soros. Melalui iklan ini, mereka
menyerukan agar Amerika mengukuhkan kembali pertautannya dengan
liberalisme, di tengah ancaman yang datang dari ekstrem kiri dan kanan
yang menempatkan liberalisme sebagai musuh bersama. Padahal, di mata
para intelektual tersebut, prinsip-prinsip liberal seperti kebebasan
dan hak-hak sipil merupakan jiwa dari revolusi dan konstitusi Amerika.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi alasan mengapa "warga dunia
menaruh hormat terhadap Amerika".

Meski terbit dua dasawarsa yang lalu, seruan iklan tersebut terasa
semakin relevan belakangan ini, ketika Amerika terlibat dalam perang
melawan terorisme. Karena dalam usahanya memerangi musuh yang mereka
anggap mengancam tatanan liberalnya, Amerika justru menempuh cara-cara
yang justru mencederai prinsip liberalisme itu sendiri. Pelanggaran
terhadap hak-hak dan kebebasan sipil pada masa pemerintahan George
Bush, misalnya, tercatat mencapai skala yang menurut Arthur
Schlesinger terparah dalam sejarah kepresidenan Amerika secara
keseluruhan. Kamp penahanan Guanatanamo Bay, kebrutalan di penjara Abu
Ghraib, dan pemberlakuan Patriot Act hanyalah sekian contoh yang bisa
disebutkan di sini. Sementara itu, Amerika jelas melanggar hukum
internasional ketika menggelar Perang Irak, yang ternyata terbukti
ditopang oleh dusta yang berlapis-lapis dan sekarang semakin tampak
kehilangan tujuan.

Mengapa ini terjadi? Ketika sekelompok teroris menabrakkan pesawat ke
gedung kembar di New York, publik Amerika, dengan mengikuti Bernard
Lewis, bertanya, apa yang salah dengan Islam. Kini setelah apa yang
terjadi di Irak, kita perlu bertanya balik, apa yang salah dengan Amerika.

Merayakan keagungan Amerika

Akar masalahnya terletak pada bagaimana Amerika melihat diri sendiri
dan memersepsikan musuhnya. Perang Amerika melawan terorisme bertolak
dari apa yang lazim dikenal dengan "Doktrin Bush" (perang pre-emptive,
unilateralisme, dan ekspor demokrasi ke seluruh jagat). Acuan doktrin
adalah semacam kejelasan moral: Amerika merepresentasikan pihak yang
benar dalam pertempuran melawan yang batil. Oleh karena itu, Amerika
tak akan segan-segan menggunakan kekuatan militernya demi menyebarkan
nilai-nilai Amerika yang berwatak universal, seperti demokrasi dan
kebebasan, ke seluruh jagat, sampai kekuatan gelap di dunia terkalahkan.

Yang segera terasa dari keyakinan ini adalah manikeanisme moral yang
sepenuhnya hitam putih, dikombinasikan dengan pandangan tentang
keagungan diri, dan misi revolusioner untuk membentuk dunia
berdasarkan gambaran sendiri. Pandangan semacam ini mungkin saja
terkait dengan persepsi pribadi George W Bush, Kristen new born yang
membelah dunia berdasar dikotomi kekuatan Tuhan dan kekuatan setan.
Tetapi, menurut saya, manikeanisme moral ini bukan semata-mata soal
opini pribadi seorang presiden karena jejaknya bisa kita temukan dalam
gerakan neokoservatisme, yang pengaruhnya dalam kebijakan luar negeri
Amerika sangat kentara dalam dua dekade terakhir.

Akan tetapi, neokonservatisme bukanlah melulu soal politik luar negeri
Amerika mutakhir. Riwayat hidup gerakan ini sebetulnya bermula pada
tahun 1960-an, khususnya pada masa Perang Vietnam. Neokonservatisme
dirintis oleh Irving Kristol pada tahun 1960-an sebagai perlawanan
terhadap maraknya gerakan Kiri Baru dan Counterculture di Amerika.
Kristol suatu kali menggambarkan sosok neokonservatif sebagai a
liberal mugged by reality, sosok liberal yang dibegal oleh kenyataan.
Kristol merasa dibegal oleh kenyataan karena ia masygul demi melihat
Kaum Kiri Baru yang menyebarkan kecurigaan, bahkan sinisme terhadap
Amerika sehubungan dengan katastrofi Perang Vietnam. Kristol juga
resah melihat kalangan muda Amerika saat itu yang dikuasai oleh
relativisme moral dan hedonisme. Karena itu, ia kemudian bercerai dari
liberalisme dan merintis neokonservatisme.

