saya selalu membayangkan bhw yg harus kiita ekspor adalah hasil industri kita, bukankekayaan alam kita..
jadijadikanlah batu bara dan gas , sebagai sumber energi utk memproduksi di Indonesia.. intinya.., semua bahan mentah dan bahan energi digunakan di dalam negeri dan produk olahan benrilai tambahlah yg kita ekspor. jangan seperti sekarang PLN kekurang listrik , krn minta gas nggak dikasish..., pabrik pupuk tutuip krn nggak dikasih gas.. kita cari PLTN segala.. padahal dgn memanfaatkan batu bara .. kit abisa bikin PLT yg murah. pencemaran krn batu bara .?? . ah jangan kebanyakan idealis .., Cina dan Amerika yg lebih banyak mengotori dunia dari sumber enegi spt batu bara,,maishterus meningkatkan impor batu baranya.. kita kan ngotori dunua dgn kebakaran hutan. solusinya bukan pltn dan kurangi batu bara .., tapi kurangi kebakaran hutan/. bukan jual rotan mentah ... tapi juallah mebel dr rotan. bukan jual sumber energi, tapi biarlah investor datang ke indonesia.. ,karena disini ada keunggulan banyak energi tersedia dan murah utk mengolah kekayaan Indonesia .. yang bisa dia jual ke luar negeri.. Masih ingin.. jual batu bara dan gas ..??? , dan saya percaya bhw menyamakan dgn jual sawah sama sekali nggak relevan..... yang pasti negara ini miskin terus.. karena kebanyakan jual kekayaan alam mentah..termasuk batubara dan gas nya .. lucu ekspor gas .. sementara impor haisl pertanian.., kalau Arab/... ya mau bertani apa ??? harusnya industri kayu, perikanan makanan.., karet , bukan mentahnya yg dijual... jadinya..dan undanglah investor ..dgn jaminan antara lain ketersediaan bhn energi yg cukup dan murah.dan eksporlah... produk benilaitambah.., malahan bahan baku yang kurang didalam negeri itulah yg harus diimpor... Salam Haniwar At 04:16 PM 11-03-08, you wrote: >Itu sebenarnya hanyalah perumpamaan saja. Rakyat Indonesia masih >lebih tergiur dengan janji-janji BBM murah dan Listrik murah, mereka >tidak terlalu peduli bahwa BBM murah dan Listrik murah bisa diberikan >dengan cara ekspor gas dan batubara (jual sawah). > >Jadi kalau ada yang mengusung agenda STOP EKSPOR BATUBARA DAN GAS, >apakah laku dijual saat kampanye Pemilu 2009? Karena kalau di-stop, >artinya mengurangi pemasukan (dana subsidi berkurang/tidak cukup). >Itu yang terjadi pada tahun lalu (2007) saat harga minyak dunia >menembus 80 dollar, Pemerintah masih tenang-tenang saja dengan alasan >kalau dihitung juga dengan kenaikan harga komoditas lainnya (gas, >batubara, dll), katanya masih surplus. Apa jadinya kalau gas dan >batubara tidak boleh di-ekspor? Sedangkan harga minyak sudah menembus >108 dollar per barel padahal AS sudah melewati musim dingin (demand >akan minyak menurun). Apa masih bisa teriak STOP EKSPOR BATUBARA DAN >GAS kalau harga minyak sudah tembus 120 dollar bulan Mei nanti? > >Best Regards, >Rudyanto
