Tulisan ini juga termuat dalam Iklan Kompas Hari rabu, 2 April 2008 (hal 40) 

Sarasehan Kebangsaan :
REKONSILIASI SEJARAH PERTAMA
SAUDARA, SEBANGSA dan SETANAH AIR

Sejak zaman kerajaan hingga usia 62 tahun kemerdekaan, perjalanan bangsa 
Indonesia diwarnai pertikaian antar golongan, agama, suku atau ras yang 
berakibat pada jatuhnya korban. Rekonsiliasi yang sudah didengungkan sejak 
munculnya orde reformasi tak dapat dimulai karena tak diketahui di mana 
pintunya. 
 
Sejarah (HISTORY) mengajarkan, kekuatan sering digunakan untuk melanggengkan 
kekuasaan dan begitu pula sebaliknya. Sejarah juga mengajarkan, ketika kekuatan 
dan kekuasaan bersatu menjadi ambisi  pribadi atau ideologi golongan, pada saat 
itu pula harga harus dibayar dengan jatuhnya para korban. 
 
Sejarah  menulis, bagaimana pihak yang berkuasa memberikan alasan pembenar atas 
tindakannya dengan membuat catatan versi dirinya, versi penguasa, versi yang 
kuat (HIS STORY). Dikemudian hari, publik mulai berdebat, berseteru & saling 
mendendam hanya untuk mencari siapa yang benar & siapa yang salah meski fakta 
sejarah tetap menjadi misteri yang tak terkuak.Yang terjadi kemudian adalah, 
tiap pergantian pemerintahan selalu ada tuntutan untuk menyelesaikan kasus per 
kasus atas nama keadilan bagi para korban. 
 
Dengan sarasehan kebangsaan di Bandung ini, kita semua belajar untuk memaknai 
sejarah dan peristiwa pahit dan kelam agar kita semua membangun Indonesia 
dengan lebih baik lagi dan bijaksana di masa mendatang.

 
Pada Sabtu (5/4) akan digelar sarasehan kebangsaan untuk umum di Balai 
Pertemuan Umum, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jln. Setiabudi, Bandung 
--- yang menghadirkan  Sri Sultan Hamengku Buwono X, Letjend TNI (P) Kiki 
Syahnakri, Roch Basuki Mangoenprojo, Cecep Burdiansyah – Wartawan Senior Tribun 
Jabar, H Budhiana – Wapemred Pikiran Rakyat, Prof. DR. Ganjar Kurnia, Ir. DEA – 
Rektor UNPAD, Tjetje Hidajat Padmadinata sebagai pembicara, serta Putut 
Prabantoro dan Mayong Suryoleksono sebagai moderator.   
 
Tema sarasehan kebangsaan kali ini adalah SAUDARA - SEBANGSA dan SETANAH AIR 
(Rekonsiliasi Sejarah 1). Kita semua diingatkan bahwa kita tak hanya Satu 
Bangsa dan Satu Tanah Air tapi juga Saudara (Satu Udara).  Dengan langkah ini, 
seluruh bangsa mulai berekonsiliasi atas peristiwa yang dialami dan disaksikan. 
Sehingga tak ada dendam, tak ada amarah dan bersama-sama Indonesia memaknai 
sejarah yang terjadi dalam bangsa ini. Dengan langkah ini pula, Indonesia mampu 
bangkit dan membangun negara kembali. Peristiwa yang kita saksikan bersama 
dalam kurun waktu hidup kita akan menjadi sejarah dalam masa 50 tahun lagi. 
Demi masa depan anak cucu kita, generasi mendatang Indonesia serta untuk 
Indonesia Raya, mari kita berekonsiliasi.
 
Rekonsiliasi sejarah ini dianggap perlu karena diharapkan dapat menjadi pintu 
masuk bagi Rekonsiliasi Nasional atas kasus-kasus yang terjadi setelah 
Indonesia merdeka. Jika kasus-kasus yang terjadi setelah kemerdekaan ini tidak 
diselesaikan, kasus tersebut akan menjadi sejarah bagi ketidakberhasilan bangsa 
Indonesia dalam membangun dirinya. Bukan untuk mencari siapa yang benar dan 
siapa yang salah, tetapi lebih untuk memaknai peristiwa-peristiwa tersebut 
dengan arif dan bijaksana. 

Sarasehan ini terbuka bagi umum, yang berminat untuk ikut dapat mendaftarkan di 
[EMAIL PROTECTED] atau ke Rizal 088880 13002
 
 
MARI BEREKONSILIASI


AM. PUTUT PRABANTORO
Ketua Pelaksana 
Gerakan Ekayastra Unmada - Semangat Satu Bangsa
Jaringan wartawan lintas Media


      
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.  
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com

Kirim email ke