Dalam arti tertentu, Perang Vietnam adalah semacam batas air bagi
Amerika. Sebelumnya, Amerika dicitrakan sebagai lambang progresivisme,
tempat eksperimen demokrasi dan cita-cita pencerahan bisa tumbuh
subur. Padahal, di tanah kelahirannya di Eropa, pencerahan sempat
terancam punah akibat Perang Dunia dan naiknya fasisme dan
totalitarianisme. Bukan tanpa alasan kalau Amerika lantas dijuluki the
last best hope of mankind.

Namun, katastrofi Perang Vietnam, plus kemelut di dalam negeri seperti
rasialisme, meruntuhkan optimisme tersebut. Di kalangan para penyokong
Kiri Baru dan Counterculture, Amerika bukanlah lambang bagi
progresivisme. Sebaliknya, ia justru menjadi contoh sempurna dari
fenomena repressive tolerance, untuk meminjam istilah Herbert Marcuse,
filosof aliran Mazhab Franfurt yang menjadi idola gerakan Kiri Baru.
Yakni, situasi ketika demokrasi, kebebasan berekspresi, dan toleransi
yang tadinya berwatak membebaskan kini menjelma menjadi instrumen yang
dimanfaatkan oleh pihak elite penguasa, the Establishment, untuk
membungkam suara-suara radikal yang menghendaki perubahan sejati. Di
mata mereka kebijakan Amerika di Vietnam dan dukungannya terhadap
rezim-rezim diktator di Asia dan Amerika Latin dalam melawan komunisme
membatalkan gambaran progresif Amerika sama sekali. Amerika tak lebih
dari negeri yang dikuasai oleh hasrat imperial, yang eksploitatif dan
reaksioner.

Nah, neokonservatisme adalah sebentuk perlawanan terhadap sinisisme
dalam melihat Amerika yang disebarkan oleh gerakan Kiri Baru. Dalam
pandangan Kristol, sinisisme semacam itu berbahaya karena bisa
menularkan virus keraguan-diri yang dengan mudah menjelma menjadi
simpati terhadap pihak musuh. Akibatnya, mereka menjadi relativis yang
tidak mampu membedakan kawan dan lawan.

Demikianlah, sejak akhir tahun 1960-an, Kristol, melalui jurnal Public
Interest yang ia pimpin, dengan gigih memberikan pembelaan moral
terhadap kapitalisme demokratik seperti yang berkembang di Amerika
karena, menurut dia, itulah satu-satunya sistem yang konsisten dengan
kebebasan manusia. Bagi Kristol, tidak ada alasan untuk meragukan
superioritas moral Amerika karena ia ditakdirkan sebagai teladan bagi
dunia, sebagai "kota di atas bukit."

Sementara itu, sekondan Kristol bernama Norman Podhoretz, melalui
majalah Commentary, lebih mencurahkan diri pada penghujatan terhadap
musuh Amerika saat itu, yakni rezim komunis Uni Soviet. Di mata
Podhoretz ancaman komunisme bukan hanya menyangkut isu keamanan
nasional, melainkan juga moral karena baginya, komunisme adalah
ideologi totalitarian yang batil. Pandangan semacam ini kemudian
menjadi begitu dominan ketika Ronald Reagan berkuasa. Reagan bahkan
memopulerkan sebutan Uni Soviet sebagai evil empire.

Setelah komunisme tumbang, kaum neokonservatif getol mendesakkan
perlunya Amerika tampil sebagai pemimpin global, sebagai sang
benevolent hegemony. Ini tecermin dalam proyek mereka yang dikenal
dengan "Project for the New American Century" (PNAC). Ini adalah
tangki pemikiran neokonservatif yang berdiri tahun 1997 dan
dikomandani oleh William Kristol dan Robert Kagan. Dalam pandangan
mereka, Amerika praktis menjadi superpower tunggal yang tak tepermanai
di muka bumi. Dengan posisi seperti ini, Amerika perlu mengoptimalkan
kekuatan militer dan politiknya untuk meneguhkan posisinya sebagai
teladan moral bagi dunia. Bukankah Amerika adalah negara yang berdiri
di atas nilai-nilai moral universal? Atas dasar itu, kaum neokons
kemudian merayakan apa yang mereka sebut sebagai "Abad Amerika".

