Sumur Minyak , Aryanisme dan I Malaqbi
Sebentar lagi propinsi termuda ini (sulbar) akan menjadi propinsi
penghasil minyak di nusantara. Dengan beberapa titik sumur  minyak
yang akan segera menuju tahap pengeboran dan pengelolaan. Tentunya
semua perusahaan minyak yang mendapat izin akan segera mendapatkan
keuntungan yang melipah, meski tak dinaya pertambangan cadangan minyak
di propinsi termuda ini cenderung dipaksakan. Meski cadangan sedikit
namun pengelolaan minyak sulbar harus  dilaksanakan untuk kepentingan
masayarakat umum yang sebesar-besarnya. Begitu kiranya janji para
pejabat-pejabat  kita setelah menandatangani MoU Migas dengan beberapa
perusahan minyak Asing.
Tambang migas disulbar ini, mengingatkan kita pada beberapa daerah di
nusantara dan beberapa negara di dunia yang memngalami gempa bumi
dasyat setelah pengeboran migas dilaksanakan, Gempa dan bencana
tsunami yag menyapu Aceh yang menelan 500.000 korban, Gempa Kobe di
Jepang yang menelan 2 juta korban, Gempa Iran yang menelan 300.000
jiwa dan yang terakhir Gempa Cina yang menelan korban 200.000 jiwa.
Alasannya, pengeboran minyak dilaksanakn dengan beberbagai prosedur,
termasuk perizinan, survei amdal yang aman. Ujung-ujungnya 30 tahun
setelah Exon Mobile mengagali minyak di Aceh Gempa dasyat pun terjadi.
Apakah sulbar akan menjadi Korban selanjutnya ?
Tak ada yang disalahakan disini, akan tetapi menggeser kebrutalan
manusia dengan mengkambing hitamkan gerakan lempeng erusia adalah
sesuatu yang sangat tidak bijak untuk alam. Ditengah terus kampanya
safe you world, Global Warming, serta teknologi ramah lingkungan,
namun disisi lain, penggasakan hutan, pembuangan limbah beracun kelaut
dan sungai, pembangunan rumah kaca terus berjalan tanpa henti, lalu
jika terjadi bencana; alam lagi yang disalahkan. Hal yang sama terjadi
pada kasus Lumpur Lapindo yang berubah status menjadi bencana Alam,
sehingga biya penagngungan bencana tentu bergeser menjadi tanggung
jawab pemerintah dengan menggunakan APBN yang nota bene dari pajak
yang dipungut dari rakyat. Selanjutnya, Bakry Group dan Lapindo
melenggang pergi dan hanya berkewajiban membayar ganti rugi.
Saya teringat kehancuran bangsa Indus sekitar 1800 SM, Mortimer
Wheeler (The Phantom Voyagers: 2008/27) dalam tulisannya Mohedro Daro
, sebuah kota besar dalam peradaban Indus (Sekarang India) yang
dihancurkan oleh orang-orang indo-eropa yang berbangsa Arya, mereka
membunuh seluruh manusia wanita, dan anak-anak tanpa membangun kota
itu kembali. Serangan Bangsa Arya ke Indus adalah awal mula serangan
bangsa Eropa terhadap peradaban Timur, beberapa abad selanjutnya,
kolonialisme, imprealisme, liberalisme dan globalisasi yang melanda
seluruh negara dunia ketiga, terjadi secara serentak. 
Dan ingat kedatangan mereka (bangsa Arya) selalu menyebabkan
kehancuran bagi pradaban pribumi. Peradaban Inca, Maya dan Aztec di
Amerika Latin hancur akibat penjajahan Bangsa Spayol, Perdaban Indian
hancur akibat migrasi besar-besaran bangsa Eropa ke Amerika. Peradaban
bangsa Aborigin dan Maori di Australia luluh lantak akibat Bangsa ini.
Afrika yang kelaparan, perang saudara tak berkesudahan, kudeta
pemerintahan, genocida dan kehancuran alam adalah pemandangan
sehari-hari dibenua ini yang merupakan hasil dari pertikaian politik
yang merupakan konsprisai para negeri Eropa.
Nasib Indonesia nampaknya tidak jauh berbeda, setelah tiga abad
dijajah oleh Belanda, bangsa ini kembali terpuruk akibat resesi
ekonomi, padahal siapa yang tidak mengakui negeri ini kaya dengan
seumber daya alam yang melimpah. Ironisnya, sumber daya yang melimpah
tak bisa dinikmati oleh rakyatnya sendiri, Sebab semua SDA yang
melimpah harus dinikmati oleh pejabat yang korup, investor yang haus
keserakahan dan ketamakan harta. Sampai saat ini pun, bangsa Eropa
masih terus menancapkan kukunya di negeri ini. Mereka selalu mewarisi
watak bangsa Arya sebagai nenek moyang mereka. Orang bilang buah jatuh
tak jauh dari pohonnya.
Data ini sebenarnya tidak bermula dari rasa antogonis, akan tetapi
jika demikian adanya saya pikir mencibir dalam kondisi terhina dan
tertindas adalah sebuah perlawanan yang paling kecil dari sebuah
perlawanan besar seperti perlawanan bersenjata. Hanya saja, tak habis
pikir bangsa yang telah begitu lama terjajah, malah berbalik mengagumi
bangsa yang menjajahnya, sebuah realitas yang berada diluar imaginasi
kita sebagai bangsa yang juga punya peradaban. Setiap jengkal tanah
dan hutan dari bangsa ini terus digerogoti oleh mereka namun tak
sedikitpun yang tersisah untuk anak-cucu bangsa ini.
Sulbar, telah lima tahun provinsi ini mendeklarasikan diri secara
administratif berpisah dari sulsel propinsi sedarahnya; 10 tahun
sebelumnya, identifikasi sampai pada eksplorasi migas di wilayah
sulbar telah lama berlangsung. Eksplorasi seismik yang mengorbankan
ratusan rumpong nelayan Majene hanya lah kasus awal dari rangkaian
proses eksploitasi minyak tersebut meski setiap rumpon diganti dengan
harga 25 jt per rumpun namun secara dialektis ini adalah awal mula
pihak nelayan yang berekonommi rendah harus menyerah pada perusahan
yang bagi mereka Rp 25 jt bukun lah ukuran sementara waktu dan resiko
yang harus ditanggung oleh nelayann tidak sebanding dengan biaya ganti
rugi tersebut. 
Jika merujuk lebih dalam, beberapa perusahan minyak asing yang telah
memenangkan tender pengeboran di enam blok pengoboran adalah Exxon
mobile di blok Suramana dan blok Mandar, Marathon international di
blok Pasangkayu, Statoil Hydro di blok Kuma, Conoco Philips di blok
Karama dan Tately N.V di blok Budong-budong, sementara Gemmatera dan
Mandar International Co. Ltd, adalah perusahan lokal yang lebih nampak
sebagi pelengkap. Menariknya, Exxon mobile dan Marathon International
adalah perusahan minyak raksasa milik AS yang telah terbukti berhasil
mengeksploitasi minyak dunia dengan hasil produksi yang melimpah namun
disisi lain mereka juga telah menyebabkan kerusakan alam di belbagai
dunia. 


Kirim email ke