Ini adalah penuturan MeNeg BUMN tahun2007:
Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil
mengatakan, BUMN yang bersifat strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak
tidak akan diprivatisasi.
"BUMN yang mengembang fungsi
PSO (Public Service Obligation) akan tetap dipertahankan keberadaannya tanpa
mengurangi tuntutan efisiensi dan transparansi manajemen," katanya dalam
Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Senin (1/10).
Menurut dia, selama ini kriteria BUMN strategis dan menguasai hajat hidup orang
banyak menjadi perdebatan berbagai kalangan. Pihaknya menerjemahkannya menjadi
BUMN yang mengemban amanat pendirian oleh peraturan perundangan dan mengemban
PSO.
Selain itu, BUMN tersebut terkait
erat dengan keamanan negara, melakukan konservasi alam/budaya, berbasis sumber
daya alam, padat karya, dan penting bagi stabilitas ekonomi/keuangan negara.
"Untuk kriteria PSO kita juga
bagi menjadi dua, yaitu PSO temporer seperti PLN yang bisa saja PSO-nya dicabut
kalau proyek 10 ribu MW terlaksana, dan PSO tetap," katanya.
Menteri juga mencontohkan, BUMN yang terkait dengan keamanan negara seperti
Batan Teknologi yang memproduksi unsur-unsur nuklir juga tidak akan
diprivatisasi.
"BUMN strategis yang mengelola
Borobudur dan Prambanan juga akan tetap kita pertahankan karena keduanya
strategis dari aspek komersialnya," katanya.
Sedangkan BUMN-BUMN yang tidak tergolong strategis dan menguasai hajat hidup
orang banyak maka akan dilakukan aksi pemegang saham.
"Di antaranya akan dilakukan
divestasi, merger atau akuisisi. likuidasi atau diintegrasikan dengan BUMN-BUMN
yang masuk kategori strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak,"
katanya.
Kebijakan "rightsizing" atau
perampingan BUMN dinilai juga semakin relevan dan penting dalam efektivitas dan
efisiensi pembinaan BUMN.
***
Apa misi BUMNIS?
Misi utama,
penguasaan teknologi dan membangun piramida industri yang
dibangun atas industri kecil sampai besar. Kita ambil contoh
PT PAL.
PAL dalam menjalankan usahanya sering menggandeng swasta. PAL
juga
yang mempertemukan swasta dengan pihak perbankan apabila
mereka
menemui kesulitan permodalan. Tenaga kerja IPTN, misalnya,
yang keluar
lalu membuka usaha sendiri. Tetapi hasil usahanya ternyata
bisa
memenuhi standar IPTN, dan diserap IPTN. Dari sisi ini kan
jelas bisa
kita lihat keuntungan yang tidak terukur.
***
Ini yang sudah benar dilakukan (Lihat: kompas):
Pemerintah menginginkan keberadaan
divisi permesinan PT Texmaco Engineering dapat diselamatkan dan dipertahankan.
Industri itu sudah punya kemampuan
memproduksi mesin sendiri, yang dapat mendukung industri pertahanan dalam
negeri lain. Produk-produknya (PT Texmaco Engineering) banyak dipakai PT Pindad
atau PT DI terlepas dari kondisinya saat ini, ujar Sjafrie.
Selain diselamatkan, Sjafrie
menyatakan pihak Dephan berharap keberadaan perusahaan itu juga bisa diadopsi ke
dalam atau bahkan dijadikan badan-badan usaha milik negara industri (BUMNIS)
strategis seperti yang ada saat ini.
Usulan tentang itu sudah kami
sampaikan ke Presiden dan departemen terkait lain. Seandainya itu dijual,
paling-paling yang dijual cuma barang loak atau aset tanahnya. Akan tetapi
kalau dipertahankan, dia akan memberikan kontribusi jangka panjang. Terlepas
dari masalah yang ada, potensi yang dimilikinya harus diselamatkan, ujar
Sjafrie.
