Bung Hudan, atas nama kawan-kawan saya mengundang anda dan simpatisan yang lain untuk hadir dalam pembacaan Maklumat Golongan Putih yang akan diselenggarakan pada hari ini Jumat tgl 15 Agustus 2008 jam 13.30 bertempat di Gedung Juang 45 Jl Menteng Raya 31 Jakarta. Kedatangan dan keterlibatan anda dan rekan-rekan lain yang masih bernurani putih dan mencintai negeri ini dengan kesucian hati sangat diharapkan. Tks, salam perjuangan Tjuk KS
--- Pada Rab, 13/8/08, Hudan Hidayat <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Dari: Hudan Hidayat <[EMAIL PROTECTED]> > Topik: [Forum Pembaca KOMPAS] bangsa yang gemetar - sukarno > Kepada: "[email protected] FPK" > <[email protected]>, [EMAIL PROTECTED], "Apresiasi Sastra" > <[EMAIL PROTECTED]> > Tanggal: Rabu, 13 Agustus, 2008, 9:11 AM > bangsa indonesia saat ini bangsa yang demam - gemetar > tubuhnya. sekian puluh tahun yang lalu, seorang pemuda > pemberani antak-antak berusia 25 tahun > > (aduh mudanya! aduh kontrasnya dengan klaim orang tua saat > ini: hey kalian-kalian yang muda-muda tenang-tenang sajalah > dulu, tengok saja dari tepi bagaimana kami menghabiskan sisa > masa bakti hidup kami ini - jangan marah dan jangan sakit > hati. kepemimpinan ini membutuhkan kesinambungan dan siapa > lagi kalau bukan kami-kami old generation yang sudah makan > asam garam kehidupan ini yang akan memimpin, kalau kalian > yang masih ngelap-ngelap ingus itu, kelaklah. jadi sabar ya. > tunggulah kami-kami ini mati dulu atau terkena stroke fatal, > barulah boleh kalian tampil ke gelanggang! > > adeh cape deh bapak-bapak tua) > > dengan gemilang belajar dari perpecahan saat itu dan mulai > menuliskan risalah yang menurut pendapat saya belum ada > duanya di zaman indonesia komtemporer. risalah politik dari > kehendak politik untuk bersatu dan untuk dengan persatuan > itu menggapai indonesia merdeka, yang mana kehendak ini > membuat begitu kecilnya orang sastra dan budaya semacam > takdir alisyahbana dengan kawan-kawannya yang, konon, > begitulah seperti diceritakan, karena sensor balai pustaka > hanya menghasilkan novel dengan kemerdekaan dan kebebasan > melawan adat semata, bukan novel sebagai ajang kebebesan > pemikiran menghendaki dalam aspirasi dan permaianan > metapornya sebuah negeri indonesia yang lepas dari > kolonialisme - seperti yang diidamkan dan diperjuangkan oleh > pemuda yang beraninya itu tak alang kepalang itu: sukarno. > sukarno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. > > sebuah teks gemilang yang lahir sebelum 1928 > > (hey kaum sejarawan! mengapa saya tak pernah mendapatkan > teks itu sejak sd, smp, sma bahkan perguruan tinggi? mengapa > tak kalian patah-patahkan kurikulum itu dan desakkan > teks-teks seperti ini masuk ke dalam imajinasi anak-anak > indonesia, agar nasionalis hatinya dan agar mulia jiwanya!) > > dan alangkah pula indahnya zaman itu. di mana tokoh-tokoh > pergerakan sangatlah membangitkan gairah dan imajinasi di > hati. tokoh dari tokoh yang cerdas pemikirannya dan > bersemangat pula hidupnya. tokoh pembangkang yang siap > menghadapi keadaan yang muskil. dari seorang berpeci kalem > dan berjanggut ala kambing agus salim. atau seorang natsir. > dan lihatlah syahrir yang walau pandak tubuhnya tapi hatinya > besar. dia masuki penjara dan pembuangan dan dia duduk > merenung di dalam penjara. walau dia mencaci maki rakyat > sebagai kumpulan orang-orang bodoh dan walau dia mencaci > sastra indonesia sebagai sebuah ciptaan yang belum sampai > pada arti sastra, hati ini tetap terbuka menerimanya. hati > ini tak marah bakan haru dan lucu: bagaimana syahrir yang > bertubuh kecil itu sudah bisa berpikir sedalam itu dan > menulis menulis menulis aduh sesuatu yang benar-benar luput > dari pemimpin kita kini. > > padahal menulis adalah mengasah pikiran dan hati. nurani > hidup dan semangat berkembang tak mati. semangat dan hidup > untuk memerdekan orang banyak. mengejarkan kebahagiaan dan > kebebasan orang banyak. walau untuk itu diri terbuang dan > badai tergadai dalam penjara. > > aduh indahnya masa itu. menyaksikan dari kekinian bagaimana > tan malaka setengah merenung setengah murung agaknya > berjalan dari sebuah tempat ke tempat lain. mengenang > bagaimana dia menyembunyikan das kapital kitab yang > dianggapnya bisa menjadi obat bagi masyrakat dan kitab itu > disumputkannya ke dasar kolam karena jepang menggeledah > penduduk. > > orang ini, terbuat dari apakah hatinya? dalam miskin dalam > sakit kena tbc berhati mulia menuliskan madilog, buku utuh > yang dirindu-rindukan oleh sebagian pemikir muda saat ini. > mungkin pemikir tua pula. buku utuh yang yang datang dari > ketinggian pikiran melihat dunia. > > dunia yang membutuhkan ilmu bukti aduh indahnya kata-kata > yang digunakannya: ilmu bukti! ia terjemahkan saja > dialektika yang rumit itu menjadi ilmu bukti. siapakah yang > tak mengerti kata bukti? mana buktinya aku ini mencuri? mana > buktinya