Aduuh Pa saribu, kenapa jadi marah2 begicu? Padahal 2 tulisan anda
sebelumnya, antara lain ttg dicalonkan jadi ketua MA, sangatlah penuh
humor, salah satu ciri intelektualitas. 
Terus terang saja, saya jadi kaget mengapa interpretasi anda terhadap
tulisan saya jadi melebar begitu? Benar deh, mungkin saya salah
mengambil contoh tentang dmonstran angkatan '66, sama salahnya dengan
interpretasi anda bahwa saya pro demonstran. Malah saya ini penakut
ikut2an demo Pa, karena takut ditangkap atau kena lemparan batu.
Tapi biarlah teman2 milis lain yang menilai tulisan saya yang kena
semprot anda itu. Mohon kesediaan teman2 yang sudah senior mengikuti
milis ini antara lain seperti Pa Anton dan Pa Wal Suparmo memberi
komentar, pasti akan terungkap dimana kesalahan saya yang kata anda saya
"pendendam".Karena anda merasa tersinggung, saya jadi tergelitik dan
teringat akan ungkapan pepatah negeri penjajah kita :" wie de schoen
past, die trek hem aan". Biarlah teman2 milis senior mengartikannya,
saya takut anda marah besar lagi.
O,ya lupa , anda menanyakan arti : to those leaning on the sustaining
infinite, today is big with blessing lalu saya ikut2 nambahin.but are
condemned to relive the past. Pengertian saya adalah : bagi mereka yang
berharap pada hari depan yang terus2an akan ada, ketahuilah bahwa hari
sekarang adalah indah penuh berkah..tetapi dihukum untuk mengalami
kembali masa silam..
Pengertian saya bisa saja salah, namanya juga interpretasi tiap orang
lain2. Saya ingin menjadi seperti anda Pa, yang katanya walaupun
beseberangan pendapat tetapi tidak bermusuhan. Insaallah terkabul.
 
Salam&sori,OH / Opung Hengki 
 
 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke