Oleh F Budi Hardiman http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/30/01063515/pasar.politik.yang.raib-hakikat
Ada banyak cara untuk mempelajari perilaku politik dalam masyarakat kita. Salah satu cara yang mungkin kurang lazim, tetapi bisa dicoba adalah dengan melihat hubungan antara konsumen dan produk-produk di dalam ekonomi pasar yang hampir menjadi comprehensive worldview dewasa ini. Jika belanja di pasar-pasar swalayan, Anda akan menemukan produk-produk baru yang tidak pernah ada sebelumnya: kopi tanpa kafein, bir tanpa alkohol, atau susu tanpa lemak. Dalam produk-produk elektronik bahkan kita temukan juga perang tanpa perang (computer games), seks tanpa seks (virtual sex), dan seterusnya. Ciri produk-produk ini adalah tiadanya ciri yang selama ini dihubungkan dengan "hakikat" (negatif) benda-benda itu. Kopi seharusnya dengan kafein, bir seharusnya beralkohol, susu seharusnya berlemak, perang seharusnya dengan pertumpahan darah, seks seharusnya dengan persetubuhan. Namun, persis ciri-ciri berisiko itulah yang dihilangkan. Raibnya risiko juga berakibat raibnya hakikat produk-produk itu karena justru risiko itulah yang menandai nature mereka. Mungkin atas tuntutan para konsumen dan demi kepuasan konsumen produk-produk yang raib-hakikat itu ada di pasar. Akan tetapi, tuntutan dan kepuasan konsumen itu tidak boleh dilepaskan dari perilaku sosial masyarakat konsumen dewasa ini. Orang ingin kenikmatan, tetapi tanpa jerih payah yang lama, melainkan dengan cepat dan tanpa risiko. Hasrat ini juga beroperasi dalam hubungan antarmanusia. Seandainya ada karakter atau isi kepribadian yang bisa diperoleh tanpa perjuangan untuk menjadi dewasa, melainkan cukup dengan membelinya, konsumen dewasa ini pasti juga berminat untuk mengambilnya. Karena karakter sedikit banyak berkaitan dengan citra dan pencitraan, dan hal-hal ini bisa dibeli dan dimanipulasi. Agaknya suatu karakter tanpa pendewasaan diri, yaitu suatu karakter tanpa karakter, juga sudah menjadi kenyataan di dalam masyarakat konsumsi dewasa ini. Kesan pintar, saleh, cantik, otoritatif, cool, dan sebagainya bisa dikoordinasikan dan langsung dapat "dinikmati" para konsumennya, entah itu kelompok penggemar, kelompok agama, ataupun para konstituen partai. Pasar politik kita Di dalam politik kita yang semakin mirip dengan pasar itu, kita juga dapat menemukan "produk-produk" baru yang secara analogis mirip dengan susu tanpa lemak atau karakter tanpa perjuangan menjadi dewasa. Mereka adalah "pemimpin-pemimpin tanpa kepemimpinan", yaitu orang-orang yang sedang atau akan memimpin kita, tetapi tidak mempunyai nature untuk memimpin. Sebagian adalah produk-produk mesin politik Orde Baru yang memimpin kita bukan karena kualitas moral atau karakter, melainkan karena jabatan; sebagian lainnya adalah cangkokan dari habitat lain. Kepemimpinan selalu berkaitan dengan kualitas-kualitas tinggi dalam moral dan karakter. Kualitas-kualitas, seperti visionary, empowering, authentic, resonant, heroic, transformational, dan puluhan ciri lain—yang lalu menjadi judul buku-buku tentang leadership—adalah hasil tempaan yang lama dan penuh jerih payah melalui keterlibatan penuh dedikasi di dalam komunitas yang melahirkan nature kepemimpinan itu. Maka, kepemimpinan juga dilekatkan dengan ide-ide dan perbuatan-perbuatan besar yang membawa perubahan, sekalipun harus lama bertekun, bergerak melawan arus, dan tak jarang berkorban untuk para pengikut. Pada para pemimpin tanpa kepemimpinan, nature seperti itu tidak ditemukan. Mereka naik terlalu cepat sebelum karakter dan kualitas moral mereka ditempa komunitas yang mereka pimpin. Dicangkokkan dari luar, mereka tidak berakar dalam komunitas itu. Tidak puas di dalamnya, mereka "lompat pagar". Menipu publik Menghilangkan risiko yang melekat pada susu, kopi, seks, dan perang tentu demi kesejahteraan konsumen, karena mereka membeli untuk maksud itu. Dalam politik situasinya berbeda. Munculnya pemimpin-pemimpin tanpa kepemimpinan justru memperbesar risiko. Tak tumbuh dari publik, mereka mudah tergoda untuk mengkhianati dan menipu publik. Pemimpin seharusnya memberdayakan, tetapi mereka memperdaya. Dalam politik yang didikte pasar perbedaan antara voters dan consumers makin tidak relevan. Sudah sejak lama, mungkin sejak zaman kolonial, kita dibiasakan untuk memandang kepemimpinan sebagai perkara jabatan dan bukan sebagai kualitas moral dan karakter yang melekat pada pribadi yang tak tertukarkan. Seperti benda-benda konsumsi lainnya, jabatan bisa beroperasi dalam sistem pertukaran dengan kode uang atau kuasa. Karena itu, jabatan-jabatan bisa diisi atau dikosongkan menurut logika birokrasi atau modal. Bukan nilai intrinsik kepemimpinan yang penting di sini, melainkan efek pencitraannya terhadap voters. Kembali pada publik Mengembalikan kepemimpinan kepada publik bukan berarti marketing orang-orang pilihan elite kepada publik, melainkan menghasilkan pemimpin-pemimpin dari proses deliberasi publik. Proses penyaringan tidak dibuat sekonyong-konyong dari atas untuk kebutuhan sekonyong-konyong pula, melainkan mulai dari sel-sel terkecil deliberasi warga, seperti ketetanggaan, organisasi sosial, perusahaan, dan seterusnya. Sel-sel deliberasi warga sudah kita miliki dan tinggal diaktifkan. Sebuah kelompok arisan pun bisa berubah menjadi forum deliberasi politis jika para pesertanya mulai peduli dengan kepemimpinan publik. Darinya dapat tumbuh rational voters. Makin banyaknya konsumen yang menyukai kopi tanpa kafein atau bir tanpa alkohol akan menguntungkan pasar dan tidak merugikan masyarakat. Namun, peningkatan jumlah emotional voters yang berselera terhadap pemimpin-pemimpin dengan nama besar tapi tanpa kepemimpinan bukan hanya tidak menguntungkan pasar, melainkan juga merugikan demokrasi, karena baik pasar maupun masyarakat akan dipimpin oleh orang-orang yang sebenarnya tak berhak berkata: "kami mewakili kalian". F Budi Hardiman Dosen STF Driyarkara, Jakarta
