Salam,
  Sudah diterangkan bahwa Jepang dengan banyak kepulauannya juga bisa dan 
terbukti MAMPU  membuat peswat terbang tetapi karena fikirannya lebih sehat 
TIDAK mereka kembangkan.
  Yang mereka kembangkan sesuai yang LEBIH MENGUNTUNGKAN yaitu LEBIH LAKU 
DIJUAL.Bukan seperti Habibie yang sama sekali tidak tahu tentang ekonomi dan 
MASRKETING  karena memang bukan bidangya sebagai seorang tehnikus.
  Banyak bidang2 lain dari bangsa Indonesia  sesuai keakhlian mereka yang 
TRADISIONAL  maupun tidak yang dapat dikembangkan dan DIJUAL sehingga dapat 
menghasilkan uang dan dapat memperbaiki ekonomi secara KONKRIT,ketimbang 
fikiran Habibie sebagai seorang pemimpi yang lebih merugikan karena ONGKOS 
membuat pesawat terbang adalah luar bisa mahalnya dan tidak cocok dengan 
keadaan ekonomi IndoNesia.Cita2nya memang SANGAT LUHUR  tetapi TIDAK PRAKTIS 
karena tidak sesuai dengan KEADAAN,WAKTU dan TEMPAT bagi Republik Indonesia 
yang tengah terpuruk ini.Kalau RI sudah lepas landas ( beberapa kali gagal) 
baru boleh ada pemikiran lain tetapi sekarang ada yang lebih penting.Ingat kata 
Bung Karno: AMBEK PARA ARTA. DAHULUKAN DULU YANG PERLU DIDAHULUKAN!
 
  Wsalam,
  Wal Suparmo

Meirin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Memang kadang kita harus memilih lawan bicara kita, karena ada yang 
namanya gap intelektual.
Bapak2 yang terhormat, terpikirkah oleh kalian mengapa Habibi dan Eyang 
bercita2 membangun indsutri pesawat terbang.
Kita adalah negara kepulauan.
Kita perlu penghubung cepat tiap2 pulau untuk menjaga stabilitas dan integrasi 
negeri ini.
Mulai dari bawah,kita berhasil mencipta.
jangka panjangnya kita bisa mensuplai kebutuhan pesawat dalam negeri.
Prakteknya yang ngaco.
Habibi punya rencana jangka panjang cuma tidak didukung rakyatnya yang 
berpikiran sempit.

Salam,
Meirina

Kirim email ke