Pak Sohib, Wah ternyata,< ngrefer to email emailnya pak sohib dibawah>..., namanya sohib (kawan) tapi kelakuanya tidak menampakan rasa kesetiakawanan,huehehehe... yang argumenya mentok itu anda pak sohib, setelah sekian lama jadi bulan-bulanan data, fakta valid, dan argumennya Pak Haniwar, tetep aja anda itu mengeluarkan pertanyaan konyol<"mengapa kita harus memakai sepatu orang lain. mengapa utk pembatasan harus merujuk ke malaysia dan perancis?". seperti di email anda sebelumnya>, dan sekarang mencoba berlindung dibalik skripsi mahasiswa S1..,klo untuk tataran debat mahasiswa semester 3 atau 4 bolehlah..,:)
Salam Manung, PS:Pak Sohib, Coba dipelajari lagi paparan Pak Haniwar sebelum2nya, terlalu banyak dan sangat jelas,saya malas mencarikan linknya untuk anda. --- In [email protected], sohibmachmud <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > kalau sudah mentok argumen kok argumennya pakai yg membela C4 > diuntungkan oleh C4. kita ini dari dulu sampai sekarang selalu ada > pembatasan , tetapi nasib yg katanya dlindungi kok tidak berubah ? > kalau ngomong retorika enak saja dirampok C4 , ditindas C4 kalau > diminta secara spesifik apa yg dirampok apa ditindas sudah jelas > muter kagak keruan. > memangnya ukm, suplier supermarket, pedagang pasar tradisonal itu > warga kelas negara kelas satu yg harus dilindungi mati2an. > bagi saya yg tidak mempunyai mental wirausaha , cengeng, hanya > tangan meminta terus, memakai mantan pejabat utk jadi ketua umum, > tidak perlu diberi perhatian yg berlebihan. > masih banyak warganegara lain yg perlu diberi perhatian seperti > penjaga pintu kereta api, pengantar surat pos, perawat puskesmas > dari pedagang pasar tradisonal. > mereka inilah yg paling banyak menguntungkan saya. mereka lah yg > akan saya bela dibela jika ditindas. > > ngomong2 kok ada orang yg ditindas kok diam saja ? > mengapa saya harus membela orang bodoh yg diam saja jika ditindak ? > > setiap orang harus memikirkan nasibnya sendiri, kok nasib ukm dan > pedagang pasar tradsional saya harus memikirkannya ? > > sohib
