Oleh KORNELIS KEWA AMA

Golongan putih dalam Pemilihan Kepala Daerah Nusa Tenggara Timur
sangat tinggi, mencapai 520.267 pemilih. Nilai tersebut mendekati
jumlah penduduk empat kabupaten di NTT karena setiap kabupaten di NTT
memiliki penduduk 50.000-150.000 penduduk.

Berdasarkan daftar pemilih tetap yang dikeluarkan Komisi Pemilihan
Umum (KPU) setempat, jumlah pemilih ada 2.649.895 orang. Pemilih yang
memberikan hak pilih secara sah 2.067.461 orang. Suara tidak sah
62.167 orang. Dengan demikian, partisipasi warga dalam pilkada
tersebut 2.129.628 pemilih dan jumlah golput 520.267 orang.

Dari 2.067.461 pemilih sah, dukungan terhadap pasangan Frans Lebu
Raya-Esthon Foenay (Fren) 772.263 orang (37,34 persen). Adapun
dukungan bagi pasangan Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa (Tulus)
711.116 orang (34,41 persen) dan Gaspar Parang Ehok-Julius Bobo (Gaul)
584.082 orang (28,25 persen).

Jumlah golput tersebut hanya yang terdaftar di KPU sebagai calon
pemilih tetap, belum termasuk ribuan warga yang belum terdaftar.
Sebelum pilkada, sebagian dari mereka melakukan aksi demo ke KPU NTT
karena tidak terdaftar dan tidak memiliki kartu pemilih.

Ketua DPRD NTT Melkianus Adoe kepada pers di Kupang, Jumat (27/6),
menyatakan sangat heran karena begitu banyak warga NTT tidak
memberikan hak pilih dalam pilkada tersebut. Padahal, pilkada langsung
gubernur oleh rakyat tersebut merupakan yang pertama kali.

”Ini fenomena menarik dan perlu dikaji lebih jauh, sebagai pengalaman
berharga bagi pilkada gubernur ke depan. Jumlah golput 520.267 orang,
mencakupi jumlah penduduk hampir di empat kabupaten,” katanya.

Persoalan pokok adalah sikap primordialisme yang sudah ratusan tahun
tumbuh dan berkembang di antara kelompok suku, agama, dan warga pulau
di NTT. Suku dan agama menjadi unsur paling dominan dalam menentukan
pilihan rakyat.

Primordialisme

Primordialisme bertumpu pada agama dan suku dibangun oleh kolonial
Belanda yang menyebarkan agama Protestan di Rote Ndao, Kota Kupang,
dan Timor Tengah Selatan, dan Portugis untuk agama Katolik di daratan
Pulau Flores, Belu, Timor Tengah Utara. Tahun 1600-an kedua bangsa
penjajah ini membagi Timor menjadi dua bagian, yakni Timor Timur
dikuasai Portugis dan Timor Barat di bawah jajahan Belanda.

Perbedaan suku dan agama ini terus tumbuh dan berkembang, tetapi tetap
tersembunyi, clandestine, bergerak di bawah tanah. Meskipun ada
silaturahim politik, kebersamaan, dan hidup bertetangga, tidak mampu
menghilangkan sekat pemisah itu.

Ketika calon dari suku dan agama tertentu tidak diloloskan KPU dalam
proses verifikasi, masyarakat pendukung pasangan itu tidak antusias
terhadap pilkada. Masyarakat bersifat apatis terhadap figur dari suku
dan agama lain. Mereka menilai calon dari suku dan agama berbeda tidak
akan memerhatikan nasib warga dari suku dan agama lain.

Pemahaman ini sudah berakar di sebagian besar kalangan warga NTT.
Selama 50 tahun provinsi itu terbentuk, gubernur terpilih, selama
memimpin daerah itu, menunjukkan sikap yang tidak holistik. Ia selalu
terpolarisasi pada kepentingan suku, agama, dan pulau, termasuk
menempatkan jabatan strategis dalam sistem pemerintahan yang dipimpinnya.

