Nah... begitu dong ton, keluarkan argumen mu ! Anyway, tentu kita punya cara dan strategi masing-masing dalam menceburkan diri kita kedalam debunya sejarah sebagai mana analogi anda itu.
Saya setuju ! silahkan anda dgn Budiman Sudjatmiko mu meng-anton-kan PDIP dan biarkan Suhaimi dgn Fadjroel Rahmannya meng-suhaimi=kan Indonesia dengan media golput. Salam hangat, Suhaimi ----- Original Message ----- From: anton_djakarta To: [email protected] Sent: Thursday, August 14, 2008 2:11 PM Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] GOLPUT : PEMILU 2009 BUKAN PEMILU RAKYAT Pak Suhaimi masih ingat kasus ketika fasis dan rasis anti imigran tiba-tiba masuk ke dalam struktur politik di Eropa seperti Perancis dan Belanda pada awal tahun 2000-an?. Hal ini disebabkan adanya tingkat ketidakpedulian masjarakat terhadap Pemilu di negara mereka. Kaum fasis yang mengedepankan energi rasa emosional sehingga gampang menyatukan kekuatan-kekuatan negatif tapi solid. Kesadaran bahwa Pemilu penting kemudian menjadi bangkit ketika kaum Radikal Fasis dan Rasis itu mulai menguasai kursi-kursi di Parlemen. Dalam sistem Pemilu yang sudah bisa dikatakan fair, perjuangan mewujudkan nilai- nilai idealisme yang disalurkan lewat dewan rakyat harus dimaterialisasi dan tidak disia-siakan, bukan menjadi sekedar alat kritik tapi juga menjadi kekuatan besar untuk membenahi bangsa ini. Kalo misalnya wacana golput itu kemudian menjadi wacana yang melebar, apakah ini akan mengurangi potensi kekuatan-kekuatan idealis?. Mereka menolak Pemilu, tapi tidak membuat infrastruktur politik untuk bertarung di tengah masjarakat guna mewujudkan ide-idenya. Kemalasan inilah yang kemudian menjadi tindakan berbahaya. Saya kira tidak akan jadi soal bila Golongan Putih ini dijadikan semacam gerakan protes kemudian menarik massa besar dan lalu dijadikan kekuatan politik yang bergerak mewujudkan masjarakat ideal. Tapi akan jadi soal bila Golput ini hanya sekedar sekumpulan orang yang menggerutu lalu pulang ke rumah dan tidak berbuat apa-apa. Memang kandang-kandang politik kita masih di mayoritaskan oleh sekumpulan orang yang tidak paham bagaimana seharusnya politik bekerja namun tugas sejarahlah, bagi kelompok-kelompok yang merasa dirinya idealis, merasa dirinya intelektualis, merasa dirinya berani untuk masuk ke dalam kandang-kandang partai itu dan melakukan pembenahan bahkan bertarung di dalam untuk merebut kekuasaan yang dipimpin para demagog-demagog tua. Sejauh ini rakyat Indonesia masih memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap Pemilu. Pemilu Nasional jelas akan berbeda tingkat partisipasinya dengan Pemilu Lokal/Daerah. Karena tingkat partisipasi pada level nasional sangat menentukan arah Republik ini ke depan. Saya akan angkat topi bila kemudian hari Golput ala Suhaimi akan menjadi sebuah kekuatan idealis revolusioner dalam menghantam dan mengkritisi kehidupan bangsa dan negara. Tapi bila hanya menjadi sarang gerutuan belaka. Silahkan anda menjadi bagian dari liabilitas bangsa ini, bukan asset. Anton
