Terlepas dari tulisan Kiyosaki fiktif atau nyata namun yang perlu
ditarik kesimpulan disini adalah kecerdasan memanfaatkan peluang dari
sistem dunia kapitalis.

Ketika membaca buku ini pertama kali tahun 2000, saya terperangah
karena konsepsi mencari celah ini dibeberkan dengan jelas. Kita baru
tersadarkan bahwa yang berkuasa adalah pemilik modal, bukan orang
yang pintar secara akademisi.

Teman saya yang IP nya diatas tiga, sampai sekarang rata-rata
penghasilannya dibawah sepuluh juta. tapi ada temen saya yang masuk
kelas aja kagak pernah malah kaya raya ciptain duit milyaran udah
segampang balik tangan aja, padahal dulu kerjanya koleksi majalah
Playboy dan macarin cewek satu kampus. Khusus di Indonesia untuk
berhasil dalam kehidupan perhatikan konsep : Time is Visiting, bukan
Time is Money. Artinya disini kunci jaringan memegang arti penting.

Kuasailah jaringan maka kamu akan mewujudkan apa yang kamu inginkan.

ANTON


--- In [email protected], "edy prayitno" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Wah saya jadi ingat .....nih karya
Kiyosaki ....tentang .....sekolah bertujuan untuk kaya....
>
>
> 1.      Kiyosaki mempengaruhi banyak intelektual
> Buku-buku dari Robert T. Kiyosaki, khususnya buku pertamanya "Rich
Dad, Poor Dad" telah mempengaruhi begitu banyak orang, bahkan telah
mendapatkan award no 1 dari New York Times. Buku ini sudah
diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan mempengaruhi pola berpikir
dan pola kerja banyak orang di dunia modern ini.
>
> 2.      Kiyosaki memberikan paradigma baru
> Kiyosaki mengangkat paradigma yang baru untuk dunia pendidikan,
dengan melakukan kritik keras terhadap pola pendidikan yang lama,
yang berorientasi pada skolastiksisme dan rasionalisme. Kiyosaki
melihat bahwa pendidikan harus berpusat dan berorientasi pada finance
(finansial). Orang belajar untuk menjadi kaya, dan kekayaan adalah
sasaran terakhir dari seluruh kehidupan.
> Namun, di lain pihak, banyak orang yang tidak menyadari sebenarnya
apa yang sedang dipaparkan oleh Kiyosaki akan membawa dampak
kerusakan bagi tantanan kehidupan dan finansial secara sangat
berbahaya. Kiyosaki memberikan idenya dengan menunggangi kelemahan
dosa manusia, sehingga upaya untuk membawa perbaikan justru akan
dirusak olehnya. Namun, pemikirannya akan sangat banyak diterima dan
dipuja, karena memang ada beberapa argumentasi yang dikemukakannya
sangat tepat dan cocok dengan realita dunia dan jiwa manusia berdosa.
>
>
>
> RICH DAD OR RICH DEAD: POSITIVE ASPECTS
> 1.            Pendidikan lama yang gagal secara visi
> Pendidikan telah gagal mendidik, karena tidak jelas apa yang mau
dicapai. Ide belajar, mendapat nilai, baik, bekerja, lalu sukses
adalah mimpi yang seringkali tidak terjadi.
>
> 2.            Pendidikan sejalan dengan keinginan
> The will, merupakan hal yang penting dalam hidup, sehingga dari
pada diatur, lebih baik mengatur. Ini yang harus diajarkan dari awal
kepada anak-anak, sehingga mereka bisa menjadi investor kelak (tesis
Kiyosaki).
>
> 3.            Tujuan hidup adalah kaya
> Kiyosaki menolak (secara halus asumsi ayat di atas), karena
sebenarnya hidup adalah uang, dan tujuan hidup adalah menjadi kaya.
Dan untuk menjadi kaya, sebenarnya bukan sekolah seperti sekarang ini
sarananya.
>
>
>
> RICH DAD OR RICH DEAD: Negative ASPECTS
> 1.            Asumsi Pendidikan tidak penting, yang penting kaya.
> Buat Kiyosaki maupun Sharon Lechter, yang penting kaya, dan
pendidikan tidak perlu (contoh Bill Gates, Michael Jordan dll.).
Gagasan ini membuat dunia pendidikan dilecehkan ke posisi terendah.
Seolah-olah manusia hanya hidup demi uang dan untuk uang. Di sini
Kiyosaki-Lechter dengan jahat telah mengumbar dosa manusia, sehingga
semangat Humanisme-Materiali-s semakin menjadi-jadi.
>
> 2.            Pendidikan hanya ke finance, bukan pemerataan bidang
> Jika dunia menerima konsep Kiyosaki, celakalah para ilmuwan, para
teknokrat, karena mereka tidak punya tempat dalam posisi Kiyosaki.
Mereka digolongkan sebagai Employee (pekerja), yaitu posisi terendah,
karena "makan gaji." Hidupnya tidak bisa kaya, kerja keras, dan hidup
susah. Yang sukses hanya mereka yang menjadi businessman. Inilah
asumsi kejam dari Kiyosaki. Harusnya Kiyosaki memperjuangkan agar
para investor tidak mengeruk keuntungan bagi dirinya, lalu membagikan
pada teknokrat. Para pedagang tidak mengeruk laba besar, dan
membagikannya pada petani. Tetapi Kiyosaki berpikir sebaliknya, mari
kita jadi pedagang, untung besar, dan menggaji petani dengan gaji
kecil.

Kirim email ke