Saudaraku...
Ma'afkan saya dan kami semua disini yang tidak dapat berbuat banyak untuk
sedikit meringankan beban saudara2ku, korban Lumpur Bakrie.
Sungguh saya merasa malu karena masih bisa menikmati hidup normal dan layak
di Jakarta, pilu dan sakit sekali rasanya hati ini jika mengingat kesusahan
saudara2ku itu.
Ya Allah Yang Maha Baik tolonglah kami, segeralah ansudah gkat beban
penderitaan saudara2 kami yang sedag menderita hidupnya disana, berilah
ingat para Pejabat serta Pengusaha akan tugas, kewenangan dan tanggung
jawabnya.
Cukuplah Engkau coba mereka dengan cobaan ini, sungguh saudara2ku ini
termasuk golongan yang sabar ya Allah. Hilangkan derita mereka, hiburlah
mereka dan tolonglah wahai Tuhanku, Kekasihku, Junjunganku hanya kepada
Engkaulah kami semua berharap.
Bagi saudaraku yang seiman, mari bersama-sama kita bangun ditengah malam
untuk memanjatkan permohonan do'a langsung kepada Allah swt agar penderitaan
saudara2 kita itu cepat selesai. Do'a bersama yang kita panjatkan dalam
setiap sujud shalat tahajud kita pastinya akan mengetarkan Arasy ilahi dan
membuatNya segera mengulurkan tanganNya untuk menolong dan menyelamatkan
saudara2 kita disana.
Wahai saudara2ku sekalian apapun keyakinannya, mari bersama kita pajatkan
do'a agar Tuhan kita segera mau membantu mengangkat penderitaan saudara2
kita korban Lumpur Bakrie.
Semoga syafaat Baginda Muhammad Mustafa Rasulullah SAW memberi keselamatan
hidup dunia akhirat buat saudara2ku.
Allhumma shalli ala Muhammad wa ala aali Muhammad kama shalata ala Ibrohiim
wa ala aali Ibrohim fil alamiina innaka hamidum majiiid.
Subhanallah walhamdulillah walaailaaha ilallah huwallahu akbar!
Saya yakin pak AH dapat mengkoordinir kita untuk berdo'a bersama didepan
Istana pada suatu hari atau apalah tindakan lainnya. mungkin juga bisa
diatur waktunya agar kita beramai-ramai warga FPK menanyakan nasib saudara2
kita itu kepada para wakil rakyat di Senayan sana. Saya siap mendukung pak.
Hanya inilah mungkin yang baru bisa saya lakukan untuk mebantu mereka.
Sekali lagi maafkan saya.
Salam, Mubarik
On Mon, Apr 14, 2008 at 8:16 PM, korban.lapindo <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Hentikan Jatah Makan, Kami Tetap Bertahan (bag 2/habis)
>
> Demikian juga dengan skema pembayaran yang dicicil, 20 persen sekarang,
> 80 persen nanti. Mereka menolak ini bukan karena kami serakah, ingin
> cash and carry, seperti sering dituduhkan pejabat pemerintah dan Lapindo
> (masya Allah, bahkan bupati pun, yang seharusnya menjadi pemimpin kami,
> pernah melontarkan hal itu). Masalahnya dengan skema itu, sebagian besar
> dari kami yang dulunya punya rumah, akan jadi gelandangan selamanya.
>
> Kadang saya cuman bisa mbathin,ngerti gak sih Lapindo dan pemerintah
> itu. Ini rumah, yang meskipunsederhana, rumah kami sendiri, rumah yang
> kami bangun dengan penuhupaya, dan kebanggaan, yang menyimpan semua
> kenangan kemanusiaan kami.Dan sekarang itu semua sudah lenyap, sementara
> kami terancam tidak mampu lagi beli rumah yang baru, karena
> ketidakjelasan pembayaran dari pemerintah
> Untuk ukuran rumah yang rata2 didesa,kami hanya akan dapat dibawah 60
> 80 juta rupiah. Kalau dibayar 20persen dulu, ini pasti akan segera
> habis untuk mbayar utang, nyicil iniitu, dan berbagaikebutuhan keluarga
> lainnya selama kami di pengungsian. Sehingga kamiminta dibayar
> sekaligus, atau paling tidak jangan 2 tahun kemudian.
>
> Toh duitnya Bakrie, kata koran, triliunan rupiah.Ada yang bilang, ya kan
> gak bisa gitu, keduanya kan harus berkorban,gak bisa saling ngotot.
> Omongan orang KEPARAT! Lha gimana kalo gini,sambil nunggu kejelasan,kami
> tak tidur di rumah petinggi2 Lapindo dan pemerintah, sedangkanmereka
> tidur dipasar. Sampai penyelesaiannya tuntas. Gimana kalau gitu? Jadi
> kenapa harus kami yang diminta paham dan empati?
>
> ***
>
> Maka, kamipun menolak skema perpres itu. Kami punya tawaran
> sendiri,bukan atas dasar egois, dan tidak memberatkan mereka, tapi
> akanmempermudah kami, melewati masa sulit ini. Kami ingin
> tinggalsepaguyuban dengan saudara dan tetangga sedesa, maka ganti aja
> uangkontrak dan lain2 kami dengan tanah 30 ha. Untuk pembayaran, kami
> sudahturunkan, dari awalnya 100 persen, jadi 50-50, sekarang 20-80,
> tetapijangan 2 tahun.