kamu itu pahlawan? bukti adalah kosa kata > masyarakat di manapun ia berada. > > dengan ilmu bukti itupulah keluhuran hati manusia yang > konon tidak kawin ini (mungkin tidak menikah ya? barang kali > sesekali ia kawin juga hehe) terlihat: akan kupersembahkan > madilog ini untuk kaum proletar. proletar atau marhen? > proletar atau rakyat yang miskin? bagi aku yang rada-rada > anti ilmu ini sama saja. pokoknya orang yang tak mampu. yang > hidupnya cukuplah segobang sehari kata lelaki yang tak pula > kalah dahsyatnya dengan tan malaka ini. orang yang tak mampu > yang harus dibebaskan dari ketidakmampuannya dengan memakai > ilmu bukti. ilmu bukti yang kalau diangkut oleh universitas > menjadi ilmu pengetahuan yang menganak tehnologi dari hasil > riset sehari-hari terhadap alam. membuktikan dan menguak > rahasia alam. untuk kebahagiaan manusia. > > datang pula lelaki sakti yang lain.sakti tapi kalem. > hanyalah dia yang punya ilmu ekonomi. agar ilmu bukti itu > bisa mendarat di bumi tempatnya. agar gelora merdeka itu > dikanal pula ke hidup sehari-hari dari manusia. lelaki yang > konon pula adalah satu-satunya lelaki yang saat drama hidup > manusia besar itu memasuki detik detik akhirnya. saat ia > separuh lumpuh dan buta mencoba mendekap sambil berurai air > mata: hatta, hatta kah itu? aduh mengapa tidak titik air > mata ini menyaksikan sejarah orang tuanya sendiri. sejarah > yang telah dilumpuhkan entah dan oleh apa. > > sejarah dari tragedi manusia. tragedi yang kerap nian > memakan anaknya sendiri. memakan pula orang yang > berpindah-pindah agama itu yang rindu akan pergolakan di > dalam dirinya sendiri. yang ditembak mati - tembakan yang > semestinya sudah datang saat jaman jepang. dari tembakan > kematian yang hanya tertunda saja untuk dirinya. tembakan > yang semestinya sudah datang saat jaman jepang. yang di > detik-detik menjelang kematiannya hanya meminta kalau bisa > diberikan buku. agar ia bisa membaca dan memenuhi hari-hari > akhirnya. apakah yang dikenangnya saat itu? apakah yang > dikenang oleh terhukum di seluruh dunia di menjelang > detik-detik akhir hidupnya? aduh dunia. aduh manusia. > mengapa kah harus saling bunuh membunuh? tidakkah kita bisa > hidup tenang-tenang saja. mandi sabun kamay dan kelon dengan > istri masing-masing. aduh sejarah kehidupan manusia! > > terkenang pula dengan muso dengan aidit yang bagiku nampak > seolah tokoh misterius dari sebuah novel yang mencitrakan > kepahlawanan. citra yang benar. tapi aku yang terdidik > menyimpang dalam pikranku menghargai tokoh misterius ini > dari sudut pandang penyimpangannya itu sendiri. mengapakah > harus berbeda dengan orang banyak? aduh mengapa kah harus > memeluk keyakinan yang bagiku nampak musykil dan absurd itu > (atau mungkin utopis?!) sehingga harus berbenturan dengan > bangsa sendiri. > > kuletakkan saja semua manusia itu dalam deretan imajiku dan > dalam kubangan imajinasiku, siapa tahu kelak aku akan > memanggilnya kembali dan menggelarnya dalam cerita-ceritaku. > aduh cerita-ceritaku. kapan kau akan lahir? kau itu > sebenarnya sudah lahir tapi aku terlalu ketat ya > memperlakukan kalian? agar kalian kuat berdiri dan berlari. > tak mati oleh sebuah anak panah yang melesat dari busur > siapa pun juga. > > kini aku kembali pada pokok tulisan ini. pada pemuda yang > menuliskan risalah politik persatuan yang konon datang dari > jiwanya yang cenderung sinkretis ala wayang. memang ia > berpendidikan wayang (sedang kami berpendidikan kho ping > kho). saban malam ia nonton wayang dan karena itu jiwanya > menggelora. gemetar, katanya. bukan gemetar yang datang dari > tubuh yang sakit ala muhtar lubis. tapi gemetar dari sebuah > passion, dari sebuah kehendak untuk melihat kemerdekaan > bangsanya. kabahagiaan bangsanya. gemetar untuk > memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dari belenggu > penjajajahan bangsa lain. > > adakah kita kini menjadi bangsa yang gemetar, sebagaimana > getar-getar dan ledakan getar-getar yang merambati hati > semua penduduk di jaman pergerakan dulu itu? > > aku tak tahu jawabnya. kukira kami kini telah gemetar oleh > benda-benda dan kuasa. gemetar untuk meraihnya. agar benda > dan kuasa itu seolah rembulan sampai ke pelukan. apakah > rembulan itu akan dijolok dengan batang bambu, atau ditebang > saja langitnya sehingga rembulan itu jatuh sendiri - tak > pula kupunya jawabnya. > > kuharap saja semua yang sedang berlomba-lomba menjolok > rembulan kini gemetar tubuh dan jiwanya, sebagaimana gemetar > tubuh dan jiwa pemimpin-pemimpin kita dulu. > > tak usah seperti mereka benar. separuhnya aja cukup kok. > soalnya musuh nyata fisik kita sudah pergi. yang tinggal > kita-kita saja. kita yang bersaudara dan dari ibu dan ayah > yang sama. > > gemetaran yuk? ayuk. > > (hudan hidayat) ___________________________________________________________________________ Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
