Pak Tjuk, maaf baru balas. Saya tidak kenal zaman itu, hanya kenal dari
buku-buku. Tapi kukira Bung Karno itu hebat waktu mudanya, saat dia berjuang
melawan kolonialisme. Ini pun dengan catatan: apakah memang dia tidak berjarak
dengan rakyat. Maksud saya, apakah memang "kegarangannya karena dibakar oleh
penderitaan rakyat, semata rakyat", bukan karena egonya yang sangat intuitif
untuk bermain di arena politik/kekuasaan (waktu itu melawan penjajah). Tapi
kalau era kemarin saya melihat sendiri, betapa seorang tokoh, atau banyak
tokoh, yang kita persepsikan menjadi pejuang rakyat, suka berjarak dengan
rakyatnya secara individual, bukan secara massal yang ada unsur-unsur "keplok
tangan"nya. Kadang bagi pemimpin, rakyat itu abstrak, entahlah ya bagaimana
merumuskannya. Pendeknya, andai seorang rakyat datang sendiri, apakah mereka
yang dianggap pemimpin itu mau melayani? Begitulah kira-kira maksudku.
Terbukti kan, di zaman Orde Lama, lepas dari memang baru dan serba kacau, Bung
Karno kan tidak memikirkan penderitaan rakyatnya secara esensial dalam arti,
berpikir dan menggunakan segala daya yang ia punya, untuk mengangkat ekonomi
Indonesia. Karena bayang-bayangnya terhadap politik, maka ia mengerahkan
Indonesia yang sudah merdeka ke situasi revolusi terus. Sepeti kata saya tadi,
benar ada situasi ( katakanlah Irian Barat, atau separatisme), tapi kan kalau
memikirkan kepentingan rakyat benar-benar, mestinya agak direm ambisi untuk
bermain sebagai pemimpin dunia ketiga, tapi masuk seluruhnya bekerja untuk
rakyat dengan membangun ekonominya. Bukan nyemplung terus ke jurus-jurus
politik baik dalam maupun luar negeri. Saya menulis ini, tahu juga kok peta
bipolar saat itu.
Saya sudah gak bisa lagi diperangkap dengan berbagai pikiran simbolik tentang
tokoh. Tokoh akhirnya manusia juga. Mungkin, kalau kita berhenti bermain
simbol, lambang, mungkin tokohnya sendiri pun akan keluar dari sarang seperti
apa yang kita lambangkan. Menjadi manusia biasa sepeti kita-kita. Karena
manusia biasa seperti kita-kita, akan lebih mudah diajak berunding, tidak
angker, atau sembunyi dalam marah, atau apalah. Lalu biasanya memukul balik
langsung maupun melalui tangan orang lain. Ingatlah tindakan Pak Harto kepada
petisi 50 terutama kepada Bang ali.
Bagi saya tokoh yang memikirkan rakyat itu adalah tokoh yang menjadi rakyat itu
sendiri. Berani melepaskan diri dari protokol yang mengelilinginya. Berani
datang ke orang perseorangan. Entahlah bagaimana cara dia datang, tapi yang
jels kedatangannya tidak di-set dulu oleh para stafnya, lalu datang. Ini kan
permaianan simbolik yang bukan secara esensial cinta rakyat. Sekarang ada gak
tokoh (terutama orang2 muda itu), yang mau datang ke rakyat dalam artian bukan
pemilih yang mereka bina. Tapi rakyat Indonesia di mana pun mereka berada.
Memikirkan problemnya. ikut menyelesaikan masalahnya secara tuntas. Ada gak?
Gak ada kan? Semua sudah dikepung oleh agenda bersama untuk massa pemilihnya
atau calon pemilihnya. Bukan rakyat dalam artian manusia Indonesia yang mereka
tidak kenal.
Mungkin kayak Tan Malaka, yang biasa hidup dan bekerja dengan rakyat dalam arti
yang sebenar-benarnya. Bukan retorik, tapi dia benar-benar sebagaimana rakyat
kebanyakan, baik tempat maupun pergaulannya. Tapi belum tahu kalau Tan Malaka
ini benar-benar jadi. Mungkin juga dia berubah. Karena siapa yang pernah di
dalam kekuasaan, birokrasi, baik formal maupun informal, akan merasakan betapa
godaan kekuasaan begitu besarnya.
Saya sendiri suka heran dengan logika dan karakter politik. Semua orang yang
ingin masuk ke politik, atau sudah masuk ke politik, mengatakan untuk rakyat,
ikhlas demi negara dan bangsa. Lha kalau sama seperti itu, kan mudah saja:
berunding saja, siapa yang pantas untuk memimpin. Diselesaikan aja sendiri, tak
usah bawa-bawa rakyatnya, apalagi sampai mengadu-ngadu rakyat hingga perang
antar rakyat.
Lalu seolah kalau bukan dia yang memimpin, orang lain, seolah negeri ini akan
kacau. Kok bisa ya? Kalau visi kan sama: Indonesia jaya. Program juga sama:
kesejahteraan rakyat. Lalu mengapa harus dia yang memimpin? Nah, bingungkan?
Lebih bingung lagi kalau yang sudah pernah memimpin mau menjadi pemimpin lagi.
Kan sudah mencoba, dan tahu hasilnya. Lalu kok masih mau mencoba lagi?
Dengan logika seperti itu, kalau ada yang bilang saya naif, lalu kita bisa
balik bertanya; bukankah karena detil-detil seperti itu yang membuat kita
sebagai bangsa terperosok? Bukankah karena itu semua yang membuat orang lalu
banyak bersuara?
Lama saya mengamati dua hal yang merisaukan, Pak. Pertama klaim bahwa pemikir
kita yang suka muncul di media massa (terutama tv), adalah mencerdaskan
pemirsanya. Lalu para pemikir ini hanya bergerak saja dari media massa satu ke
media massa lainnya. Dari forum yang satu ke forum lainnya. Benar mereka
pintar-pintar dan jago bicara, tapi apakah mencerdaskan pemirsanya? Apakah
pemirsanya butuh kesadaran makna yang dipompakan terus menerus selama puluhan
tahun?
Itulah mitos itu, pak. Mitos dari ilmu yang sudah didagangkan! Ilmu yang
berjarak dari rakyatnya. Gak percaya? Cobalah suruh orang yang tak dikenal
menemuinya di luar media massa. apakah para pemikir ini mau melayaninya kecuali
berbasa-basi? Apakah pemikir ini mau memberikan nomor ponselnya lalu
benar-benar melayani saat orang-orang kecil itu menelpon? Tidak kan?
Mereka mendengarkan saat disorot kamera tivi, Pak. Karena itu saya katakan,
kalau ilmu itu memang untuk rakyatnya maka sudahlah mereka keluar saja dari
panggung media massa itu, langsung saja masuk mengamalkan ilmunya ke dalam
kehidupan rakyat baik rakyat yang mereka kenal terutama rakyat yang mereka
tidak kenal. Tapi kita memang harus bijak juga. Bukankah para pemikir kita ini
harus pula mencari uang untuk kehidupan keluarganya dengan bekerja. Nah memang
susah jadinya. sementara dari pekerjaan tetap mereka memang tidak bisa menjamin.
Yang kedua tentang amuk massa. Saya melihat di tivi kini kembali orang
mengacukan pedang, tongkat, dan teriakan-teriakan berani mati mempertahankan
seseoran atau kelompok. Lha ini bagaimana? Kalau ditanyakan kepada tokohnya,
lha itu kan rakyat yang bicara. Jadi bagaimana? Bukankah dia pemimpin. Lalu apa
kerjanya selama ini membina massanya? Berarti gagal dong para pemimpin ini
membina massanya. Logika seperti itu kan pernah terjadi juga dengan cap jempol
darah dulu.
Bagi saya, lepas itu adalah perang urat syaraf, adalah mengerikan sekali.
Karena bukankah yang akan ditebas dengan pedang-pedang itu atau yang mau
digebuk dengan tongkat-tongkat itu adalah bangsanya sendiri.
Aduh, bangsa kita memang tidak menghargai nyawa manusia, Pak, tidak menghargai
penderitaan orang yang memang susah hidupnya.
Belum datang kepada kita seorang pemimpin yang bergetar hatinya, dengan
kematian seseoran atau kemiskinanan seseorang, adalah seolah tubuhnya sendiri
yang terbelah atau dirinya sendiri yang menderita karena tidak bisa makan.
Buktinya, lihatlah tiap kali kita berdebat dengan stastitik: korban tragedi itu
sesungguhnya cuma 50 kok, bukan ribuan seperti yang kalian eksposkan. Atau:
kemiskinan itu cuma 40 juta, bukan 50 juta.
Belum datang, Pak. Baik pemimpin yang disimbolkan orang sebagai "sejati" kayak
Bung Karno, maupun pemimpin-pemimpin atau calon pemimpin yang datang kemudian,
di mana kualitasnya satu sama lain kurang dan lebih sama itu.
(Hudan Hidayat)