http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/03/0039127/tingkatkan.dana.pertanian

*Tingkatkan Dana Pertanian*
Dana yang Diperlukan Lebih Kecil dari Krisis Finansial
      EPA/GUSTAVO AMADOR / Kompas Images <http://www.kompasimages.com/>
Warga Honduras berpartisipasi dalam pawai solidaritas berkenaan kampanye
dunia "kelaparan nol" di Tegucigalpa, Honduras, Minggu (1/6). Naiknya harga
pangan dunia menyebabkan konflik dan kelaparan di berbagai belahan dunia.
  Selasa, 3 Juni 2008 | 03:00 WIB

London, Senin - Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO mendesak
negara-negara kaya harus secara dramatis meningkatkan bantuan terhadap
pembangunan sektor pertanian untuk mengendalikan harga pangan yang melangit.

Direktur Jenderal FAO Jacques Diouf mengatakan hal itu menjelang pertemuan
puncak para pemimpin dunia membahas krisis pangan di Roma, Italia, pada 3-5
Juni ini.

Diouf seperti dikutip harian Financial Times edisi Senin (2/6) menambahkan,
bantuan negara maju harus dinaikkan sepuluh kali lipat menjadi 30 miliar
dollar AS per tahun untuk membantu negara berkembang meningkatkan kapasitas
produksinya.

"Satu-satunya jalan untuk keluar dari krisis pangan ini adalah peningkatan
produksi, khususnya di negara-negara miskin," kata Diouf lagi.

Harga pangan yang melonjak tinggi dengan cepat menjadi alasan kerusuhan di
mana-mana. "Kenaikan harga pangan di mana-mana sangat memprihatinkan. Kami
tak hanya melihat kerusuhan dan orang yang mati, juga pemerintahan yang
tumbang seperti di Haiti," ujarnya.

Senada dengan Diouf, Lembaga swadaya masyarakat, Oxfam, juga meminta para
pemimpin dunia melakukan langkah nyata sesegera mungkin untuk mengatasi
krisis pangan.

Menurut lembaga dari Inggris itu, setidaknya ada 290 juta orang yang
terancam karena krisis pangan. Mereka juga memperkirakan diperlukan dana
ekstra sebesar 14,5 miliar dollar AS untuk bantuan segera.

"Jumlah ini sangat kecil jika dibandingkan dengan dana satu triliun yang
dikucurkan bank sentral AS, The Fed, dan bank sentral Eropa ke sistem
finansial dalam enam bulan terakhir ini untuk mencegah krisis ekonomi,"
demikian pernyataan Oxfam.

*Pertemuan petani*

Selain para pemimpin negara, puluhan organisasi petani telah memulai
pertemuan di Roma. "Kami memiliki piring kosong dan kebijakan kosong juga,"
ujar Paul Nicholson dari La Via Campesina, gerakan petani internasional.

"Marilah kita melindungi dan mempertahankan sistem pertanian yang telah
memberi makan penduduk dunia dan mendinginkan planet ini," ujarnya dalam
jumpa pers.

"Kebijakan perdagangan bebas telah merusak sistem pangan dalam jangka waktu
lama, menyebabkan krisis pangan yang kita hadapi sekarang," ujar Maryam
Rahmanian dari Pusat Pembangunan Berkelanjutan Iran.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva
mengatakan menolak pandangan yang beranggapan bahwa biofuel menjadi salah
satu penyebab krisis pangan global. Da Silva berargumen, masalahnya ada pada
sektor pertanian yang telantar dan distribusi. Brasil merupakan produsen
biofuel kedua terbesar di dunia.

Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda di sela-sela pertemuannya dengan
Kanselir Jerman Barat Angela Merkel mengatakan, langkah untuk mengatasi
krisis pangan ini harus dilakukan dengan cepat.

"Kita perlu memikirkan solusi untuk jangka panjang, jangka menengah, dan
jangka pendek sebagai solusi krisis pangan ini," katanya.

Berkumpulnya para pemimpin dunia untuk membahas krisis pangan ini juga
menuai protes dari beberapa pihak yang berseberangan.

Kedatangan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe dan Presiden Iran Mahmoud
Ahmadinejad di Roma diprotes kelompok yang menentang kebijakan
pemerintahannya. (AP/AFP/joe)


-- 
Mohammed Ikhwan
Ketua / Departemen Luar Negeri
Serikat Petani Indonesia (SPI)
Tel. +62 21 7991890 Fax. +62 21 7993426
http://www.spi.or.id
Mobile. +6281932099596


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke