Peneliti akan menjadi peneliti hebat jika tidak ada iblisnya seperti : - proyek penelitian fiktif - SPJ fiktif - Laporan fiktif - Nilai jafung fiktif
Begitu juga dosen akan hebat jika tidak ada iblisnya seperti : - Mengajar di jalur khusus - Penelitian fiktif - Pengabdian masyarakat fiktif - Nilai jafung fiktif Antara peneliti dan dosen sama, bedanya dosen profesor, peneliti profesor riset (tapi saat ngajar dua-duanya dipanggil prof aja). Klo keduanya yang sudah dibayangi iblis internal, dibawa ke ekse/legi..Gawat, nambah lagi iblis eksternalnya kan ancur booooooo. Jadi setuju penelilti dan dosen itu harus duduk manis Peneliti asik mengamati sesuatu dengan tidak perduli orang lain (beronani) Dosen asik menceramahi dengan tidak perduli diri sendiri (bersodomi) Ilmi 2008/9/15 sohibmachmud <[EMAIL PROTECTED]> > > membaca tulisan indra jp di milis ini saya berpendapat bahwa > peneliti tidaklah cocok utk jadi politisi baca anggota dewan. > habitat peneliti dan pendidik tidaklah cocok dgn habitat politik. > alasan pengrekrutan peneliti dan pendidik karena belum > terkontaminasi dgn perbuatan korusi dan suap adalah tidak benar. > pengalaman ketua kpu yg profesor dan anggota kpu yg sebagian besar > akademisi tidaklah membenarkan asumsi tsb. > saya sependapat dgn tamrin tamagola bahwa seorang pendidik memang > lebih berperan dalam habitat pendidikan ketimbang di politisi atau > eksekutif pemerintahan. > anwar nasution lebih tepat berkiprah di pendidikan dan mengakhiri > karirnya dgn manis. > demikian halnya budiman sujatmiko saya berpendapat lebih tepat dia > berkarir di dunia pendidikan entah sebagai dosen s2 dgn segala teori > yg dipunyainya. > saya juga yakin sby lebih optimal jadi dosen s2 dibanding jadi > presiden hanya tidak tahu apakah muridnya nanti mengantuk atau > tidak. > > sohib > > > [Non-text portions of this message have been removed]