Menariknya, meskipun kalangan neokons melantunkan sikap antipati yang
militan terhadap komunisme, semangat misionaris mereka dalam
menyebarkan demokrasi merupakan adopsi dari ide tokoh komunis Leon
Trotsky tentang "revolusi permanen", yang intinya adalah menyebarkan
sosialisme ke seluruh jagat melalui revolusi tanpa henti. Kaum neokons
mengambil oper gagasan Trotsky dan mengganti "sosialisme" dengan
"demokrasi".

Keyakinan tentang Abad Amerika semakin diperkokoh setelah serangan 11
September. Dalam Terror and Liberalism, Paul Berman mengklaim bahwa
perang melawan terorisme bukanlah bentrok antara Islam melawan Barat,
bukan fenomena clash of civilizations, melainkan perang antara
liberalisme dan musuh lamanya, yang pernah dihadapinya di Eropa awal
abad lalu, yakni fasisme dan totalitarianisme. Hanya saja kali ini
sang musuh tampil dengan wajah Islam.

Berman menandaskan, ideologi radikal di Timur Tengah, baik itu yang
sekuler seperti Ba'athisme maupun yang religius seperti Islamisme
mengandung ciri-ciri DNA yang mirip dengan Nazisme, fasisme Mussolini
dan Stalinisme. Fasisme dalam hemat Berman terdiri dari dua hal pokok:
pemurnian masyarakat dari unsur-unsur yang dianggap mencemarinya, dan
glorifikasi terhadap kematian. Itulah yang tampak pada Nazisme. Dan
itulah yang juga terlihat pada Al Qaidah dan gerakan radikal Islam
lain yang mengadopsi pemikiran Sayyed Quthb. Menurut Berman, ide Quthb
tentang pemurnian masyarakat Islam dari Jahiliyyah modern dan
konsepnya tentang jihad hanyalah variasi atas tema yang sama yang dulu
menjadi ciri fasisme di Eropa.

Oleh sebab itu, untuk mengalahkan Islamofasisme, Amerika harus
memperlihatkan militansi dan ketegasan dalam menarik garis antara
kawan dan musuh. Contoh ideal dalam hal ini adalah Churchill, yang
memilih sikap konfrontasi total dalam melawan Hitler. Cara-cara lunak
seperti dialog, diplomasi, atau menggandeng PBB adalah simtom dari
sikap lembek dalam menghadapi musuh. Dalam bahasa Norman Podhoretz,
perang melawan Islamofasisme adalah "perang dunia keempat", yang
menuntut penggunaan jalan militer sebagaimana dalam perang dunia
sebelumnya.

Tapi, di sinilah justru letak soalnya. Kasus Irak membuktikan bahwa
optimisme yang berlebihan terhadap kekuatan jalan militer sebagai
sarana menyebarkan demokrasi dan kebebasan terbukti hanyalah waham
yang gegabah. Anjuran neokons agar Amerika memosisikan diri benevolent
hegemony tidak lain adalah dalih bagi imperialisme yang pasti
ditentang publik dunia. "Abad Amerika" justru terdengar ironis karena
sekarang anti Amerikanisme beredar di mana-mana.

Itulah sebabnya, Francis Fukuyama, salah satu pentolan
neokonservatisme, menyatakan bercerai dari lingkaran grup ini. Ia
mengibaratkan hubungan dirinya dengan neokons seperti hubungan antara
Marx dan Lenin. Marx berteori tentang komunisme sebagai tahap akhir
dari sejarah perjuangan kelas, dan Lenin yang tidak sabar mempercepat
proses menuju komunisme melalui revolusi. Hasilnya kemudian adalah
komunisme Soviet yang totalitarian. Begitu juga antara Fukuyama dan
kalangan neokons. Fukuyama berteori tentang "akhir sejarah", yakni
proses ketika pada akhirnya demokrasi liberal yang akan menang.
Kalangan neokon mengimani teori Fukuyama, tapi tidak sabar dan
mempercepat prosesnya melalui kekuatan militer. Akibatnya adalah
katastrofi seperti terjadi di Irak sekarang.

Liberalisme dan Amerika yang lain

Sayangnya, sekarang ini kisah tentang perang melawan terorisme yang
dipertontonkan Amerika hanyalah versi yang disutradarai oleh kaum
neokons. Padahal, Amerika punya cerita lain yang bisa menjadi
alternatif, yakni liberalisme pada awal Perang Dingin seperti
ditunjukkan oleh Reinhold Niebuhr, George Kennan, dan Arthur Schlesinger.

