Oleh EDNA CAROLINE PATTISINA
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.12.00411815


Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima
kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita
mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa
memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di
papan tulis.

Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia
menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan.
Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet
itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya,
apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.

Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa
SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han
di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya.
Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa
mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala.

Bercakap-cakap dengan dia atau melihatnya beraksi mengajar anak-anak
dari sekolah Pelita Harapan, Kanisius, St Ursula, BPK Penabur, atau
Bina Bangsa, orang acap kali lupa ia seorang tunanetra. Selalu ada
sesuatu yang ingin ia bagikan dengan orang lain. Ia bahkan menolak
memakai kacamata untuk menutupi matanya yang kisut.

”Saya memang buta, lalu kenapa? Buat saya, ini sama dengan kalau orang
lain yang kena sakit jantung atau ginjal, ya, saya kebagian buta,”
katanya bersemangat.

Orientasi waktu

Awal Oktober 1987 Ing Han yang ketika itu bekerja pada perusahaan
Frisian Flag hendak mengambil koran di depan rumah. Pria yang
sebelumnya tak pernah berkacamata ini terkejut karena ia tak bisa
membaca koran. Mata kirinya tidak bisa melihat sama sekali, sedangkan
mata kanan kabur berat. Ia sempat dirawat sebulan lebih di RS Mata
Aini, Jakarta, sebelum dokter di Singapura menjatuhkan vonis. Saraf
mata Ing Han rusak total.

Sampai di sini, dia tiba pada pertanyaan yang sering diteriakkan anak
manusia kepada Tuhan dengan kepedihan dan ketidakmengertian. Dua tahun
Ing Han hanya duduk di kursi tamu rumahnya, mencari jawaban
pertanyaan: ”Tuhan, mengapa? Kenapa saya? Hidup saya lurus, apa salah
saya? Saya tidak main perempuan, tidak pemabuk, kerja pun lurus-lurus
saja,” ujarnya.

Tak sedikit orang yang berkunjung dan memberinya nasihat. Kalimat
seperti ”Tuhan mencoba tak lebih dari kekuatan kita” berulang kali
didengar Ing Han. Begitu seringnya kalimat itu ia dengar, sampai
menjadi ungkapan kosong yang saat itu dia tanggapi dengan apatis.
”Ngomong, sih, gampang. Coba mereka yang merasakan...,” katanya.

Hal paling menyedihkan bagi Ing Han sebagai tunanetra adalah
kehilangan orientasi waktu. Semua hal yang saat dia bisa melihat
terasa sederhana, seperti matahari terbit dan tenggelam, tiada lagi.
Padahal, ia ingin tahu waktu supaya bisa mendengarkan siaran radio
yang menjadi satu-satunya penghubung dengan dunia luar.

Setiap hari ia dihadapkan pada pertanyaan: setelah sarapan, lalu apa?
Ia tak bisa lagi bekerja di kantor, membaca buku, atau jalan-jalan.
Setiap hari ia hanya duduk dan merasa marah, mengapa ia jadi tunanetra?

Namun, realita tidak bisa menunggu. Benturan pada kenyataan membuat
Ing Han harus bangkit. Gugatannya kepada Tuhan menjadi tak penting
lagi. Ia harus menerima keadaan.

”Saya harus terima. Itu saja. Percuma saya ngeributin Tuhan ada atau
enggak. Terima saja. Yang jelas, besok saya dan istri harus makan,”
kata suami dari Sri Handayani Soeganda, seorang ibu rumah tangga, ini.

Setelah itu, beberapa titik cerah mulai tampak. Tahun 1989, lewat
rentetan kebetulan, ia berhasil mendapatkan jam tangan khusus untuk
tunanetra sehingga menyelesaikan masalahnya tentang orientasi waktu.
Saat itulah ia menangis dan berdoa, ia percaya Tuhan itu ada.

Pantang menyerah

Semangatnya yang pantang menyerah membuat dia malah merasa bersyukur.
Ing Han menyadari ia sebenarnya telah dipersiapkan menghadapi
keadaannya kini. Dulu, ketika bersekolah di Salatiga, juara sekolah
selalu di tangannya.

Profesi sang ayah sebagai guru membuat ia terbiasa hidup
berkekurangan. Kondisi ini membuat Ing Han harus menopang hidup dengan
memberi les privat selama ia berkuliah di Institut Teknologi Bandung.

”Saya teringat masa itu. Biarpun menjadi tunanetra, saya bisa
memberikan les privat. Saya masih ingat semua rumus-rumus pelajaran
(Matematika dan Fisika) itu,” katanya.

Ia mulai dari sekitar kompleks. Dengan sepeda, istrinya mengedarkan
selebaran berisi jasa les privat di sekeliling kompleks perumahan
mereka. Tiga murid pertama berhasil mereka dapatkan. Saat itu Ing Han
belum berani mengakui kalau buta. Ia meminta murid membacakan soal,
dengan alasan matanya rabun.

Hingga kini cara itu tetap dipakai walau Ing Han tidak lagi menutupi
keadaan sebenarnya. Sehari-hari, kalau menemui masalah, ia langsung
membongkar buku-buku lama dari masa dia SMP dan SMA, lalu meminta
istrinya membacakan.

Untuk membantu pengajaran, dibuat tabel seperti Bilangan Berpangkat,
bagan seperti Proyeksi serta Jarak dan Gradien, yang digantung di
ruang tamu rumahnya, tempat dia mengajar.

Dari teman-temannya yang guru, ia memiliki koleksi soal-soal ujian
terbaru. Cerita Ing Han, dalam menangani murid yang penting adalah
kesan pertama. Pada pertemuan awal ia langsung ”menjatuhkan” mental
murid agar mereka percaya kepadanya dan tak berpikir ”orang buta itu
tahu apa?”

Ing Han menyemangati diri dengan semboyan dari Napoleon Bonaparte,
”Tak ada kata tidak bisa dalam kamus hidup.”

Menjadi tunanetra tak berarti kecemerlangan pikiran terbengkalai.
Kemampuan itu justru membuat dia dapat mandiri. Ia juga bisa membantu
orang lain, seperti guru-guru yang meneleponnya saat mereka kesulitan
memecahkan soal hingga anak loper koran yang ia beri les privat dengan
tarif diskon.

Untuk mereka yang mengalami masalah kebutaan, beberapa kali Ing Han
ikut acara berbagi untuk memberi semangat, baik lewat radio maupun
pertemuan, di Lembaga Daya Dharma yang berkantor di Gereja Katedral,
Jakarta.

Meski tunanetra, Ing Han tetap sibuk. Ia memberi les privat kepada 17
siswa. Bahkan, hari Minggu ia bekerja mulai dari pukul 08.00 sampai
18.00. Dia pun kini tengah berusaha memecahkan problem matematika
klasik, yakni membagi sudut apa pun menjadi tiga sama besar. Untuk
itu, selain bertemu dengan seorang profesor di Tunghai Unversity,
Taiwan, ia juga mengontak dua jurnal matematika internasional guna
mengusulkan pemecahannya....

Kirim email ke