Seluruh pesimisme ataupun kritik terhadap para caleg ini sebaiknya
janganlah dianggap sebagai suatu 'fait accompli'.

Marilah kita lihat hal-hal yg melatarbelakanginya. Saya menghormati
semangat perubahan yg diusung Bung B.Sudjatmiko & Uda Indra J.Piliang.
Tapi ingat, sebelum era Bung & Uda, banyak aktivis ataupun orang-orang
yang telah mengusung semangat perubahan yang (hampir) sama, namun
mereka malah tergerus oleh kekuatan 'status quo'.

Mereka-mereka itu mantan aktivis yang tadinya selalu berseru kepada
pemerintah, yang tadinya ditindas, yang terancam nyawa & masa depannya!

Mereka itu tadinya juga masih naik metromini meskipun sudah menyandang
predikat anggota legislatif. Tapi mana perubahan progresif yang mereka
bawa? Tanpa bermaksud mewakili siapapun, maka saya berseru, saya
menanti perubahan itu dari para caleg seperti Bung B.Sudjatmiko & Uda
Indra J. Piliang.

Salam,

Patrick Hutapea



--- In [email protected], Budiman Sudjatmiko
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Seto
>  
> Silakan anda daftar kendaraan umum yang anda tahu ada di Jakarta...
> Itu lah rata-rata yang kerap saya naiki. Meskipun, utk momentum2
tertentu ketika harus menghadiri acara yang menuntut kerapian/tidak
tampak berbaju kusuh..ya, saya naik taxi
> (saya tak mau menutupi bhw saya suka berpenampilan rapi, shg banyak
orang sering 'tertipu' bhw saya berbaju mahal).
> Apakah saya mampu berbaju mahal?...Pekerjaan saya (yg tak ada
hubungannya dgn mencuri uang rakyat), tentu masih memberikan saya
pendapatan cukup utk membeli baju bagus (sekali lagi saya tekankan:
saya BUKAN orang miskin).
> Tapi itu tak cukup utk membuat saya bisa membeli mobil sendiri di
tengah banyaknya kegiatan politik yang menuntut saya harus alokasikan 
dana pribadi utk kegiatan organisasi saya, dan juga utk biaya sekolah
anak saya. Atau barangkali memang punya kendaraan pribadi dan rumah
pribadi tak pernah 'mampir di kepala saya' sebagai ukuran kesuksesan
saya (Catatan: saya masih menumpang di Pondok Mertua Permai).
> Bung...saya punya ukuran2 sendiri utk menilai apakah saya sukses
atau tidak...dan materi rasanya tak pernah saya masukkan dlm tolok
ukur itu. 
> Inilah ukur2an kesuksesan hidup saya menurut versi saya:
> 1. Bisa bersekolah di unversitas yg bagus (alhamdulillah pernah
merasakan)
> 2. Memproduksi tulisan yg mempengaruhi orang banyak (alhamdulillah,
meski masih dlm bentuk artikel2 di koran dan majalah. Buku akan keluar
dlm tahun ini. Moga-moga)
> 3. Memiliki otoritas politik utk mempengaruhi perbaikan hidup orang
banyak secara lebih efektif (moga-moga terlaksana kalau terpilih jadi
anggota DPR)
> 4. Bisa mendidik dan menyiapkan pendidikan yg bagus utk anak saya,
lewat beasiswa
>  
> Materi hanya berguna sejauh ia bisa menopang/menunjang sesuatu yang
immaterial dlm hidup. Saya tak mau habiskan hidup utk meraih banyak
materi dgn merusak reputasi saya.
>  
> Apakah saya sanggup utk jadi kaya (dgn segala atribut awam ttg apa
itu yg disebut kaya)? Rasa-rasanya saya bukan lah orang  yg terlalu
bego/bodoh sehingga tdk tahu cara mencari uang...Network, pengalaman,
pendidikan dan ketrampilan saya rasanya tidak jelek-jelek amat, shg
msh laku utk saya jual utk 'menjadi kaya' (sekali lagi: dalam ukuran
orang awam). Menjadi anggota DPR BUKAN LAH salah satu cara yg akan
saya tempuh utk 'menjadi kaya secara material'. Sekali lagi saya
tegaskan: Pasti Bukan! 
>  
> Menjadi anggota DPR (saya BUKAN anggota DPR, sampai saat ini) adalah
pertaruhan diri saya, diri anda dan seluruh orang yg kita kasihi.
> Mungkin ada orang yg segera menyela:' ah itu kan ucapan orang yg
BELUM menjadi anggota DPR...'
> Mungkin perlu ditegaskan di sini, menjadi anggota DPR bukanlah
kesempatan (baca: posisi) politik tertinggi yg pernah saya capai
selama ini. Saya pernah menjadi orang yg cukup dekat dgn presiden
Abdurrahman Wahid (punya banyak akses utk 'jadi kaya'), tokh nyaris
tak sepeserpun saya pernah gunakan itu untuk menumpuk pundi-pundi.
> Rasanya pula, saya cukup bisa jualan nama saya dlm bursa politik dan
mengkonversinya jadi uang tatkala (segera setelah reformasi), status
aktivis pro demokrasi itu segera berubah dari status kriminal menjadi
status selebritis...
> Tp sekali lagi saya nyatakan: material incentives  tdk pernah
sungguh2 jadi incentives buat saya atas apa yg saya lakukan selama ini
(dgn segala kekurangan yg saya punya).
> Karena itu, kadang saya tersenyum2 geli juga kalau sesekali di milis
ini, saya jumpai sejumlah nama telah menempatkan diri mereka jadi
pengadil atas satu perkara dan 'terdakwa' yg bahkan mereka tak ketahui.
> Soal saya berpakaian necis dan rapi? Sekali lagi: saya suka tampil
rapi (mungkin itu sisa-sisa narcisme yg ada di diri saya
ha...ha...ha...just kidding), krn saya adalah orang yg suka membongkar
takhayul bahwa aktivis itu pasti gondrong, berjaket kulit dan dgn
geraham mengeras, 'mengawal prinsip-prinsip perjuangan'. Bagi saya
seorang aktivis jalanan juga bisa tampil rapi, boleh berapi-api di
podium di hadapan massa aksi atau forum debat, disemprot gas air mata
dan bisa berkelahi bersenjatakan tongkat melawan polisi anti
huru-hara...tapi masih tetap bisa tersenyum ramah dlm keseharian.
Jadi...wajar-wajar saja lah dalam hidup. Saya merasa dengan semua ini,
saya jadi orang yang wajar, waras, dan biasa-biasa saja seperti
seluruh anggota milis FPK ini. Justru karena saya adalah orang biasa,
maka saya butuh demokrasi dan terjun ke polirtik utk membuat banyak
hal baik menjadi mungkin untuk banyak orang...
>  
> liberte, egalite, fraternite
>  
> Budiman Sudjatmiko
> (yang pernah mau dibelikan mobil oleh seseorang agar gak dicap
'ke-kiri-kiri-an'...) 


Kirim email ke