Oleh Triyono Lukmantoro
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/01/00470455/malapetaka.kuasa.nekrofilia



Nama Very Idam Henyansyah membuat kita terkesima karena aksi-aksi
kejahatan yang dilakukannya. Pria berusia 30 tahunâ€"biasa dipanggil
Ryanâ€"itu merupakan tersangka pelaku pembunuhan berantai.

Lebih dari 10 orang dinyatakan menjadi korban, salah satunya
dimutilasi. Diduga kuat, masih ada korban-korban perbuatan keji Ryan
dan hampir setiap hari menjadi bahan pemberitaan media massa.

Pembunuhan dengan aneka cara bukanlah fenomena sosial yang baru. Pada
awal Juni 2008 terjadi kehebohan di Jepang. Tomohiro Kato, laki-laki
berusia 25 tahun, melakukan perbuatan sadistik. Setelah menabrakkan
mobilnya pada kerumunan massa, Kato lalu melompat keluar dan mengamuk
dengan menikam orang-orang di sekitarnya. Akibat perilakunya itu,
sebanyak 17 orang menjadi korban, tujuh di antaranya tewas.

Kepada polisi, Kato mengungkapkan, dia sudah bosan hidup. Kato tidak
punya motif apa pun, selain membunuh orang, siapa pun yang ditemuinya.
Beberapa jam sebelum kejadian, Kato mengatakan, ”Saya akan menabrakkan
kendaraan saya ke orang-orang dan jika kendaraan itu tak berguna, saya
akan keluarkan pisau. Selamat tinggal semua!” Berbagai pernyataan
bermunculan mengomentari kejadian itu. Salah satunya menyatakan,
moralitas publik dan hubungan antarmanusia mengalami kemerosotan.

Ryan tidak seabsurd Kato dalam melakukan pembunuhan. Kecemburuan dan
menguasai harta korban adalah dalihnya. Namun, apa pun motifnya,
pembunuhan merupakan kejahatan yang umurnya setua peradaban manusia.
Para kriminolog dapat berteori tentang kasus-kasus pembunuhan, dari
eksplanasi yang bersifat individual-psikologis hingga paparan yang
berkarakter komunal-sosiologis. Satu hal yang pasti, pembunuhan selalu
terjadi dan menjadi bagian hidup sehari-hari.

Mencintai kematian

Sebuah uraian yang layak disimak tentang pembunuhan dikemukakan filsuf
Erich Fromm (1900-1980). Dalam tulisannya , Creators and Destroyers
(1964), Fromm mengemukakan dua definisi yang bersifat oposisional
untuk melihat bagaimana manusia menyikapi kehidupan.

Pertama, biofilia yang berarti ”mencintai kehidupan”. Inilah orientasi
normal yang ada di antara orang-orang yang waras. Biofilia tidak
dibentuk oleh sifat yang tunggal, tetapi merepresentasikan orientasi
total, sebuah keseluruhan cara berada manusia. Biofilia
dimanifestasikan oleh proses-proses kebertubuhan seseorang, baik dalam
emosi, pikiran, maupun gesturnya. Pendekatan biofilia terhadap
kehidupan adalah fungsional ketimbang mekanis. Hal itu dapat dilihat
pada sikap etisnya. Baik adalah semua yang terarah bagi kehidupan,
jahat ialah semua yang mengabdi bagi kematian.

Kedua, nekrofilia yang bermakna ”mencintai kematian”. Siapakah orang
yang bercorak nekrofilik, tanya Fromm. Dia adalah orang yang terpesona
oleh semua yang bukan kehidupan, yakni kematian, jenazah, kerusakan,
dan kekotoran. Orang yang dikuasai nekrofilia amat suka berbicara
tentang kesakitan, pemakaman, dan kematian. Tipe manusia pengidap
nekrofilia itu dapat dilihat dalam figur Adolf Hitler. Dia dingin,
kulit tubuhnya menampakkan kematian, ekspresi wajahnya memunculkan
aroma tidak sedap.

Mungkin saja Fromm berlebihan dalam menggambarkan figur fisik
nekrofilik. Hitler tepat dijadikan sosok pengidap nekrofilia, selain
Eichmann dan Stalin. Mereka adalah para penguasa negara yang
menyebabkan kematian dan penderitaan bagi jutaan rakyat. Namun,
kalangan penderita nekrofilia tidak selalu menampilkan sikap terbuka,
seperti Tomohiro Kato di Jepang, dengan menyatakan bosan hidup dan
bertindak bengis terhadap orang- orang tanpa dosa.

Kaum pengagum dan penderita nekrofilia bisa bersikap tertutup atau
menunjukkan keramahan terhadap sesama. Wajahnya menyunggingkan
senyuman, sikap tubuhnya bersahabat, parfum pewangi menghiasi, dan
cara bicaranya mudah memancing keakraban. Manusia-manusia nekrofilik
bisa menjalani kehidupannya di antara orang biasa. Kesadisannya tidak
perlu dipamerkan dalam bentuk kekuasaan yang serba memerintah atau
sikap badan yang menumbuhkan ketakutan.

Bagaikan mesin

Penjelasan Fromm tentang biofilia versus nekrofilia itu serupa dengan
eksplanasi Sigmund Freud (1856-1939) tentang eros (dorongan untuk
hidup) dan thanatos (dorongan untuk mati). Perbedaannya, sebagaimana
diakui Fromm, Freud mengasumsikan dua dorongan itu terberi begitu saja
secara biologis dan bersifat konstan. Fromm menyatakan, nekrofilia
merupakan gejala patologis menular. Tentu saja, penularan nekrofilia
bukan seperti virus influenza yang merambat melalui udara, tetapi
melalui jalinan antarmanusia dalam struktur sosialnya.

Fromm tidak ingin terjebak determinisme biologis ala Freudian. Pada
relasi-relasi sosial, dorongan nekrofilia justru mampu berbiak cepat.
Kehidupan yang dibirokratisasikan, dengan corak industrial dan
peradaban massal, adalah lahan sempurna bagi pertumbuhan nekrofilia.
Dalam kondisi ini, sosok-sosok insani telah ditransformasikan menjadi
benda-benda. Interaksi antarmanusia mengalami reifikasi, hubungan
benda dengan benda. Struktur sosial beroperasi bagaikan mesin otomatis
yang sedemikian dingin dan saling mengasingkan.

Nekrofilia tidak perlu dicari jauh rujukannya dalam sosok Hitler yang
bengis atau Ryan yang sadis. Sebab, nekrofilia dapat juga dilihat pada
figur-figur pejabat negara yang membiarkan rakyat hidup
terlunta-lunta. Para pejabat negara itu menciptakan situasi sosial
tanpa tatanan (anomi) yang menjadikan rakyat bergelimang dalam derita
dan ketidakpastian. Akibat anomi, kita tidak hanya sekali mendengar
berita tentang orangtua yang bunuh diri dengan mengajak anak-anaknya
akibat kemiskinan yang menghebat.

Malapetaka kuasa nekrofilia akan terus terjadi saat rakyat hanya
diperlakukan sebagai angka statistik, bukan sebagai individu yang
menjalani kehidupan.

Triyono Lukmantoro Pengajar Filsafat dan Etika pada FISIP Universitas
Diponegoro, Semarang

Kirim email ke