Terkait pengembangan industri
senjata, PT Texmaco Engineering bekerjasama dengan PT DI dan PT Pindad mampu
memproduksi panser dan kendaraan tempur lain.
Lebih lanjut saat dihubungi per
telepon di Bandung, Kepala Humas PT Pindad Timbul Sitompul mengaku justru
menyambut baik jika rencana dan keinginan pemerintah seperti itu bisa
terealisasi. Keberadaan PT Texmaco Engineering dalam institusinya diyakini akan
memperkuat kemampuan produksi PT Pindad.
Selama ini kami sudah bekerjasama
dalam pembuatan kendaraan tempur Angkut Personel Sedang (APS) 6x6, yang juga
sudah
dipesan oleh Mabes TNI sebanyak 100 unit. Mudah-mudahan hal itu bisa
terealisasi, yang artinya kemampuan PT Pindad akan semakin bertambah dan jauh
lebih maju, ujar Timbul.
Lebih lanjut Timbul menambahkan,
produksi bersama yang selama ini dilakukan antara kedua belah pihak telah
berhasil memproduksi lima unit APS 6x6 dalam dua tahun terakhir, dari total
jumlah kendaraan tempur yang dipesan oleh TNI.
***
Ini adalah hasil diskusi tentang Strategic Sales atau IPO PT Krakatau Steel,
yang diadakan oleh INDEF dan Investor Daily, Diamond Room Hotel Nikko,
Rabu 21 Mei 2008:
Mantan Direktur A Badan Intelijen ABRI (BIA) Mayjen Zaki Anwar
Makarim:
"Kita di negara ini sudah
sedianya tidak melihat sesuatu dari uang semata. Bukan uang, uang dan uang saja
dalm menentukan segalanya," ujarnya Zaki.
Suara Zaki meninggi. Ia lalu
memaparkan bahwa pada 1957, Bung Karno mengembangkan industri baja nasional:
pabrik Besi Baja Dwikora, kini
menjadi PT Krakatau Steel. Tujuannya untuk mengembangkan kebutuhan industri
yang berbasiskan besi baja di dalam negeri. "Maka dipilihlah lokasi yang
paling strategis, di dekat selat Sunda, pelabuhan yang dapat dirapati oleh
kapal berbobot 170.000 DWT, sebuah pelabuhan terbaik, terdalam, terbesar untuk
ukuran Indonesia di Cigading, Cilegon, Banten," tutur Zaki.
Asset PT Krakatau Steel saat ini Rp
13 triliun. Sebuah angka yang belum dire-evaluasi.
"Jika setelah dilakukan
evaluasi ulang, kami yakin bahwa asset Krakatau Steel bisa mencapai lebih US $
5 miliar."
"Jika dijual kepada Mittal,
kami yakin dia begitu senangnya. Bisa menari-nari dia kegirangan." Begitu
keterangan Zaki.
Di dalam print out presentasinya yang
dibagikan ke pengunjung diskusi, terlihat jelas, bahwa Arcelor-Mittal, juga
mencari dan membeli bahan baku ke Brazil, tempat di mana PT Krakatau Steel juga
melakukan kontrak jangka panjang dengan CVRD Group, Brazil dan CMP, Chile, yang
membuat harga produk PT Krakatau Steel menjadi terjamin kepastiannya.
Sehingga logika menjual PT Krakatau
Steel di mata saya, hanyalah laksana menyerahkan sebuah permata bernilai mahal,
di saat kita berkelimpahan
uang dan berkelebihan keunggulan.
Dilihat dari struktur keuangan, PT
Krakatau Steel juga cukup sehat. Target laba perusahaan pada 2008 Rp 850
Miliar. Hingga April 2008, sudah mencapai Rp 420 miliar labanya. Artinya tahun
ini keuntungan bersih bisa mencapai Rp 1 triliun lebih.
Belum pula menyimak kemampuan industri
dan asset SDM yang dimiliki PT Krakatau Steel, yang umumnya anak negeri yang
mumpuni. Sehingga logika menjual PT Krakatau Steel, memang menabalkan sebuah
logika kepentingan. Sebaliknya, dengan IPO, bisa pula membuka diri perusahaan
untuk tampil lebih profesional.
