Siapa yang Peduli kepada Mereka?

Oleh YURNALDI
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/23/01494141/siapa.yang.peduli.kepada.mereka



Hiruk-pikuk suasana Pasar Tanah Abang dan deru kendaraan yang berlalu-
lalang sepanjang Selasa (22/7) di kawasan itu seperti menenggelamkan
penderitaan Amri (10). Duduk terkulai di pangkuan ayahnya, Aang (30),
Amri tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan bersuara. Yang ada
hanya rintihan dan air mata.

Selasa petang itu, belum sepotong makanan yang masuk ke mulutnya. Akan
tetapi, air liurnya seakan berkata, "Amri lapar, Pak...."

Masih adakah yang peduli dengan penderitaan Amri? Cermatilah, tubuhnya
kurus kering. Sedikit bergetar, menahan rasa lapar. Tinggal "sedikit
daging" pembalut tulang belulang. Amri sampai tak bisa menggerakkan
anggota tubuhnya.

Karena itu, jangan tanya keinginan dan harapan Amri pada Hari Anak
Nasional sekarang ini.

"Jangankan biaya untuk berobat, biaya untuk makan saja harus menunggu
belas kasihan orang yang lewat di sini. Saya tak sampai hati melihat
kondisi anak saya, tapi mau bagaimana lagi?" kata Aang, yang
beristrikan Uun (20) dengan suara lirih. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Barangkali, tidak hanya Amri yang kondisinya memprihatinkan. Ratusan,
ribuan, bahkan ratusan ribu anak-anak lainnya di banyak daerah juga
dalam kondisi lebih kurang sama.

Betapa banyak pembiaran yang dilakukan negara terhadap jutaan anak di
negeri ini. Dari mulai pembiaran terhadap ratusan ribu anak jalanan
yang terpanggang terik matahari di jalan-jalan raya hingga anak- anak
yang terpaksa putus sekolah karena kesulitan ekonomi keluarganya.
Belum lagi anak-anak yang kelaparan dan menderita busung lapar
sehingga mengakibatkan hilangnya sebuah generasi unggul bangsa.

Kekerasan oleh negara

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan,
pembiaran terhadap anak-anak telantar, anak putus sekolah, apalagi
yang kelaparan tergolong pada kekerasan terhadap anak (child abuse)
yang dilakukan oleh negara. Namun, ironisnya, negara tidak menyadarinya.

Begitu pun sekolah yang memberikan beban pekerjaan rumah terlalu berat
atau stasiun televisi yang menayangkan adegan sadis tergolong tindak
kekerasan. "Namun, masyarakat kurang memahami. Dikiranya, kekerasan
kepada anak hanya berupa siksaan fisik," kata Seto Mulyadi.

Tindak kekerasan dan kejahatan kepada anak, kata Dewan Pakar Lembaga
Cegah Kekerasan Indonesia Indra Sugiarno, saat ini sudah pada tingkat
yang mencemaskan dan mengkhawatirkan. Bahkan, pada akhir triwulan
pertama tahun 2007 muncul kasus dengan tingkat ekstremitas yang
tinggi, yakni sejumlah kasus pembunuhan anak oleh ibu kandungnya
sendiri. Kasus terakhir yang tercatat, Maret 2008 seorang ibu membunuh
bayi dan anak balita dengan cara menceburkan mereka ke bak mandi.

"Modus baru yang harus diwaspadai adalah perdagangan anak untuk dijual
organ tubuhnya. Menurut laporan dalam suatu pertemuan di Australia,
diduga ada anak dari Indonesia menjadi korban perdagangan anak untuk
kepentingan dijual organ tubuhnya," kata Indra.

Menurut dia, anak-anak yang mengalami kekerasan dan kejahatan sehingga
menyebabkan gangguan fisik dan mental diprediksi mencapai 10-12 persen
dari jumlah anak di Indonesia.

"Kecenderungannya meningkat setiap tahun," kata Indra, yang juga Ketua
Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Pengurus Pusat Ikatan
Dokter Anak Indonesia.

Data kasus yang dilaporkan ke kepolisian, setiap tahun ada sekitar 450
kasus kekerasan pada anak dan perempuan. "Sekitar 45 persen dari
jumlah kasus itu adalah anak korbannya," kata Indra.

Di sisi lain, anak-anak juga menjadi korban kekerasan dari lingkungan
masyarakat. Tayangan televisi yang didominasi berbagai berita maupun
sinetron bernuansa kekerasan adalah rangkaian bentuk kekerasan yang
amat besar pengaruhnya bagi pembentukan kepribadian anak pada masa
mendatang.

Dari analisis tayangan anak yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI), meliputi tayangan kartun, sinetron anak, film fiksi nonkartun,
serta program pendidikan dan kuis, ternyata banyak pelanggaran dari
aspek visual, narasi, dan aspek nilai pendidikan.

"Tayangan televisi kita memang belum berpihak kepada anak-anak dan
tidak pernah mempertimbangkan dampak suatu acara terhadap perkembangan
mental anak," kata Koordinator Isi Siaran KPI Yazirwan Uyun.

Pada Hari Anak Nasional ini semoga semua pihak menyadari anak adalah
aset bangsa yang sangat berharga dan harus dilindungi. Sudah saatnya
semua pihak menghentikan kekerasan terhadap anak, mulai dari sekarang
hingga selamanya.

Kirim email ke