Setuju ......

Kalau bisa berlaku seluruh Indonesia ..............ikut.
Kalau Imlek ....yg milik China aja kita ikut seluruh Indonesia Libur , Kenapa 
tidak hari Nyepi milik bagian dari RI ini kita adopsi berasama sama . Tapi 
jangan Protes dulu....emang kita beda2 agama ...tetapi esensinya itu lo yg kita 
ambil......

Coba bayangkan ......sehari penuh ......Jakarta bisa sepiiiiiiiiiii, Surabaya 
sepi........., Bandung sepi........ihhh asik kan
Malam harinya .....semua lampu dipadamkan ..........bisa dongeng ke anak2 
kancil nyolong timun , atau Sarip tambak Yoso , daripada lihat sinetron tok 
....dan pilm pilm barat.......kan enak .....gelap...sepi......sambil dengerin 
suara jangkrik.....dan kodok ......he he he asyikkkk....

Coba kalau Gus Dur masih Presiden ........ehm ehm....pasti setuju itu .....

Salam


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf 
Of Agus Hamonangan
Sent: Thursday, March 06, 2008 9:59 AM
To: [email protected]
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Nyepi dan Istirahat Alam

Oleh IGN Sudiana
HYPERLINK 
"http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.02042893&channel=2&mn=158&idx=158"http://www.kompas.-co.id/kompasceta-k/read.php?-cnt=.xml.-2008.03.06.-02042893&-channel=2&-mn=158&idx=-158

Umat Hindu di Indonesia kembali merayakan Nyepi, catur beratha
panyepian. Mereka tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja
(amati karya), tidak menikmati hiburan dan kesenangan (amati
lelanguan), tidak menyalakan api (amati geni).

Di Bali, yang sebagian besar penduduknya memeluk Hindu, catur beratha
panyepian menjadi pemandangan dramatis. Selama 24 jam, Pulau Bali
menjadi �EUR�pulau mati�EUR�. Jalan-jalan sunyi. Tak ada aktivitas di 
Bandara
Ngurah Rai, Pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai. Sunyi. Pada malam hari,
Bali menjadi pulau gulita, kecuali di rumah sakit, keluarga yang punya
bayi, ditoleransi boleh menyalakan lampu seadanya.

Istirahat total

Selama ratusan tahun, umat Hindu di Bali merayakan catur beratha
setahun sekali, alam perlu diberi istirahat total satu hari dari
eksploitasi 412 hari menurut tahun Saka atau 0,24 persen dari total
waktu setahun. Meski hanya 0,24 persen, catur beratha panyepian
menjadi rem yang secara simbolis mengingatkan manusia agar tidak
serakah, tidak mengeruk sumber daya alam melampaui batas toleransi
yang bisa menimbulkan bencana.

Peringatan ini kian penting karena nyatanya manusia telah
mengeksploitasi alam melampaui batas kelestarian ekologis, sampai
timbul perubahan iklim yang signifikan, disertai sejumlah bencana yang
merusak infrastruktur dan merenggut nyawa. Kompetisi memperebutkan
sumber daya alam dan energi bahkan menimbulkan perang antarnegara
dengan kerugian sosial budaya maupun ekonomi.

Maka, ketika pada Desember 2007 sejumlah negarawan maupun politisi
berbagai negara peserta Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim berkumpul
di Nusa Dua, Bali, sejumlah aktivis lingkungan hidup, termasuk Pedanda
Sebali Tianyar Arimbawa yang Dharma Adhyaksa Sabha Panditaa Parisada
Hindu Dharma Indonesia (PHDI)�EUR"pemimpin tertinggi majelis umat Hindu
se-Indonesia�EUR"coba menggunakan momentum itu untuk mengusulkan agar
mengadopsi spirit perayaan nyepi dengan perayaan World Silent Day:
jeda global dalam sehari.

