Oleh SALOMO SIMANUNGKALIT http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/20/00125777/new.york.pura
Dalam perjalanan kami ke beberapa kota di Italia dua tahun lalu, Bam bertanya. Rupanya Firenze, kok di koran kita disebut Florence? Padova di sini, di Indonesia Padua. Milano jadi Milan. Ejaan dan pengucapan Italia dan Indonesia hampir seperti pinang dibelah dua, bukan? Tak perlu menyeberang ke Inggris atau Amerika, dong. Tembak langsung saja dari cara Oriana Fallaci dan Umberto Eco menamai kota-kota itu. Saya bungkam seribu bahasa meski seratus persen mengaminkan ocehannya. Saya lebih memilih menikmati keelokan Firenze dan mencoba berlagak seperti René Descartes dalam Le Discours de la Méthode menyimpulkan bahwa faktor kebetulanlah yang membuat bangunan-bangunan di kota kuno tampak seperti tertata, bukan keinginan beberapa orang (arsitek, misalnya) atas dasar keahlian mereka. Kami tiba di Vatikan. Bam membaca Città del Vaticano. Apa artinya? Ketus saja saya jawab: Kota Vatikan. Kenapa di Jakarta orang mengenal Vatican City? Karena mereka baca koran berbahasa Inggris saja. Koran itu membumikan nama-nama asing kepada pembaca mereka. Kita biarkan Vatican City atau menggantinya dengan Città del Vaticano? Atau Kota Vatikan? Akhirnya saya angkat bicara. Soal Firenze-Florence, Milano-Milan, Padova-Padua, saya tak berminat menyentuhnya. Sulit membuat satu aturan yang khas Indonesia buat semua nama spesifik kota di seantero bumi ini sebab pasti timbul komplikasi fonemik, morfemik, atau semantik. Mari bicara di zona generik saja yang menempel pada nama-nama itu. City sudah jelas generik. Maknanya kota belaka. Città del Vaticano ' Kota Vatikan'; Ciudad de Mexico ' Kota Meksiko'; New York City ' Kota New York'. Sampai di sini perkara semantik selesai. Namun, masih muncul urusan taksonomi ketika nama-nama itu ditata dalam suatu daftar yang tersusun alfabetis: Kota Meksiko, Kota New York, Kota Vatikan. Mempertahankan Hukum DM rupanya kurang efektif dalam konteks ini sebab pada pandangan pertama yang terbaca semua bermula dengan âKâ. Urutan baru terlihat pada kata kedua. Toh kita terima perdana menteri yang MD. Kalau begitu, kata Bam, sudah tepat keputusan koran kita mempertahankan Vatican City dan New York City? Tidak juga sebab city belum mengalami naturalisasi. Masih asing. Tradisi Melayu mewarisi cara Sanskerta yang akur dengan Hukum MD menamai kota dengan pura seperti tersua dalam Indrapura, Singapura, dan Tanjungpura. Kita serap saja formulasi itu. Tenung posisi pura dari morfem terikat menjadi morfem bebas! Maka, kita mendapatkan Meksiko Pura, New York Pura, dan Vatikan Pura. Juga Bandung Pura, Medan Pura, dan lain-lain. Pura dari Sanskerta, menurut berbagai kamus ekabahasa Indonesia, berarti kota. Bam bertanya: Tembagapura itu apa artinya? Ya, Kota Tembaga. Berarti bisa ada Emaspura dan Uraniumpura, dong? Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Pura dalam pura-pura pasti bukan kota.
