Jadi inget waktu ybs. nyamar jadi pengungsi / korban bergolaknya G. Kelud sekitar 8 bulan lalu.
Di antara tenda-tenda darurat para pengungsi, berdirilah tenda kepresidenan yang tentunya lebih dari sekedar layak. Konon ber-AC & kamar mandi. Menyedihkannya lagi, penduduk yang tidak mau ngungsi dan tetap melakukan kegiatan sehari-hari di lereng (karena yakin Kelud nggak bakal meletus), dipaksa mengungsi ke lapangan Pluncing - Ring I; tempat tenda mewah tadi berdiri. Tapi setelah susah payah turun ke sana untuk "menyambut" presiden, bersalaman, mereka langsung didorong ke luar Ring I. Sempat terjadi kericuhan karena penduduk merasa diperlakukan tidak manusiawi. Dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya. Penduduk setempat betul, G. Kelud tidak jadi meletus. Yang kemudian meletus malah G. Soputan di Sulut. Tapi ybs. nggak buka tenda di Soputan. From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> > Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut empat kelompok masalah yang > menjadi penghambat pertubuhan ekonomi yaitu infrastruktur, perizinan, > perpajakan, dan keamanan. Untuk keamanan, Presiden geram dengan > informasi banyaknya pungutan liar (pungli) yang dilakukan preman > kepada para pelaku ekonomi. ”Bayangkan kalau negara dikuasai preman. > Preman apa pun. Ada UUD 1945, ada undang- undang, ada aturan main. > Tidak boleh (dikuasai preman), susah nanti. Bagaimana mau low cost dan > efisien kalau pungli ada di mana-mana,” ujarnya saat membuka > Musyawarah Nasional V Himpunan Kawasan Industri di Istana Negara, > Jakarta, Kamis (19/6). Karena geram dengan informasi soal pungli, > Presiden ingin menyamar ikut truk untuk melihat di mana saja ada > pungli. ”Saya mau menyamar pakai kacamata, pakai kumis. Saya kepingin > lihat cegatan-cegatan itu di mana saja dan berapa cegatannya. Siapa > tahu dilebih- lebihkan, tetapi siapa tahu benar ada pungutan di > sana-sini,” ujar Presiden. Namun, niat Presiden untuk menyamar surut > sebelum dilaksanakan karena dilarang para menteri dan Pasukan > Pengamanan Presiden (Paspampres) . Presiden menuruti larangan itu > meskipun mengaku ingin melihat sendiri seperti apa pungli yang dialami > para pelaku ekonomi. (INU) > > http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/20/ 0058573/kilas. ekonomi > > >
