http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/08/00340444/konspirasi.negara.adidaya.itu.memang.ada

Selama ini, konspirasi negara adidaya dengan organisasi global hanya
muncul sebagai tuduhan. Namun, konspirasi itu ternyata memang ada yang
akibatnya menyengsarakan negara-negara miskin dan berkembang, dan yang
lebih buruk lagi adalah menyengsarakan umat manusia.

Paling tidak, itulah pengakuan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari
ketika menceritakan pengalamannya melawan konspirasi ketidakadilan
sistem WHO dalam diskusi ”Perlunya Keberanian dan Keterbukaan untuk
Mewujudkan Dunia yang Lebih Baik” di Universitas Paramadina di
Jakarta, akhir pekan lalu.

Indonesia, sudah 63 tahun merdeka, mempunyai tanggung jawab untuk
menyejahterakan rakyat. Tanggung jawab ini merupakan kewajiban negara.
Selain itu, negara juga bertanggung jawab menegakkan citra bangsa di
mata dunia. ”Kita bisa menguji pada diri sendiri apakah betul sudah
merdeka, baik fisik maupun nonfisik, atau justru sekarang kita
mengalami eksploitasi,” ujar Fadilah.

Paling tidak, itulah yang terjadi ketika Indonesia terserang virus flu
burung. Musibah ini seakan-akan memberi hikmah kepada Indonesia.

”Saya merasakan adanya ketidakadilan, dan ini membuat saya protes ke
WHO atas sistem yang tidak fair. Selama ini, kita disuruh mengirimkan
virus ke WHO, tetapi ujung-ujungnya dikomersialkan. Ketika ditanya
lebih lanjut kok bisa sampel virus itu berada di Los Alamos, tempat
yang sama ketika senjata atom dibuat?” ujarnya.

Virus flu burung Indonesia, menurut Fadilah, merupakan virus dengan
strain yang paling ganas di dunia.

”Mengapa kita diwajibkan setor ke WHO dan kita dapat apa? Ternyata
kita ditawari vaksin, kalau tidak sanggup membeli, diberi pinjaman,
yang harus dibayar nantinya. Inilah sistem dunia yang tidak adil yang
saya lawan,” ujarnya.

Itulah sebabnya, Fadilah mengatakan, dirinya menghentikan pengiriman
virus ke WHO sejak awal Januari 2007. Kemudian terjadilah serangkaian
pertemuan yang dimulai dengan pertemuan pada 10 Februari 2007 dengan
utusan WHO dan hasilnya deadlock. Bahkan, Indonesia lalu mengajukan
resolusi 60 melawan Amerika Serikat, yang akhirnya bisa dimenangkan
karena mendapat dukungan dari 122 negara Non-Blok. Belakangan,
resolusi ini juga mendapat dukungan dari Rusia, Inggris, Jerman, dan
Australia.

”Inilah bentuk konspirasi dalam mekanisme internasional yang
menimbulkan ketidakadilan,” ujarnya.

Dengan menguasai teknologi, memiliki modal dan kemampuan, dianggap sah
merampas hak sumber daya alam. ”Inilah pula yang menyebabkan negara
miskin makin miskin, termasuk juga intellectual property rights, itu
juga tidak menghargai sumber daya alam,” ujarnya.

Fadilah mengatakan bahwa sekarang sudah saatnya dunia harus berubah,
Amerika juga berubah, dan dunia global yang hegemoni penuh eksploitasi
harus diubah ke arah globalisasi yang penuh harmoni.

”Selama negara masih mengalami hegemoni, negara kuat menguasai negara
yang lemah, kita akan selalu menghadapi dunia yang korup,” ujarnya. (MAM)

Kirim email ke