Tulisan ini terinspirasi oleh surat pembaca dari seorang seniman
bernama Teguh Ostenrik di harian Kompas, Minggu 13 Juli 2008, berjudul
Industri Kreatif "Quo Vadis"?

Teguh Ostenrik saya kenal memiliki reputasi internasional sebagai
seniman. Dalam Wikipedia berbahasa Perancis namanya disebut dalam
kategori pematung Indonesia. Tentunya masih banyak pematung Indonesia
lainnya yang sepatutnya ikut juga disebut dalam ensiklopedi online
itu, selain kenyataan bahwa selain mematung Teguh Ostenrik juga melukis.

Bulan Juli 2007 lalu rupanya mas Teguh diundang oleh Artist in
Residency Program of Malihom and ABN AMRO di Penang, Malaysia untuk
suatu program workshop gabungan seniman internasional dan lokal. Hasil
dari program kerjasama para artis internasional ini dipamerkan di
Kuala Lumpur dan Singapura. Rupanya kepulangan hasil karyanya ke
Indonesia tersangkut di Tanjung Priok, Jakarta. Sementara itu biaya
gudang untuk hasil karyanya membengkak menjadi 12 juta rupiah, dan
untuk mengeluarkan hasil karya itu dibutuhkan biaya sampai 65 juta rupiah.

Dalam suratnya itu mas Teguh mempertanyakan kepada ibu Mari Pangestu,
menteri perdagangan: "Bagaimana kita bisa memperkenalkan hasil
kreativitas anak bangsa kepada dunia apabila pintu gerbangnya kecil
sekali dan selalu dipersulit agar semakin sempit?"

Sementara kepada pembaca harian itu, ditanyakan apakah ada yang bisa
membantu seniman, yang buta dengan seluk beluk urusan administrasi,
untuk proses mengeluarkan hasil karyanya dengan selamat kembali ke rumah.

Surat pembaca ini mengingatkan saya akan pentingnya peran pemerintah
dalam mengangkat karya anak bangsa ke dunia internasional. Saat ini
terlihat dunia seni rupa Indonesia sedang menggeliat bangun, cukup
banyak pameran seni rupa yang berlangsung di berbagai pelosok negeri.

Di Jakarta saja cukup banyak kegiatan yang bisa didatangi para
pencinta seni rupa Indonesia. Ella Wijt, seorang perupa muda belia,
yang belum lama ini saya liput untuk wikimu.com (lihat
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8946) juga akan
diundang ke pameran di luar negeri. Kalau ada yang membaca artikel
tersebut di atas, mungkin bisa membaca suratan ketakutan akan
kehilangan bakat muda ini setelah dia meneruskan kuliah ke Amerika,
tapi memang hal itu adalah hak pribadinya sebagai seniman yang
tentunya ingin terus berkembang. Bagi saya dia bukan sekedar membuat
burung-burung untuk meniupkan harapan bagi Indonesia, tapi dia juga
salah satu dari bagian harapan itu sendiri.

Mengapa ketakutan itu muncul? Karena kesulitan teknis yang dialami mas
Teguh di atas bisa jadi akan menjadi beban bagi perkembangan seni rupa
di Indonesia. Bukan sekedar bila hal ini menyangkut anak bangsa, tapi
bisa jadi hal seperti itu juga terjadi pada pameran perupa asing ke
Indonesia. Ketika hal ini terjadi, bagaimana seni rupa Indonesia bisa
berkembang?

Ketika berada di Seoul, saya menyaksikan bagaimana masyarakat Seoul
dimanjakan dengan pameran seni rupa bermutu dari luar negeri. Sayang
waktu saya dihabiskan sepenuhnya untuk forum pertemuan international
citizen reporter OhmyNews.com sehingga tidak sempat menyaksikan banyak
pameran. Ketika itu yang terbersit di pikiran saya, betapa
menyenangkannya bahwa masyarakat yang belum mampu ke luar negeri juga
bisa menyaksikan karya perupa terkemuka yang berasal dari museum di
luar negeri tanpa harus ke luar negeri.

Pameran kerjasama seperti ini memang juga terjadi di Indonesia. Simak
saja pameran fotografi dari kedutaan Mexico yang pernah saya kunjungi
di awal tahun ini (lihat
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5640), atau masih
banyak lagi pameran yang tidak sempat saya tuliskan bagi pembaca
wikimu.com.

Saya cukup akrab dengan kegiatan berbagai pusat kebudayaan, dan dahulu
saya sering membatin melihat usaha dari pemerintah dan pusat
kebudayaan pemerintah asing itu untuk mempromosikan para artis muda
maupun bakat kreatif yang mereka miliki. Selain promosi ke luar
negeri, para calon penggiat industri kreatif ini juga memperoleh
pengalaman berharga yang tidak terkira dengan pertemuan mereka pada
aspek lain dari kebudayaan di luar kebudayaan yang dikenalnya. Salah
satu hal yang masih terekam dalam ingatan saya adalah sebuah pameran
di Museum Nasional di tahun 90-an yang antara lain mengangkat karya
seorang ibu rumah tangga dari Australia. Betapa penghargaan
pemerintahnya kepada bakat seni dan kreativitas seni tidak terpasung
pada patokan tertentu.

Ada seniman asing yang saya kenal dari kegiatan di Pusat Kebudayaan
Perancis. Menyenangkan untuk melihat dia berkembang dari seniman muda
berbakat, terus bereksplorasi dalam berbagai bidang seni, hingga
mungkin nantinya tertera dalam nama seniman dunia. Bisakah seniman
Indonesia memperoleh kesempatan yang sama?

Terus terang bila fasilitas dari pemerintah Indonesia bisa
mengakomodasi promosi seniman muda berbakat, entah dengan kerjasama
dengan galeri-galeri atau semata-mata dalam bentuk kegiatan sejenis
yang dilakukan di pusat-pusat kebudayaan itu, saya yakin industri
kreatif Indonesia akan terus berkembang mendunia.

Prosedur yang jelas dan bantuan pemerintah untuk mempermudah jalur
keluar masuknya karya seni ini tentunya tetap memerlukan pengawasan
agar tidak terlepas dari masalah bea cukai yang mungkin menjadi hak
pemerintah bila pameran yang terlaksana bersifat bisnis. Seniman
seringkali "buta" terhadap masalah administrasi dan prosedur hukum
atau lainnya. Ada baiknya bila pemerintah menyediakan sarana untuk
membantu informasi dalam memperlancar seniman nasional go
international. Dengan menetapnya seniman berkualitas internasional di
dalam negeri hal ini kedepannya juga bisa menunjang pemasukan devisa!

tayang di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=9483, 13 Juli
2008.



Kirim email ke