saya termasuk yg mikir dalam urusan perberasan.., kita cukup on the right track ( kalau peternakan nggak)..,
Deptan memfokuskan misal pada bibit hibrida, lalu meminta perbaikan irigasi, menghidupkan lagi pemandu lapangan yg akan membimbing petanii,juga menyiapksan skim kredit utk petani, mau impor pupuk misal dr Iran.. Dari data yg pernah sy kirim kesini , terlihat bhw produktivitas lahan maupun produktivitas per petrani kita rendah.dibanding nerara tetangga apalagi dibanding develop country. Dan itu bisa dinaikkan dgn melaksanakan hal hal diatas. Gak usah cemas soal adanya pengurangan jumlah orang yg mau jadi petani. Dimana mana di seluruh dunia jumlah petani juga berkurang. Bahkan di data tsb di sebut bhw sebenarnya penambahan lahan di di Indonesia lebih besar dibanding negara tetangga , yaitu di luar Jawa. Negara lain, semuanya negaranya sudah sempit shg nggak bisa buka lahan baru... jadi penyusutan lahan pun bukanmaslaah utama kita.. Diseluruh dunia , secara umum keterbatasan lahan telah terjadi , tapi tidak di Indonesia , yg masih punya lahan di luar Jawa. Btw , kita teap harus melarang konversi lahan pertanian.., dan kalaug ak salah sudah/sedang di buat UU nya.. Dalam tulisan sy kemarin pd topik ini, sy justru menghimbau jangan takut dlm penggunaan teknologi baru , termausk GMO. Keengganan dalam hal ini , justru jebakan sejati , dibanding ancaman dr pindah nya orang bekerja dir bidang pertanian ke bidang lain. Bertani organik O K saja.. tapi bicara soal volume dan harga maka organik bukanjawabaannya.. O ya dalam pasca panen pun kita ketinggalan besar. Bayangkan buah buahan dr Amrik dan Thai , bisa sampai dlm keadaan bagus bagus, atpi salah dr Bali atau Mangga dr jatiom bisa busuk sesampainya di Jakarta. Begitupun kerugian pasca panen padi, Bayangkan lagi, padi hibrida setidaknya bisa hasilkan 8 ton per ha , sedang rata rata hasilhari ini cuma 4 ton pe rha.. Kalau saja semua pakai bibit yg benar , pupuk yg cukup pengairan yg cukup, angka 5 ton pe rha sungguh gak sulit dicapai dan itu berartu peningkatan 25 % . Aaplah artinya tarhet 5 % , apalah juga rating jumlag impor kita yg selama ini tidka pernah melebihi 5 % dr produksi nasional. O ya dalam tulisan yg datanya sy kuti[ juga di sebut bhw pemakaian pupiuk Indoneisa juga termasuk rendah di banding negara yg pertaniannya maju. Masih ada lagi IRRI , pusat penelitian beras dunia, telah berhasil membuat benih beras kuning , yaitu beras yg melalui rekayasa genetika, telah dimasuskan vitamin A. Nah fortifikasi melaui rekayasa genetika ini, akan juga bisa jadi jawaban bagi kesehatan rakyat miskin kita yg pemakan beras. Masalahnya kita harus secara ilmiah mampu membuktikan bhw semua itu aman, dan jangan ikut aja teriakan sementara LSM tentang bahaya masa depan dr teknologi baru tanpa bukti penelitian yg cukup. Oya soal bahaya masa depan ada yg menarik., di widya Karya Pangan nasional bulan lalu, wakil dr FAO bikin pernyataan bhw : ternyata energi alternatif dr tanaman memberikan polusi /kerusakan lingkungan yg bahklan lebih besar dari pada energi yg berasal dr fossil" bingung kan ?? .. lha kan kita sudah senang krn kita mampu memproduksi ini krn punya lahan. Sebagai dampak pernyataan semacam ini, kita tahu bhw ada penolakan pada CPO kita utk energi krn budi daya sawit kita justru dianggap merusak kan lingkungan dunia. Makanya kita harus tahu lebih banyak untu kbersikap lebih tegas. Klaau kitya merasa dlm IT maju pesat , sebenarnya bgt juga dlm pertanian.. Kita aja yg tidur. Di Amrik, kini sudah berhasil di produksi spi baik utk pedaging maupun susu hasil dr kloning. Dan ini sudah dinyatakan aman oleh FDA.. Eropa lg mengkaji ap abenar aman. Lha bagaimana dgn peternakan kita yg masih terseok seok. Soal kebijakan memang harus hati hati, Ada teman dr Kedubes Brazil bilang.., kalau Indonesi anggak mau memberi kita celah utk ekspor..daging, kenapa kami harus mau mentransfer teknologi dan bekerjasama soal etanol utk energi ? kalau saya.., selalu merasa lebih senang bisa kerja sama dgn Brazil Indiaatau Cina dibanding dgn yg selama ini diajak kerjasama oleh negara kita ini.Ingat ..suatu masa kita bergandeng tangan dlm kekuatan Asdia Afrika Amerika Latin.. Kini , mrk , negara AAA sudah maju, dan bisa berteriak lantang, sementara kita tertatih tatih masikh disikte oleh kekuatan yg disebut Bung karno the old established forces itu. Dan anda boleh percaya mrk maju krn keterbukaan dlm penggunaan teknologi majiu.India Brazil dan Cina memakai teknoligi GM., Kita ?? bodoh tap[i sok pandai.., miskin tapi sombong.. ehh kok jadi marah matah ya akui.. frustasi kaleee. Contoh dlmhal kebijakan impor daging. Praktek zonasi diperkenalkan awal thn 2000 ,yg di pentingkan adalah risk assesment dan traceability. Nggak penting apa negara itu sepenuhnya bebas atau nggak, tapi kalu sistimnya menjamin trace ability , dan ada kepastiuan bhw yg di potong adalah sapi sehat. Maka dia boleh di ekspor. Kalau car akuno.. Maka hanya dr negara yg bebas penyakit kita boleh impor. Nah terdan sudha dilakukan risk asesment lihat lagi Kompas dna pendukung nya kuno. Nggak ikut teknologi yg lebih maju.. Merdeka.. HS At 09:21 PM 04-10-08, you wrote: >program peningkatan 2juta ton bisa dibilang cukup sukses di tahun >2007. karena menag gaungnya sangat santer sehingga semua departemen >berkonsentrasi ke sana. tetapi untuk th 2008 kok gaungnya gak kedengan >lagi pak? padahal target kenaikannya bukan hanya 2jt ton, tapi >ditambah lagi 5% (maksudnya begitu kan?, jadi 2,1 juta ton).