> Danmereka tidak menerima, entah dengan alasan apa. Pemerintah menuduh
> kamimelanggar hukum dan HAM karena menolak perpres dan bertahan di
> pasar.Padahal, semua orang tahu kalau perpres itu juga melanggar banyak
> UUlain yang lebih tinggi, bahkan UUD, lalu kenapa kami harus tunduk
> padaperpres SIALAN itu! Ketika sesuai dengan kepentingan
> mereka,undang-undang bisa diganti, tetapi kalau tidak, kami yang
> dituduhsubversi.
> Makakamipun bertahan di pengungsian. Di pasar yang baru jadi,
> denganberalaskan kasur tipis dan segala keterbatasan fasilitas (lihat
> ceritattg sekolah TK kami disini). Padahal kami bukan gelandangan kok,
> kamiwarga bangsa yang bermartabat. Meskipun bukan orang kaya, tapi
> hidupkami tentram di desa kami. Namun kami memaksa tinggal dipasar,
> karenahanya inilah cara yang kami tahu untuk menyatakan tidak.
> Kamiberusaha 'hidup' di pengungsian. Selama hampir 2 tahun kini.
> Meskimakan dijatah ala narapidana, kadang basi, pernah berbelatung.
> Dengansegala macam keterbatasan sarana dan prasarana, yang membuat kami
> tidaknyaman dalam melakukan segala macam hal. Termasuk ketika berbuat
> denganistri kami, dimalam yang dingin, berimpit2an dengan tetangga,
> hanyaberbatas dinding kain butut (rumah gombal, sebut anak2 kami).
> Punketika pemerintah melihat kami, korban keserakahan industri ini,
> justrusebagai pengganggu. Bagi mereka, kami adalah sebutir kerikil,
> disepatukulit yang empuk dan nyaman. Bagi mereka, kami adalah debu yang
> masukke mata yang menimbulkan perih, pada saat semuanya sudah sesuai
> dengankeinginan. Maka pemerintah, yang seharusnya melindungi kami,
> malahbergandengan dengan si pemodal, untuk mengenyahkan kami, dengan
> caraapapun.
> Intimidasi,teror, hasutan, bujukan, dan berbagai cara yang tak
> terbilang. Kamiditangkap bak teroris ketika hendak menyampaikan
> pendapat, di negerisendiri, atas undangan saudara sebangsa di Bali. Kami
> juga dihasutdengan berbagai macam cara, dan diadu domba antar kami
> sendiri. Bahkan,mengancam dan mengultimatum akan menyerbu kami, bak
> tentara Inggrisyang akan menduduki Surabaya.
> Danketika ratusan bambu runcing (setelah bbrp pejuang kemerdekaan
> bilangadalah hak kami untuk bertahan) sudah disiapkan untuk menanti
> serbuan itu, ternyata mereka masih punya akal sehat (atau mungkin takut
> karena tahubahwa kami akan kalap kalau jadi diserbu), dan urung
> menyerbu. Upayalain dicoba. Berbagai fasilitaspun dipreteli. Air bersih
> sudah tidakkami konsumsi sejak 5 bulan yang lalu. Bahwa negara
> seharusnyabertanggungjawab atas nasib pengungsi didalam negeri, sudah
> tidakdijalankan sejak berbulan-bulan yang lalu
>
> Namunkami tetap bertahan, dengan satu kesadaran, bahwa kalau kami
> keluardari pasar, sementara tuntutan kami hanya seperlima dipenuhi,
> makatidak ada satupun kekuatan kami untuk memaksa mereka memenuhi
> sisanya.Pada saat negara sudah memposisikan kami sebagai warga kelas
> dua,dengan tidak melindungi kami, tetapi memihak pengusaha, maka kami
> harusberusaha sendiri memperjuangkan tuntutan kami.
> Maka,silahkan mengancam mencabut jatah makanan. SILAHKAN terus
> mengangkangikesadaran dan akal sehat semua orang, tetapi kami percaya,
> masih banyakanak bangsa yang tidak merelakan negara ini tenggelam dalam
> hipokrisi.
>
> Sebabkami yakin, akan banyak saudara sebangsa yang akan mendukung
> perjuangankami. Setelah ini, warga bangsa akan berbondong2 untuk datang
> ke PasarPorong, mengganti peran pemerintah membantu kami. Untuk
> menunjukkanbahwa akal sehat mungkin bisa dibeli, tetapi nurani tidak
> mati dinegeri ini
>
> Karena kami percaya bahwa...
> KEBENARAN BISA DISALAHKAN....
>
> TAPI TAK BISA DIKALAHKAN...!!!
> Jadi, hentikan jatah makan, kami akan bertahan
>
> Sidoarjo, 14 April 2008
>
> korbanlapindo
>
> www.korbanlapindo.net
> www.korbanlapindo.blogspot.com
>
> (mohon bantuannya menyebarkan tulisan ini ke publik seluas mungkin)
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/