Pak KK, Mudah-mudahan apa yang terjadi di Jabar mewabah juga ke provinsi- provinsi lainnya. Walau masih ada kekurangan di sana-sini, kemenangan Hade adalah kemenangan kita semua. Partai telah membuktikan diri mampu menjalankan rekrutmen yang teratur dengan menyiapkan kader-kader muda yang menarik minat pemilih. Para pemilih makin rasional dengam menghukum pemimpin-pemimpin yang lengah dan sebagian memilih golput sebagai alternatif yang rasional di dalam demokrasi. Jadi selamat untuk kita semua.
Salam, Budiarto Shambazy Sent from my iPhone On 15 Apr 2008, at 11:43, Kusmayanto Kadiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Terima kasih Pak BS, > > Wah ... mirip dengan Brand Barrack Obama ya... New, Different & > Attractive ! > > Pelajaran berharga untuk Pemilu 2009 ! > > jabat erat, > KK > > On Tue, 2008-04-15 at 04:40 +0000, Agus Hamonangan wrote: > > Oleh Budiarto Shambazy > > > > http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.15.01000249&channel=2&mn=154&idx=154 > > > > Kemenangan cagub/cawagub Jawa Barat, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf > > (PKS-PAN), menjadi sign post yang yang menunjukkan demografi politik > > sedang berubah. Perilaku pemilih di Jabar bisa terulang kembali > tahun > > 2009. > > > > Secara historis Jabar sering lebih berperanan ketimbang Ibu Kota, > > Jakarta. Itu sebabnya, dalam mural sejarah bangsa ini posisi politik > > Jabar termasuk unik. > > > > Bung Karno dan PNI memulai karier politik di Bandung. Kota Kembang > > salah satu pusat studie club�"selain Batavia dan > Surabaya�"yang > > merupakan basis perjuangan generasi muda di awal abad ke-20. > > > > Rengasdengklok di Jabar adalah kota kecil yang jadi tempat > > persembunyian para penculik yang menyandera Bung Karno-Bung Hatta > > sehari sebelum Proklamasi. Lalu, siapa yang tak kenal Muhammad Toha, > > pahlawan peristiwa ââ¬ÂBandung Lautan Apiââ¬Â > 24 Maret 1946? > > > > Perundingan pertama RI-Belanda berlangsung di Linggarjati, juga kota > > kecil di Jabar, November 1946. Historia Jabar disebut oleh puisi > > Chairil Anwar, Antara Karawang-Bekasi, yang antara lain berbunyi, > > ââ¬ÂKami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi, > tidak bisa teriak > > ââ¬â¢Merdekaââ¬â¢ dan angkat senjata lagiâ > â¬Â. > > > > Keberagaman politik Jabar tampak dari kepemimpinan di Kodam > Siliwangi. > > Di kodam strategis ini orang Batak (AH Nasution), orang Jawa (HR > > Dharsono), atau orang Manado (AE Kawilarang) yang diterima sebagai > > panglima. > > > > Jabar tak mengenal kutub politik kanan atau kiri karena tanah yang > > subur itu sejak dulu mengenal moderasi. Kadang kala Jabar mengoreksi > > Jakarta, tetapi tanpa pembangkangan. > > > > Sekali lagi, hasil pilgub Jabar merupakan petunjuk penting untuk > > mereka-reka perilaku pemilih pada pemilu/pilpres tahun depan. Ada > > empat makna yang patut ditelaah. > > > > Makna pertama, kemenangan ââ¬ÂHadeââ¬Â > (Heryawan-Dede) merupakan > > kehendak > > mayoritas yang menolak incumbent (pemangku jabatan) yang dianggap > > kurang berhasil. Ini fakta yang membuktikan pemilih makin hari makin > > rasional. > > > > Siapa yang menyangka mereka berprinsip ââ¬Âkecil itu > indahââ¬Â? Dua > > partai > > ââ¬Âkecilââ¬Â, PKS dan PAN, ternyata dianggap > lebih baik daripada â > > â¬Âkartel > > partaiââ¬Â yang dipimpin dua partai raksasa, Golkar dan > PDI-P. > > > > Belajar dari pilgub