Pada masa itu kaum liberal Amerika menghadapi ancaman dari kekuatan
totalitarian Uni Soviet. Namun, berbeda dengan neokons yang betolak
dari pemujaan keagungan dan kekuatan Amerika, kaum liberal justru
berangkat dari kecemasan akan pemujaan semacam itu. Jika kalangan
neokons cemas kalau bangsa Amerika tidak lagi mampu melihat kebesaran
Amerika, maka kalangan liberal Perang Dingin justru cemas kalau mereka
hanya melihat kebesaran sendiri.

Kaum liberal juga menggambarkan Amerika secara berbeda. Barangkali
Amerika memang sedang memerangi kekuatan jahat. Tapi, tidak berarti
lantas otomatis ia merepresentasikan kekuatan baik. Keunggulan
nilai-nilai Amerika atas musuhnya bukanlah sesuatu yang muncul hanya
karena diujarkan, melainkan mesti diuji dalam kenyataan. Amerika bisa
lulus, tapi juga bisa gagal dalam ujian itu. Karena itu, kaum liberal
saat itu menekankan pentingnya Amerika mengekang kekuatannya.

Dalam pidatonya beberapa saat setelah berdirinya PBB, Harry Truman,
Presiden Amerika saat itu, menyatakan, "Kita semua harus mengakui,
betapapun hebatnya kekuatan kita, kita tidak punya lisensi untuk
melakukan apa saja yang kita maui". Pada kali lain, George Kennan,
arsitek kebijakan Truman dalam urusan Uni Soviet, menekankan
ke-bisa-salah-an (fallibility) sebagai dasar kenapa Amerika perlu
menahan diri. "Betapapun", kata George Kennan, "ada benih
totalitarianisme yang bersemayam dalam diri setiap kita."

Di sini perlu dicatat peranan Reinhold Niebuhr, teolog Protestan
kelahiran Jerman, yang pandangan keagamaannya punya pengaruh kuat di
kalangan liberal saat itu. Kennan menyebutnya sebagai father of us all
(bapak bangsa?). Pandangan Niebuhr yang lazimnya disebut "realisme
Kristen" kira-kira demikian: "Kita adalah hamba Tuhan yang berdosa.
Tapi, itu tidak menjadikan kita bebas dari tugas untuk melawan
kejahatan di dunia. Dosa membikin kita untuk selalu rendah hati dan
tidak merasa lebih unggul dibanding yang lain. Tapi, tugas memerangi
kejahatan membikin kita tidak kehilangan harapan akan masa depan yang
lebih baik". Realisme Kristen, dengan kata lain, adalah pleidoi
tentang manusia yang terbatas. Oleh sebab itu, dalam mengemban tugas
untuk berjuang melawan kezaliman, ia perlu menyadari bahwa dirinya
punya peluang untuk menjadi zalim.

Pandangan tentang keterbatasan diri sendiri pada gilirannya berimbas
pada bagaimana musuh direpresentasikan. Niebuhr, misalnya, sependapat
bahwa Amerika perlu melawan komunisme. Tapi, ia buru-buru mengingatkan
dalam melawan komunisme, Amerika punya peluang untuk tidak adil.
Karena itu, Amerika mesti waspada dengan ilusi tentang keagungan dan
kesempurnaan diri, karena semua itu akan bermuara kepada absolutisme.
Niebuhr mewanti-wanti Amerika agar jangan sampai meniru jejak
absolutisme musuhnya.

Arthur Schlesinger, sejarawan pemenang Hadiah Pulitzer sekaligus juga
intelektual yang pernah menjabat sebagai asisten John F Kennedy, suatu
kali pernah menyatakan bahwa liberalisme tidak lain adalah versi
sekuler atas pemikiran keagamaan Niebuhr. Ide-ide Niebuhr berimpit
dengan liberalisme dalam satu ihwal: penghargaan terhadap ironi dan
paradoks manusia.

Sikap kaum liberal yang menampik glorifikasi diri mungkin bisa menjadi
alternatif bagi Amerika sekarang. Kemauan untuk mengekang diri justru
pada saat Amerika mempunyai kekuatan yang tak tepermanai niscaya akan
menjadikan, meminjam iklan liberalisme di The New York Times, "warga
dunia menaruh hormat pada Amerika".

AKHMAD SAHAL Mahasiswa Program Doktor Universitas Pennsylvania dan
Peneliti Freedom Institute

Kirim email ke