http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/14/22352970/sby.orang.indonesia.cenderung.tutup.mata.pada.kebaikan.

JAKARTA, KAMIS - Entah menyindir atau tidak, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono memberikan catatannya tentang kecenderungan masyarakat
Indonesia yang seringkali hanya bisa melihat kejelekan dan menutup
mata dengan segala kebaikan. Padahal, menurutnya masih banyak potensi
positif yang bisa digali. Keinginan menjadi yang terbaik--tak sekedar
lebih baik-- menurut Presiden pasti bisa dicapai asalkan punya mental
yang kuat. Salah satunya dengan membangun the culture of excellence.

Presiden pun memaparkan perbedaan antara orang yang optimistis dan
pesimistis. Orang yang pesimistis, selalu melihat segala sesuatu dari
sudut pandang persoalan. Sedangkan orang yang optimistis, selalu
melihat ada jalan keluar dari setiap persoalan.

"Ini adalah pilar dari can do spirit, mental harus bisa! Menghadapi
segala persoalan dengan tegar, tidak boleh mengeluh, tidak boleh
cengeng. Tapi kita yakin there must be a solution. Orang seperti
inilah yang bisa mengubah krisis menjadi peluang," kata Presiden saat
memberikan sambutan pada Penghargaan Achmad Bakrie di Hotel Nikko,
Jakarta, Kamis (14/8) malam.

Lanjut Presiden, "Kalau kita pesimis, yang kita lihat masalah dan kita
tidak berbuat apa-apa dan kita kalah. Kalau optimis, kita mencari
akal, berikhtiar, berinovasi menemukan jalan keluar dari masalah dan
kita menang." Catatan berikutnya yang disampaikan Presiden, perlunya
menumbuhkan budaya apresiasi. Selama ini, masyarakat Indonesia
menurutnya 'pelit' untuk berterima kasih dan mengakui kelebihan orang
lain.

"Apalagi memberikan penghargaan. Marilah kita jadi bangsa yang berjiwa
besar dan pandai berterima kasih. Kita biasanya mudah menyalahkan,
cepat menghukum, menghardik tapi kurang ruang untuk mengapresiasi dan
berterima kasih pada yang lain," kata Presiden.

ING
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kirim email ke