Mas Wal, kalau kita sok nasionalis sok gengsi memang kita bisa jadi marah2 karena larangan UE yg kayak sanksi bilateral alias perang .. Apalagi yang elite2 pemerintah yang pinter2 keminter itu.
Tapi kalau mau mikir humor aja, larangan terbang UE itu sebenarnya bagus juga buat membatasi semangat mau jalan2 terus si P SBY dan pimpinan negara kita lainnya.. Kalau mau naik Singapore Airlines wah berapa besar biaya nya kan jadi transparan, kalau carter Garuda kan nggak kelihatan, abis sekali pergi pakai anak mantu, dll dll sedang hasil kan bisa dihitung , nol besar . Hasil lain buat rakyat banyak, diharapkan P SBy ini bisa mecat lagi menterinya yg nggak perform , ada alasan nya. Kalau enggak laporan2 bawahan kan cuma ABS , atau selalu biar aman aja buat P SBY karena tekanan partai2 itu.. Jelas masih banyak kecelakaan2 baik lalin udara, darat apalagi laut yg nggak jelas siapa yg harus tanggung jawab... Yang jelas menterinya , dirjen2 nya nggak jelas prestasinya kecuali yang korup minta bagian dalam tender2 yg kemudian rentetan akibatnya yah kecelakaan2 lalin darat, laut udara itu... Udah dikenain sanksi aja masih kayak gini apalagi enggak , barangkali bisa2 kayak zimbabwe negara kita ini , kalau negaranya nggak kaya raya .... Salam , martin - jakarta ----- Original Message ---- From: Wal Suparmo <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, July 26, 2008 11:26:58 PM Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Presiden Tak Akan ke Eropa Sebelum Larangan Dicabut Salam, Bukan pendapat baru dan sudah beberapakali dibicarakan di tingkat atas. 1) Indonesia masih butuh wisatawan dan modal investment dari Eropa. 2) Indonesia masih belum mampu MEMPERTAHANKAN kedaulatan di udara dengan pesawat2 tempur kuno dan sedikit yang ada. Rakyat seharusnya mendukung cara Eropa mau mendobrak BIROKRASI Indonesia yang korupt dan melanggar HAM( pembunuhan Munir di dalam peswat terbang yang dilindungi oleh pemerintah yang tidak mau membongkar persoalannya) . Wasalam, Wal Suparmo
