saya setuju dengan Bapak Joni. kata2 Anda tentang pihak developer dan kontraktor yang lalai benar adanya. banyak pihak2 berduit ini memang hanya memikirkan keuntungan besar tanpa ada rasa pertanggung jawabannya. membuat segala sesuatu seminimal mungkin dari segi biaya. tidak peduli bahwa kualitas bangunan yang dibuat rendah.
ini juga membuat kita berpikir, bagaimana konstruksi bangunan dan model bangunannya bisa disetujui pihak pemerintah misalnya. bila kita melihat ini dari kacamata mikro, kita akan menemukan bagaimana pihak2 yang tidak bertanggungjawab terlalu banyak di luar sana. dan tak mungkin bagi kita untuk meminta pertanggungjawaban mereka satu persatu. sehingga kita sebagai pribadi mau tidak mau dituntut untuk bertanggungjawab terhadap hal2 yang terjadi di sekitar kita. inilah peranan kita sebetulnya dalam kehidupan. misalnya sebagai ayah, kita yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak. bukannya malah menyalahkan tayangan televisi yang tidak berbobot, atau masyarakat yang moralnya semakin menurun. semoga pendapat saya bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. salam, Aga Wrehatnala Marketing Executive IndoProperty --- In [email protected], "Joni Yulianto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Walah-walah-walah, kok malah orang tuanya yang lagi berduka menjadi sasaran hujatan.. Panjenengan itu kepripun tho mas? > > Bagi saya, yang mesti diperbaiki adalah standard keamanan dan aksesibilitas konstruksi gedungnya. Memang ada faktor kelalaian orang tua disini, tapi yang lebih nyata adalah bahwa banyak apartemen di Indonesia dibangun tanpa memperhatikan standard keamanan dan yang lebih parah lagi gedung-gedung dan bangunan publik yang tidak memperhatikan standard aksesibilitas. > > Ini PR besar bagi para developer! Jangan hanya berfikir untung besar dari biaya produksi yang minim! Kalau ini terjadi di US, yang saya bayangkan adalah justru yang akan dituntut adalah pengelola dan developer gedungnya...! > > [Non-text portions of this message have been removed] >