Kondisi ini mendorong calon gubernur Gaspar Parang Ehok-Julius Bobo
(Gaul) di antaranya mengedepankan misi khusus memberantas sistem
primordialisme yang tumbuh dan berkembang lama di Kantor Gubernur NTT
dan jajarannya. Gaul tidak mendapat dukungan penuh dari rakyat, tetapi
mereka berharap gubernur terpilih dapat mencairkan suasana itu selama
memimpin daerah ini.

Namun, ada sejumlah warga dari suku atau agama berseberangan ikut
mendukung figur yang berbeda suku dan agama. Mereka itu adalah
pengurus partai pendukung figur itu, bukan karena kepribadian orang
itu benar-benar cocok, sesuai pilihan hati nurani mereka.

Hal ini sebagaimana diutarakan Ketua Panitia Pengawas Pilkada NTT
Djidon Dehaan. Pilkada gubernur sangat didominasi unsur agama dan suku.

Misalnya, Ibrahim Agustinus Medah dari Rote Ndao mendapat dukungan di
kabupaten itu 110.230, sementara Frans Lebu Raya hanya mendapat 28.540
suara, dan Gaspar Parang Ehok 7.300 suara. Frans Lebu Raya berasal
dari Flores Timur dan mendapat dukungan suara di daerah itu 67.320
suara, sementara Ibrahim Medah mendapat 18.780 suara.

Lingkaran Survei Indonesia menjelaskan, jumlah pemilih beragama
Katolik terbanyak, memberi dukungan hampir 70 persen kepada pasangan
Fren. Adapun kelompok agama Protestan 80 persen memberi dukungan
kepada Ibrahim Agustinus Medah, dan sisanya memberikan suara kepada
Frans Lebu Raya dan Gaspar Parang Ehok.

Penyebab lain jumlah golput banyak adalah kurangnya sosialisasi kepada
masyarakat mengenai pilkada. Kesadaran masyarakat tentang pilkada
masih sangat rendah.

Hampir sebagian warga NTT menilai pilkada hanya menguntungkan pejabat
yang hendak dipilih bersama anggota keluarga dan kroninya. Masyarakat
tetap miskin dan hidup dengan kondisi yang serba tidak mampu,
sementara pejabat dan kroninya berkelimpahan harta benda.

Kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menahun di daerah ini
membuat rakyat tidak antusias menghadapi pilkada. Selalu ada opini
buruk terhadap seorang calon gubernur, bupati, dan anggota DPRD yang
begitu getol mencalonkan diri menjadi pemimpin.

Apalagi figur yang diusung warga ditolak KPU dalam proses verifikasi.
Dari delapan pasangan calon gubernur NTT yang mendaftarkan diri, KPU
hanya meloloskan tiga pasangan calon, sementara lima pasangan lain
ditolak.

Dari lima pasangan calon ini, dua pasangan memiliki massa pendukung
hampir 50 persen dari total pemilih, yakni Alfons Loemau-Frans
Salesman (Amsal) dan Beny K Harman-Alfred Kasse (Harkat). Loemau dari
Kabupaten Belu, Timor, dan Beny K Harman dari Manggarai.

Ketika Amsal dinyatakan tidak lolos oleh KPU NTT, warga Belu, Timor
Tengah Utara, bersama eks pengungsi Timor Timur langsung menyatakan
dukungan terhadap paket Fren, yang merupakan calon wakil gubernur
putra Timor, yakni Esthon Foenay. Tetapi, sebagian dari mereka tidak
ikut memilih.

Dengan terpilihnya paket Fren, untuk pertama kali dalam sejarah NTT
terbentuk, seorang putra Timor tampil sebagai wakil gubernur. Dari
delapan gubernur yang telah memimpin NTT, tidak satu pun putra Timor
menjadi gubernur atau wakil gubernur, kecuali Flores, Sabu, Rote Ndao,
dan Jawa.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/14/01200759/mengapa.golput.di.ntt.tinggi

Kirim email ke