Dari segi bisnis, jeda sehari bisa mengurangi produksi dan keuntungan,
tetapi mampu menghemat jutaan ton bahan bakar minyak bumi dan sumber
energi lain. Yang tidak kalah penting, paru-paru bumi berkesempatan
istirahat dari jutaan ton polutan semacam CO>sub<2>res<->res<.
Sebaliknya, produksi jutaan ton O>sub<2>res<->res< menyegarkan
paru-paru dunia dan memperbaiki lingkungan hidup tempat manusia
melangsungkan kehidupan.

Gema usulan itu tenggelam di antara hiruk-pikuk perundingan delegasi
negara-negara kuat yang berbeda-beda kepentingan. Bahkan, para
cendekiawan dari Indonesia�EUR"termasuk dari Bali�EUR"tidak semuanya sepakat
memperjuangkan hal ini. Karena itu, jangankan menjadi rekomendasi,
usulan mulia itu belum bisa menjadi materi yang diagendakan untuk
dibahas mengingat padatnya jadwal sidang dan kompetisi di antara
delegasi yang mengusung materi masing-masing.

Belum meresap

Meski gagal memasukkan spirit nyepi sebagai rekomendasi di Konferensi
Perubahan Iklim PBB, ini bukan berarti kiamat. Umat Hindu di Bali
tetap melaksanakan catur beratha panyepian. Hanya, patut disayangkan,
spirit catur beratha panyepian belum meresap dalam perilaku penguasa
dan penyelenggara negara. Fakta kuat yang tidak bisa dibantah adalah
bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di
sana-sini beberapa tahun belakangan ini menimbulkan beban anggaran
amat berat disertai lambannya penanganan pemerintah.

Penyebab bencana berlarut-larut ini adalah pembalakan hutan
besar-besaran, sementara penegakan hukumnya lemah serta penegak hukum
yang korup dan bisa dibeli. Pembalakan hutan ini juga menimpa
hutan-hutan di Bali, seperti Taman Nasional Bali Barat yang sudah
rusak parah dan hingga kini tidak terdengar adanya penegakan hukum
bagi pelaku.

Maka, agar catur beratha panyepian tak sekadar wacana dan perayaan
ritual, bersama umat Hindu dan masyarakat, dirasa perlu mengingatkan
penyelenggara negara, khususnya, bagaimana spirit dari ritual nyepi
memberi bobot pragmatis pada perilaku mereka agar mengeluarkan
kebijakan dan keputusan politik yang sejalan dengan kepentingan rakyat
akan kesejahteraan dan berjalan di atas hukum.

Jika pada Konferensi Perubahan Iklim PBB 2007 turun seorang tokoh
seperti Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa yang notabene Dharma Adhyaksa
Sabha Pandita PHDI Pusat, ini ibarat para pandita seperti Kripacarya,
Bhagawan Bhisma, Bhagawan Drona, dan lainnya turun di medan perang
Bharatayuda untuk menegakkan kebenaran yang dizalimi Kurawa. Terhadap
kerusakan alam dan lingkungan di Indonesia yang begitu parah, sudah
saatnya para pandita �EUR�turun gunung�EUR� seperti �EUR�resi-resi 
yang turun
gunung�EUR� mengingatkan penguasa yang tidak mampu melindungi kelestarian
Ibu Pertiwi. Bila perlu, �EUR�mengangkat panah�EUR� seperti Bhisma, 
Drona, dan
lainnya.

Maka, nyepi hendaknya tak sekadar berhenti sebagai ritual, apalagi
dipandang sebagai komoditas pariwisata eksotik yang mengundang devisa.
Namun, hendaknya ia menjadi momentum dan simbol dari kesadaran untuk
mengendalikan nafsu-nafsu duniawi dan merawat alam semesta untuk
kelestarian kehidupan manusia.

IGN Sudiana Ketua PHDI Provinsi Bali; Dosen di Institut Hindu Dharma
Negeri (IHDN), Denpasar

Kirim email ke