di DKI tempo hari, PKS tentu menjadi daya tarik > > utama bagi para pemilih. Mungkin saja salah satu kiatnya karena > > kepemimpinan PKS yang bersifat kolegial demi menghindari kultus > > individual. > > > > Tak mustahil sukses PKS itu didukung pula oleh sikap yang membuka > diri > > bagi warga non-Muslim. Seperti pernah diutarakan di rubrik ini, > teman > > saya dari etnis China yang bukan Islam kini dibujuk untuk menjadi > > caleg PKS. > > > > Makna kedua, pemilih rupanya kurang peduli lagi dengan figur, ikon, > > atau tokoh dengan berbagai predikat politik dan kultural yang > > terkenal. Ingat, Heryawan bukanlah ââ¬Âpesohor politisià > ¢â¬Â dan Dede > > lebih > > top sebagai pesohor daripada politisi. > > > > Lagi pula Heryawan dan Dede masih berstatus anggota parlemen yang > > bukan bertugas di Jabar. Heryawan adalah anggota DPRD DKI dan Dede > > anggota DPR. > > > > Artinya, mereka mungkin saja berprinsip nothing to lose ketika > > memutuskan ikut pilgub Jabar. Toh, andaikan gagal terpilih, mereka, > > ibaratnya, ââ¬ÂTetap jatuh di kasur empukââ¬Â. > > > > Berbeda kontras dengan cagub Danny Setiawan (Golkar-Demokrat) dan > > cawagub Nuââ¬â¢man Hakim (PDI-P, PPP, PKB, PDS, dan > PKPB) yang berstatus > > incumbent. Danny adalah Gubernur Jabar, sedangkan Nuââ¬â¢ > man wakil > > gubernurnya. > > > > Dan, cagub Agum Gumelar (PDI-P, PKB, PDS, PPP, PBB, PKPB) adalah > tokoh > > berpengalaman yang beberapa tahun terakhir coba mencalonkan diri > jadi > > gubernur DKI, Ketua KONI Pusat, bahkan wapres. Jangan lupa, ia pun > > bolak-balik pernah menjadi menteri. > > > > Nah, pemilih memilih duet ââ¬Âdua sipilââ¬Â > ketimbang duet â > > â¬Âsipil-militerââ¬Â. > > Padahal, Agum jenderal purnawirawan yang cukup berakar di Jabar dan > > cawagub Iwan Sulandjana (Golkar/Partai Demokrat) bahkan pernah > menjadi > > Panglima Kodam dan Kepala Staf Kodam Siliwangi. > > > > Makna ketiga, Hade dipilih mayoritas rakyat karena berusia muda, > yakni > > sama-sama 41 tahun. Agum dan Danny sama- sama berusia 62 tahun, Iwan > > 57 tahun, dan Nuââ¬â¢man 55 tahun. > > > > Anda bisa membayangkan sebuah provinsi besar di republik ini > dipimpin > > oleh dua anak muda. Ini merupakan prestasi fenomenal yang baru > terjadi > > setidaknya sejak era Orde Baru! > > > > Makna keempat, lebih dari 35 persen pemilih apatis karena tak > > menggunakan hak pilihnya karena golput. Gejala ini sebenarnya telah > > terlihat dari hasil akhir pilgub DKI yang juga mencatat jumlah > golput > > lebih dari sepertiga total pemilih. > > > > Rakyat memilih golput untuk ââ¬Âmenghukumââ¬Â > partai dan politisi. > > Masalahnya, apakah partai dan politisi siap membayar hukuman itu > > dengan menetapkan program-program sosial untuk menarik minat rakyat > > menggunakan suaranya kembali? > > > > Jadi, empat makna yang hasil pilgub Jabar: rakyat menolak incumbent > > yang dianggap gagal dan tak peduli dengan ketokohan. Rakyat lebih > suka > > yang muda dan memilih golput karena kecewa. So, whatââ¬â¢ > s next? > > > > Jabar merupakan lumbung suara yang amat bisa menentukan hasil akhir > > setiap pemilu. Gengsi politik Jabar tak kalah tinggi dibandingkan > > dengan Jateng atau Jatim yang sebentar lagi juga melangsungkan > pilgub. > > > > Pelajaran terpenting adalah ingatlah semboyan yang kini ngetop di > AS, > > ââ¬ÂItââ¬â¢s the voters, stupid!ââ¬Â > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