***
Drajat Wibowo, anggota Komisi XI DPR:
"Karena di dalam jual menjual
asset, ada yang disebut success fee. Angkanya berkisar satu hingga dua setengah
persen. Dan angka itu dibenarkan dalam hukum perdagangan internasional.
Dilaporkan dalam laporan keuangan, dalam transaksi," tutur Drajat.
Memang hanya satu Kepala BKPM dan
Menteri Perindustrian yang getol untuk menjual PT Krakatua Steel. Drajat tak
menampik mengapa ada pejabat yang begitu antusias menjual.
Drajat berandai-andai, jika PT
Krakatau Steel dijual 40 % kepada Mittal senilai US $ 5 miliar, maka 1% komisi
sudah mencapai US $ 50 juta. Dalam kerangka inilah, tak bisa dipungkiri, bahwa
M. Lutfi, Kepala BKPM dan Fahmi Idris, Menteri Perindustrian, tampak bergeming.
Drajat juga menyayangkan sikap
Menteri Negara BUMN. "DPR sudah menyarankan untuk menjual PT Krakatau
secara bertahap melalui IPO," ujarnya. Namun surat Sofjan Djalil, Menteri
BUMN kepada DPR, justeru menambah opsi, menjual melalui Strategic Sales atau
IPO di pasar modal. Dalam keadaan demikian, ditambah dengan datangnya Mittal,
Blue Scoop, menjadikan isu penjualan strategis menjadi bola panas.
***
Said Didu, Sekretaris Menteri Negara
BUMN:
"Sesuai dengan Undang Undang
Nomor 19 tentang Badan Usaha Milik Negara, privatisasi memang bisa melalui IPO
dan Strategic sales. Itu artinya jika PT Krakatau Steel dijual dengan cara
strategic sales, tidak akan menyalahi undang-undang."
Namun dalam praktek hidup berbangsa, bukan saja urusan legal dan tidak.
Industri baja, bila belajar ke sejarah bangsa-bangsa yang sudah duluan maju,
menjadi industri strategis.
Dari industri baja, mengalir produk-produk turunan ke peralatan angkut,
peralatan tempur meiliter. Sehabis perang dunia kedua, Jerman, Jepang, bahkan
Korea belakangan, memperkuat basis industri baja mereka. Lihatlah kekuatan
industri dalam negeri mereka, baik untuk otomotif, industri blok mesin berbagai
kendaraan, didukung oleh industri baja dalam negeri.
Dengan demikian, menjual PT Krakatau
Steel, melalui Strategic Partner, sama saja menggadai kekuatan bangsa ke tangan
pihak asing, yang memang melihat menggunung madu di sana.
***
Komentar
Iwan Pialang:
Saya sangat heran. Apakah para
pemimpin negeri ini masih belum mau belajar dari sejarah, dari penjualan
Indosat, dari penjualan perbankan, dari mengobral berbagai lahan tambang - -
karena alasan negara tak berduit - - kepada pihak asing, yang membuat keadaan
seakan Indonesia terjajah, dan rakyat negeri kebanyakan hanya bak patung yang
cuma dijadikan pasar. Setidaknya itulah kondisi yang terjadi di industri
jasa telepon selular kini.
Dalam paham neoliberalisme, uang
memang tidak mengenal negara. Yang ada cuma meraih untung sebesar-besarnya,
dari modal sekecil-kecilnya.
Pada
15 April 2008, saya menulis tajuk rakyat berjudul Besi. Di situ saya
paparkan bagaimana Indonesia yang memiliki sumber daya alam pasir besi, batu
besi tidak mengolahnya sebagai besi rasis guna mengembangkan industri peleburan
baja, pig iron. Ia sesungguhnya mampu diproduksi sendiri, dibutuhkan
pula bagi industri turunan, bagi membuat berbagai blok mesin, mesin, bagi
menumbuhkan kekuatan sendiri, untuk pembuatan blok mesin alat angkut militer;
mesin panser, mesin tank, truk pengangkut pasukan - - seluruhnya kini kita
impor.
