Jakarta, Kompas - Dengan kian dekatnya Pemilihan Presiden 2009, calon
bermunculan, termasuk kalangan muda. Mereka dinilai mempunyai energi
lebih, kapasitas, dan juga agenda progresif yang tidak kalah dari
seniornya.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Dialektika Demokrasi bertemakan
”Tokoh-tokoh Alternatif Pemilu 2009”, Jumat (25/7) di Jakarta. Hadir
tiga calon presiden (capres) muda, yaitu Yuddy Chrisnandi dari Fraksi
Partai Golkar DPR, , Ketua Umum Dewan Syura Partai Bulan Bintang
Yusril Ihza Mahendra, Ketua Pedoman Indonesia M Fadjroel Rachman,
serta pengamat politik Sukardi Rinakit.

Menurut Yuddy, Indonesia saat ini memiliki banyak persoalan, yaitu
kemiskinan, ketidakadilan, ketergantungan pada asing, kebodohan, dan
korupsi. Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang memiliki energi ekstra,
visi orisinal, kapasitas, serta keberanian.

Dicontohkan, Soekarno berani memiliki visi menjadikan Indonesia
sebagai kekuatan di Asia Tenggara karena muda dan punya kapasitas.
Begitu pula dengan Soeharto dengan visi ekonomi pedesaan. Presiden
Iran Mahmoud Ahmadinejad juga berani melawan Amerika Serikat (AS).
Atau calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama, yang punya
visi besar atas perubahan.

Yuddy adalah calon presiden muda yang pertama kali mendeklarasikan
diri pada 28 Oktober 2007.

”Saya orang satu-satunya di Partai Golkar yang berani mengatakan siap
maju menjadi presiden. Bahkan, Ketua Umum juga belum berani,” katanya.

Agenda progresif

Fadjroel meminta capres muda jangan hanya dilihat dari sisi usia,
tetapi yang terpenting juga memiliki agenda progresif. Tokoh reformasi
itu memiliki agenda menasionalisasi aset strategis bangsa, mengadili
dan menyita harta kekayaan Soeharto, serta mengusut tuntas kejahatan
hak asasi manusia pada masa lalu.

”Kalau agenda ini dijalankan, kaum muda baru berbeda dengan mereka
yang tua. Berani tidak?” ujarnya.

Menurut Fadjroel, kegagalan pemerintah selama ini pun karena masih
dipegang oleh orang tua yang punya relasi politik dan ekonomi dengan
Orde Baru. Dia juga tidak yakin, banyak capres muda berani punya
agenda itu.

Sebaliknya, Yusril yang dalam Sidang MPR tahun 1999 sudah diusulkan
menjadi calon presiden, tetapi mengalah pada generasi tua, kali ini
menegaskan tidak akan mundur.

”Sudah cukup saya berikan kesempatan kepada orang lain. Kali ini saya
akan maju,” katanya.

Indonesia juga tidak bisa dipimpin oleh orang yang menyandarkan pada
kewibawaan tradisional.

”Yang terpenting itu mampu menghadapi dan menyelesaikan persoalan
nyata,” kata Yusril, yang sudah beberapa kali menjabat menteri itu.

Sukardi Rinakit mengingatkan para capres muda bahwa 80 persen pemilih
berpendidikan di bawah SLTP. Karena itu, faktor kewibawaan tradisional
tetap berpengaruh. Figur muda juga harus memanfaatkan emosi pemilih
tradisional di Jawa.

”Figur muda, kalau mempunyai karakter satria, bisa menerobos,”
ujarnya. (sut)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/26/01103036/calon.muda.memiliki.energi.kapasitas.agenda

Kirim email ke