salam sudah di jual di portal sebelah : http://www.amazon.com/Island-Krakatoa-Illustrated-September-English/dp/B0018JX80Q/
Price: *$184.99 *salam pepeng On 8/31/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Laporan wartawan Kompas Yurnaldi > > > http://kompas.com/read/xml/2008/08/31/10515861/ditemukan.naskah.kuno.letusan.krakatau.1883. > > JAKARTA, MINGGU-- Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang > meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 > Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat > langka dan menarik, tiga bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair > Lampung Karam. Peneliti dan ahli filologi dari Leiden University, > Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada Kompas di Padang, Sumatera > Barat, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, Minggu (31/8). > > "Kajian-kajian ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir > luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang mencatat > kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun 1883 itu. Dua tahun > penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian pribumi dalam bentuk > tertulis, " katanya. Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus > 1883, gunung Krakatau telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan > dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 km dan tsunami > setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang. > > Sebelum meletus tahun 1883, Gunung Krakatau telah pernah meletus > sekitar tahun 1680/1. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang saling > berdekatan; Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata. > Suryadi menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan > Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The > Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa > Committee of the Royal Society (London, 1883). > > Sedangkan sumber tertulis pribumi terbit di Singapura dalam bentuk > cetak batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya mencatat 1301 H > (November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul Syair Negeri > Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (42 halaman). " Tak lama > kemudian muncul edisi kedua syair ini dengan judul Inilah Syair > Lampung Dinaiki Air Laut (42 halaman). Edisi kedua ini juga > diterbitkan di Singapura pada 2 Safar 1302 H (21 November 1884), " > paparnya. > > Edisi ketiga berjudul Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik > Air Laut (49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga > ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3 > Januari 1886). Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut Syair > Negeri Anyer Tenggelam. " Edisi keempat syair ini, edisi terakhir > sejauh yang saya ketahui, berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya > (36 halaman). Edisi keempat ini juga diterbitkan di Singapura, > bertarikh 10 Safat 1306 H (16 Oktober 1888)," ungkap Suryadi, yang > puluhan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. > > Menurut Suryadi, khusus teks keempat edisi syair itu ditulis dalam > bahasa Melayu dan memakai aksara ArabMelayu (Jawi). Dari perbandingan > teks yang ia lakukan, terdapat variasi yang cukup signifikan antara > masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh kelisanan yang masih > kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh di Nusantara pada > paroh kedua abad ke-19. Suryadi yang berhasil mengidentifikasi tempat > penyimpanan eksemplar seluruh edisi Syair Lampung Karam yang masih ada > di dunia sampai saat ini menyebutkan, Syair Lampung Karam ditulis > Muhammad Saleh. > > Ia mengaku menulis syair itu di Kampung Bangkahulu (kemudian bernama > Bencoolen Street) di Singapura. " Muhammad Saleh mengaku berada di > Tanjung Karang ketika letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat > bencana alam yang hebat itu dengan mata kepalanya sendiri. Sangat > mungkin si penulis syair itu adalah seorang korban letusan Krakatau > yang pergi mengungsi ke Singapura, dan membawa kenangan menakutkan > tentang bencana alam yang mahadahsyat itu," katanya. > > Bisa direvitalisasi > > Suryadi berpendapat, Syair Lampung Karam dapat dikategorikan sebagai > syair kewartawanan, karena lebih kuat menonjolkan nuansa jurnalistik. > Dalam Syair Lampung Karam yang panjangnya 38 halaman dan 374 bait itu, > Muhammad Saleh secara dramatis menggambarkan bencana hebat yang > menyusul letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Ia menceritakan > kehancuran desa-desa dan kematian massal akibat letusan itu. > Daerah-daerah seperti Bumi, Kitambang, Talang, Kupang, Lampasing, > Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung, Gunung Basa, Gunung Sari, > Minanga, Tanjung, Kampung Teba, Kampung Menengah, Kuala, Rajabasa, > Tanjung Karang, juga Pulau Sebesi, Sebuku, dan Merak luluh lantak > dilanda tsunami, lumpur, dan hujan abu dan batu. > > Pengarang menceritakan, betapa dalam keadaan yang memilukan dan kacau > balau itu orang masih mau saling tolong menolong satu sama lain. > Namun, tak sedikit pula yang mengambil kesempatan untuk memperkaya > diri sendiri dengan mengambil harta benda dan uang orang lain yang > ditimpa musibah. Selain menelusuri edisi-edisi terbitan Syair Lampung > Karam yang masih tersisa di dunia sampai sekarang, penelitian Suryadi > juga menyajikan transliterasi (alih aksara) teks syair ini dalam > aksara latin. > > "Saya berharap Syair Lampung Karam dapat dibaca oleh pembaca masa kini > yang tidak bisa lagi membaca aksara Arab-Melayu (Jawi). Lebih jauh, > saya ingin juga membandingkan pandangan penulis pribumi (satu-satunya > itu) dengan penulis asing (Belanda/Eropa) terhadap letusan Gunung > Krakatau," jelas Suryadi. > > Peneliti dan dosen Leiden University ini menambahkan, teks syair ini > bisa direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang > akademik, budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan > untuk mengemaskinikan teks Syair Lampung Karam itu dalam rangka agenda > tahunan Festival Krakatau. Juga dapat direvitalisasi dan diperkenalkan > untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian khasanah budaya > dan sastra daerah Lampung. > > Yurnaldi > > > -- ---------------------------- http://escoret.net/blog dust from the past ----------------------------- [Non-text portions of this message have been removed]