Artinya industri peleburan baja, adalah juga industri strategis, yang tak
terbantahkan.
Padahal bisa dimaklumibersama, bila
militer sebuah negara lemah, maka negara lain dengan gampang mempermainkan
negara tersebut. Saya tentu tak perlu menyebut
kasus Ambalat dan seterusnya itu.
Saya heran mengapa kemudian Cina
mengimpornya dari Indonesia. Saya kemudian lebih percaya, negara tidak pernah
memotivasi kegiatan ekslporasi pasir besi dan batu
besi, sehingga cadangan dan sumbernya tidak dimiliki secara akurat datanya.
Celakanya kini, di tengah permintaan bahan mentah tinggi dari
luar negeri, khususnya Cina, Indonesia masuk menjadi negara pengekspor bahan
tambang itu.
Dan anehnya kita tetap belum punya
industri peleburan baja dari rasis alamnya sendiri. Itu artinya, bila ingin
membuat blok mesin sendiri masih mengimpor pig iron dari Cina. Dan Cina
mengimpor bahan alamnya dari Indonesia. Tak ada logika pikir yang paling aneh
dari kalimat ini bukan.
Namun seaneh-anehnya logika pikir
satu alinea kalimat di atas, lebih parah lagi kini, PT Krakatau Steel hendak
dijual sahamnya 30% kepada asing. Dan celakannya Muhammad Lutfi, kepala BKPM,
memfalitasi penjualan kepada Mittal,
juragan baja terbesar dunia keturunan India, yang memulai usaha di Sidoarjo,
Jawa Timur, yang sejak lebih tiga puluh tahun lalu memulai usaha melalui
bendera Aspatindo. Mittal kini menguasai berbagai industri baja di dunia. Ia
ditempatkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia versi majalah Fortune
Buat apa PT Krakatau Steel dijual ke
asing? Bukankah sebaiknya ia difasilitasi untuk melebur rasis besi dari alam?
Yang kemudian berguna bagi menumbuhkan manca ragam industri blok mesin dalam
negeri?
Seperti dipaparkan Zaki Anwar
Makarim, hingga saat ini, jika pun langkah menjual melalui IPO apalagi
strategic sales tidak dilakukan pemerintah, "Citibank, HSBC, Standar
Chartered Bank, dan banyak bank lain menawarkan uangnya untuk dipakai Krakatau
Steel."
Itu artinya lembaga perbankan asing
begitu percaya akan aset, kemampuan dan peluang pasar perusahaan baja lokal
yang yang besar. Sebelum Zaki
menyampaikan hal ini, saya di dalam hati sudah ingin mengacungkan tangan.
Saya ingin melontarkan kata: Jika
pemerintah memberikan saya kepercayaan untuk mencarikan loan, pastilah dengan
mudah saya mendapatkan off shore loan dari berbagai lembaga keuangan. Eh,
faktanya, sebagaimana Zaki, tanpa bantuan siapapun PT Krakatau Steel, memang
ibarat gadis cantik yang dilirik banyak pihak.
Sehingga entah mengapa wacana
menjual asset negara, kini menjadi menggila?
Jika logika uang komisi, sebagaimana
yang dipaparkan Drajat Wibowo memang ada, inilah sebuah indikasi, di banyak
laku menjual asset BUMN yang telah lalu, yang telah "memperkaya"
segelintir manusia Indonesia, terindikasi memang ada. Fakta ini dapat dijadikan
alat memverifikasi penjualan bank-bank, penjualan perusahaan telekomunikasi
yang juga sangat strategis itu, termasuk penjualan dua tanker PT Pertamina
semasa
Laksamana Sukardi sebagai Menteri Negera BUMN, bahwa indikasi pelaku penjualnya
berkepentingan dengan tambunnya komisi.
Sehingga saya katakan dalam acara
diskusi itu, Indonesia masih beruntung masih punya manusia macam Zaki Anwar
Makarim. Namun seorang Zaki yang cuma anggota komisaris, tentu tak akan bisa
berbuat banyak.
