Apakah benar Indonesia miskin imajinasi?
Apakah ini berarti kita kaya raya dengan nostalgia
(djaman doeloe) dan impian manis siang bolong?

Bagaimana kita ini kok tak bisa seperti HK, Taiwan,
Singapore, Dubai, Ireland yang kaya vision, imajinasi
dan buaanyak punya futurelogist yang mendesign
masa depannya?

Nostalgia dan seribu mimpi di siang bolong tak akan
pernah membantu hari ini dalam hidup kita.
Kita perlu bangun, ngopi dan sarapan lantas mulai
back in action bagaikan Rambo....
Are you ready?

Salam
Las

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Indonesia Miskin Imajinasi
 
 
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.26.01570393&channel=2&mn=12&idx=12
 
 Jakarta, Kompas - Bangsa Indonesia saat ini mengalami pemiskinan
 imajinasi. Akibatnya, gambaran tentang bangsa ini ke depan menjadi
 sulit dirumuskan dan yang muncul hanya pemikiran-pemikiran tentang
 teknologi demokrasi, seperti pemerintahan yang baik dan berwibawa,
 pemberantasan korupsi, atau pergantian pimpinan.
 
 Demikian disampaikan sejarawan Hilmar Farid dalam diskusi bulanan yang
 membahas pemikiran filsuf-aktivis Castoriadis di Kantor Perhimpunan
 Pendidikan Demokrasi di Jakarta, Senin (25/2).
 
 "Untuk menumbuhkan imajinasi harus ada ruang bagi kreativitas
 masyarakat dan sejarah. Harapan dan pemaknaan setiap orang atas sebuah
 peristiwa harus dihargai," kata Hilmar.
 
 Langkah itu harus dilakukan, lanjut Hilmar, karena pemiskinan
 imajinasi terjadi sebagai akibat dari sikap represif Orde Baru. Rezim
 itu tidak hanya membungkam pemikiran kritis tetapi juga berhasil
 menguasai imajinasi warganya. Akibatnya, sebagian masyarakat sekarang
 masih ada yang menerima pemikiran rezim tersebut, seperti pelanggaran
 hak asasi manusia (HAM) kadang dibutuhkan demi menjaga stabilitas.
 
 Secara terpisah, guru besar Universitas Airlangga Soetandyo
 Wignjosoebroto menuturkan, miskinnya imajinasi ini juga dikarenakan
 bangsa Indonesia ter- lalu asyik berpikir tentang masa lampu yang
 sebenarnya lebih banyak diisi dengan cerita kekalahan.
 
 "Saya ingat pendapat budayawan Sutan Takdir Alisyahbana yang
 mengatakan modernisasi berarti melihat ke depan. Masa lampau hanya
 perlu dijadikan sebagai pelajaran agar kesalahan yang pernah terjadi
 tidak kembali terulang," papar Soetandyo.
 
 Masalahnya, bangsa Indonesia juga tidak selalu bersedia belajar dari
 masa lampau. Ini terlihat dari belum diungkapnya sejumlah kasus
 pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di masa lampau.
 
 "Akibatnya, perjalanan bangsa kadang seperti ahistoris dan tanpa
 arah," katanya. (NWO)
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke