Oleh Robert JS Nayoan
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/04/01455388/hikmah.krisis.keuangan.as.atas.bursa.domestik



Krisis keuangan di Amerika Serikat yang berawal dari krisis subprime
mortgage menjalar dan merontokkan sejumlah lembaga keuangan AS.
Pemain-pemain utama Wall Street berguguran.

Sementara rencana bailout main street (julukan pelaku pasar untuk
Pemerintah AS) sebesar 700 miliar dollar AS diperkirakan hanya akan
memperlebar defisit anggaran Pemerintah AS yang berdampak pada
timbulnya krisis lain yang lebih serius.

Krisis ini berdampak pada aktivitas pasar modal global. Perkembangan
indeks bursa saham di beberapa bursa dunia yang sebelumnya menunjukkan
kinerja yang outperform terkoreksi turun sampai dengan level yang
tidak diperkirakan.

Jika dibandingkan dengan awal tahun 2008, Indeks bursa Shanghai telah
turun sebesar 64 persen, Kuala Lumpur Composite Index sebesar 34 persen.

Adapun Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia per tanggal 16
September 2008 menyentuh level terendah 1.719,254, terkoreksi 39,3
persen dihitung dari level IHSG tertinggi 9 Januari 2008 di level
2.830,260.

Rontoknya IHSG akibat sentimen global memang menyedihkan. Apalagi
krisis ini sebenarnya hanya membawa magnitude yang kecil, tidak
membawa kerugian langsung terhadap aktivitas pasar modal Indonesia.

Rasionalisasi portofolio

Kerugian langsung mungkin hanya dialami sebagian kecil investor yang
memiliki eksposur atas aset-aset yang terkait langsung dengan
lembaga-lembaga keuangan AS yang bermasalah.

Jumlahnya pun tidak signifikan meski akibat aksi jual investor dalam
rangka menutup kewajiban perusahaan induknya yang kolaps sempat
melemahkan posisi rupiah terhadap dollar AS.

Dengan kondisi fundamental Indonesia saat ini, sebenarnya tidak ada
alasan bagi investor untuk melakukan rasionalisasi portofolionya.

Melemahnya IHSG akibat sentimen global krisis keuangan AS sebenarnya
memberikan hikmah positif karena tanpa kita sadari kinerja IHSG selama
ini relatif overvalued.

Turunnya IHSG ke level saat ini lebih mewakili kondisi fundamental
yang sebenarnya (priced-in). Meski level IHSG saat ini belum
dipastikan merupakan level equilibrium baru, tetapi dengan kondisi
fundamental yang perform akan menahan aksi spekulasi yang mendorong
IHSG terkoreksi lebih dalam.

Dengan tingkat likuiditas global saat ini yang relatif masih sangat
tinggi, diperkirakan tujuan investasi investor akan ditujukan ke
berbagai bursa-bursa emerging market yang dapat memberikan potensi
tingkat pengembalian/imbal hasil (expected return) yang menarik bagi
investor, tak terkecuali Indonesia. Inilah sebenarnya berkah
terselubung krisis keuangan AS untuk pasar modal Indonesia.

Tidak bisa kita mungkiri bahwa investor pasar modal Indonesia saat ini
masih didominasi investor asing. Berdasarkan data dari Kustodian
Sentral Efek Indonesia (KSEI) per tanggal 31 Juli 2008 kepemilikan
saham investor Asing di Bursa Efek Indonesia sebesar 64 persen,
sisanya 36 persen adalah kepemilikan saham oleh investor lokal.

Peran investor asing ini di satu sisi membawa dampak positif
meningkatkan likuiditas berupa aliran modal masuk (capital inflow),
tetapi di sisi yang lain merupakan ancaman instabilitas pasar ketika
investor asing ini keluar dan menarik modalnya (capital outflow)
secara masif dan tiba-tiba.

Sampai saat ini di pasar modal Indonesia belum mengindikasikan adanya
capital outflow secara besar-besaran sebagai dampak dari krisis
keuangan AS.

Namun demikian, kita harus mewaspadai kemungkinan terjadinya penarikan
modal investor asing secara besar-besaran. Ketidakpastian perekonomian
global sebagai dampak dari krisis keuangan AS masih dominan dan
memberikan peluang terjadinya capital outflow secara besar-besaran di
pasar modal Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita mengantisipasi kondisi ini?
Pertama, meningkatkan kinerja sektor riil sebagai penunjang
fundamental ekonomi. Harus kita akui bahwa kinerja fundamental
perekonomian kita beberapa tahun belakangan ini bukanlah disebabkan
oleh peningkatan sektor riil, seperti peningkatan daya saing, kenaikan
produktivitas, dan investasi sektor riil, tetapi lebih disebabkan
pengaruh fluktuasi harga komoditas dan kinerja sektor keuangan.

Sementara tingkat pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat, tidak
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi (paradox of growth). Ini menandakan
fundamental perekonomian kita artifisial dan semu. Fundamental
perekonomian yang rapuh menciptakan ekspektasi negatif buat investor
karena mencerminkan kondisi ketidakpastian.

Kedua, stabilitas politik dan keamanan. Menjelang Pemilu 2009 tentunya
meningkatkan eskalasi dan dinamika politik di Indonesia. Stabilnya
politik dan keamanan menjadi pertimbangan utama investor dalam
melakukan alokasi dan distribusi portofolionya.

Apabila stabilitas polkam menjelang pemilu terkendali, lalu hasil
pelaksanaan pemilu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang dapat diterima
oleh pasar, akhirnya meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas pasar
modal Indonesia.

Ketiga, regulasi yang market friendly. Pihak regulator harus selalu
menciptakan kebijakan yang market friendly terhadap pasar, yaitu
kebijakan yang dapat mengakomodasi keuntungan investor dengan tidak
mengesampingkan kepentingan investor minoritas.

Regulasi yang market friendly akan memberikan kenyamanan bagi investor
untuk berinvestasi dengan horizon waktu jangka panjang. Investor
melakukan investasi dasarnya adalah ekspektasi atas tingkat
keuntungan/pengembalian dan tingkat risiko investasi. Dengan struktur
perekonomian yang kuat, keamanan berinvestasi dan regulasi yang market
friendly akan meningkatkan ekspektasi investor pada pasar modal Indonesia.

Momentum krisis keuangan AS ini merupakan kesempatan untuk mengubah
persepsi pasar modal Indonesia sebagai pasar modal dengan karakter
high risk high return menjadi karakter pasar modal yang dapat
memberikan harapan tingkat keuntungan (expected return) yang optimal
dengan tingkat risiko investasi yang minimum sehingga bisa menarik
modal masuk.

Robert JS Nayoan Fund Manager PT Brahma Capital

Kirim email ke