Kendati demikian, jika saya
diizinkan membuat sebuah proposal mengembangkan PT Krakatau Steel, usulan saya
sebagai berikut: Penambahan modal dengan menjual 20% saja saham PT Krakatau
Steel. Lalu PT Krakatau akan mengambil alih PT Perkasa Engineering, perusahaan
yang mempunyai lisensi membuat mesin kendaran 300 HP ke bawah dari Steir,
Austria. Beban hutang PT Perkasa yang Rp 26,5 triliun itu akan saya tutup
dengan mengeluarkan obligasi.
Dari Perkasa akan keluar berbagai
blok mesin. Besinya akan disuplai oleh pig iron PT Krakatau Steel. Ingat tahun
ini order panser TNI ke Pindad sebanyak 150 unit, tetapi mesinnya hanya mampu
30 unit dibuat oleh Renault, Perancis, seharga Rp 5 miliar/unit.
Padahal di Perkasa, dengan Rp 750
juta/perunit, kualitas lebih baik dari Renault, buatan dalam negeri. Hal ini
pernah disampaikan secara pribadi oleh staf ahli Panglima TNI, bidang
perdagangan dan ekononomi kepada saya.
Market yang lebih besar bagi unit
usaha di Perkasa, bisa dari order berbagai mesin peralatan TNI, mulai alat
angkut, truk berpenggerak roda empat, tank, panser, semuanya membutuhkan besi.
Bukan mustahil, rencana macam
proposal saya ini, akan masuk dalam strategi pengembangan oleh Mittal. Bisa
Anda bayangkan, dengan aset lahan, aset pelabuhan, juga aset bahan baku iron
ore (batu besi) yang masih banyak belum tereksploitasi di dalam negeri, juga
pasar besi yang rata-rata dikonsumsi orang Indonesia baru 20 kg saja -
-bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 150 kg perkepala pertahun.
Bukan mustahil bukan, jika dalam
suatu kesempatan setelah menguasai Krakatau Steel, Mittal dengan paparannya
menguasai "Indonesia", melalui prospektus yang dicetak berkertas
emas, akan bisa menangguk dana segar lebih dari US $ 25 miliar lagi di bursa
dunia?!
Itu artinya kehadiran strategic
partner untuk Krakatau Steel, ibarat menarukkan tangga, mengangkat kaki,
mendudukan ke atas kuda, lalu seseorang dengan mudah menembak dari atas kuda.
Bila sudah begini, apa tidak nauzubillahi minzalik namanya?
Saya terhibur, ketika Zaki
mengatakan, "Arcelor di Perancis, dibeli Mittal. Tiga tahun Perdana
Menteri memprotes bentuk perjanjian penjualan hingga turun demo ke jalan.
Tetapi apa lacur, Arcelor yang banyak melahirkan bangsawan Eropa itu, kini
sudah tergadai kepada Mittal."
Itu artinya, apakah kita juga akan
menggadaikan Krakatau Steel? "Tahun 1998 Mittal gagal mengambil Krakatau
Steel. Tahun 2004 mereka juga gagal.. Nah tahun ini mereka mencobanya lagi,"
tutur Zaki.
Melihat kalimat ini, Arcelor-Mittal
dengan komandan Lakhsmi Mittal, yang memulai berdagang besi dari Surabaya, Jawa
Timur dari 31 tahun lalu dengan bendera PT Apatindo, yang kini menjadi raja
baja dunia itu, memang memiliki mental dan kegigihan baja berusaha.
Alhamdulillah, Puji Tuhan, petang
ini saya mendengar Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Juwono Sudarsono,
menghimbau pemerintah membatalkan
penjualan PT Krakatau Steel, yang memang strategis untuk bangsa ini.
Kendati kedengaran agak
"lucu", Juwono orang pemerintah lalu sesama pemerintah menghimbau
membatalkan penjualan Krakatau Steel, berpihak bagi kepentingan Negara,
berpihak bagi kepentingan warga kebanyakan.
