salam
kurang lebih 2-3 bulan yg lalu saya keetemu dan bertatap muka dnegan bung
Rahardi Ramelan di depan hotel borobudur jalan magelang,persisnya di warung
bakmi jowo. Beliau bersama istri....
saya sempet terjebak obrolan dengan istri beliau yg duduknya di samping
saya...dan heran dengan ukuran tas saya yg besar [red-sebab saya tergolong
backpakcer].

badannya bugar,sehat wal afiat....mungkin karena di LP cipinang "terrawat"
kali ya..????

salam

pepeng


On 8/20/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/08/20/16382815/rahardi.ramelan.kisahkan.bisnis.di.lp.cipinang
>
> DJ seorang narapidana yang sudah lama menjadi Palkam (Kepala Kamar),
> menguasai perdagangan minyak tanah dan air minum, dan konon omset yang
> didapat sampai 15 juta setiap hari.
>
> Selama dua tahun di LP Cipinang, selain menghidupi 2 orang istri
> dengan 5 orang anak, ia dapat membantu membiayai pembuatan rumah
> keluarganya di desa.
>
> Diperkirakan seluruh omset perdagangan di LP Cipinang bisa mencapai Rp
> 100 juta setiap hari. Bisnis terbesar adalah penjualan rokok, karena
> bukan hanya melayani narapidana melainkan juga petugas dan pejabat.
>
> Itulah cuplikan kisah yang dituangkan mantan narapidana kasus dana
> Bulog Rahardi Ramelan dalam buku yang baru diluncurkannya "Cipinang
> Desa Tertinggal".
>
> Mantan Kepala Bulog itu mengatakan, ia memang mengibaratkan LP
> Cipinang bak desa tertinggal. Mengapa? "Ya karena di dalamnya enggak
> ada pendidikan, enggak ada apa-apalah, persis kaya desa tertinggal,"
> kata Rahardi, usai mengsi diskusi di Komisi Hukum Nasional, Rabu (20/8).
>
> Kisah di dalam buku setebal 190 halaman itu merupakan kisah
> pengalamannya saat menjalani masa hukuman sejak Agustus 2005 hingga
> September 2006. "Selama di LP saya malah gemuk, tambah berat 4 kilo
> karena enggak mikir apa-apa," lanjut dia.
>
> Salah satu kisah yang cukup menarik diutarakannya adalah soal bisnis
> yang ada di dalam LP di bilangan Jakarta Timur itu. Deskripsi yang
> digambarkan Rahardi, hampir di semua blok hunian LP Cipinang yang
> lama, ada berbagai warung yang menyediakan segala keperluan hidup
> layaknya sebuah supermarket.
>
> Berbagai barang yang disediakan mulai dari makanan siap saji, mie
> instan, kopi, beras, dan terigu. Bahkan, sayuran segar dan makanan
> seperti sikat gigi, sandal jepit dan obat-obatan pun lengkap tersedia.
> Warung-warung ini tumbuh subur, karena kebutuhan makanan napi yang
> disediakan LP dinilai kurang standar. "Kualitas dan rasanya sangat
> menjemukan, tidak ada rasa selain asin," demikian tulis Rahardi.
>
> Sewaktu Lapas baru mulai dioperasikan, kondisinya tak jauh berbeda. Di
> Lapas baru, tidak diizinkan memasak di kamar, walaupun kenyataannya
> masih banyak dapur yang beroperasi di sana. Terdapat tak kurang 10
> warung dan kios yang menjajakan berbagai makanan, seperti warung sate,
> ikan bakar, warteg, sayuran, sampai ke kios reparasi ponsel.
>
> Selain bisnis warung, Rahardi juga mengisahkan bagaimana para
> penjenguk dipungut uang (meskipun jumlahnya seikhlasnya) saat akan
> menjenguk kerabatnya yang ditahan. Yang ini, tentunya menjadi bisnis
> dari para petugas Lapas. "Sudah waktunya kita untuk berterus terang
> mengenai keadaan di LP maupun instansi pemerintah lainnya. Jangan
> selalu oknum yang dipersalahkan. Sistem kita yang telah menciptakan
> keadaan demikian. Diperlukan penyelesaian yang menyeluruh termasuk
> kesejahteraan pegawai," demikian Rahardi.
>
> Saat ditanya, apakah ia tak gentar mengungkap praktek-praktek yang
> berlangsung di LP, Ketua Persatuan Narapidana Indonesia ini hanya
> tertawa. "Enggaklah, kenapa harus takut. Saya kan hanya menulis apa
> yang saya ketahui, apa yang saya alami selama saya di penjara,"
> katanya singkat.
>
> Inggried Dwi Wedhaswary
>
> Sent from my BlackBerry �(c) Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kirim email ke