Maka saya tak tahu lagi harus
memberikan kalimat apa kepada sepuluh orang wartawan yang konon dari media
besar mau pula berkeliling Eropa dibiayai Mittal, yang diorganisir oleh
perusahaan public relation (PR) yang bermarkas di Kemang, Jakarta Selatan.
Saya kembali teringat kalimat Zaki Anwar Makarim, jangan melulu segalanya
melihat uang, karena uang. Mungkin pula di kepala perusahaan PR yang ada cuma
uang. Tetapi jika di kepala wartawan yang juga ada cuma uang, maka, memang,
kiamatlah kekuatan pilar keempat dalam berdemokrasi di Indonesia.
***
Lihat komentar Plintat-plintut Direktur
Krakatau Steel (detik.com):
"Sampai saat ini kita belum mendapatkan instruksi secara tertulis dari Meneg
BUMN. Pada saat di DPR Meneg BUMN meminta diskusi kepada mereka yang berminat
dengan strategic sale," ungkap Fazwar.
Menurut Direktur Utama PT Krakatau
Steel, Fazwar Bujang diskusi-diskusi
semacam itu dikhawatirkan olehnya membuka polemik baru. Namun kalau pemerintah
dan DPR menghendaki pihaknya akan membuka diri.
"Kalau saya sih kita tunggu
saja keputusana dari pemerintah dan DPR, tetapi diskusi ini akan menimbulkan
polemik lagi," tambahnya..
Bertepatan dengan 100 tahun
kebangkitan nasional, lanjut Fazwar, KS telah mencanangkan 100 kebangkitan
nasional menjadi tahun kebangkitan KS.
"Industri baja adalah industri
yang sangat strategis," ujar Fazwar mengutip Hillary Clinton.
***
Lihat ukuran kenegarawanan saat ini para
pemimpin bangsa ini berkomentar:
Tempo Interakfif:
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
Hidayat Nur Wahid mengatakan, pemerintah telah kehilangan kepercayaan
masyarakat karena menaikkan harga jual bahan bakar minyak. "Apabila
penjualan ke mitra strategis dilanjutkan, kepercayaan kepada pemerintah akan
semakin rendah," ujaranya. Dia menyarankan, pemerintah seharusnya
menyerahkan opsi privatisasi ke manajemen Krakatau.
Di tempat terpisah Wakil Presiden
Jusuf Kalla dan Deputi Perdana Menteri yang sekaligus merangkap Menteri luar
negeri Luxembourg Jean Asselborn melakukan pembicaraan soal rencana privatisasi
ArcellorMittal ke Krakatau Steel. "Ini pembicaraan perdagangan dan
investasi dengan Luxemburg termasuk tentang ArcelorMittal yang kantor pusatnya
di Luxemburg," kata Kalla setelah menerima Jean di Kantor Wakil Presiden,Kamis
(29/5).
Kompas:
Pemerintah akhirnya memutuskan
privatisasi PT Krakatau Steel dilakukan melalui penawaran saham perdana (Initial
Public Offering-IPO), yang dijadwalkan terealisasi September 2008.
"Kita memutuskan KS itu di IPO, sekarang tinggal DPR (untuk dimintai
persetujuan),"
kata Menneg BUMN Sofyan Djalil, seperti dikutip Antara, di Kantor Meneg
BUMN, di Jakarta, Rabu (4/6).
....
Namun, lanjut Menteri,
sejumlah analis dan pengamat pasar modal menilai saat ini bukan waktu
yang tepat bagi KS untuk mencatat saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena
sentimen pasar masih negatif. "Kalau situasinya (pasar) buruk seperti
sekarang, kita lepas dulu sebesar 5 persen. Tetapi kalau pasar sudah bagus akan
kita tambah, dan dicatat sebesar 40 persen yang dijual additional share,"
katanya.
***
Lihat Wawasan kebangsaan saat ini!
Now, Wawasan Kebangsaan is just only a matter of money, Jack!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/