Data Bagi Haniwar Syarief Tentang PMK
1. Alasan utamanya bukan pada dpt harga lebih murah, tapi lebih
krn kebijakan selama ini ketinggalan jaman shg menimbulkan monopoli
(Haniwar, 2008).
Fakta :
Apakah anda dapat mendefinisikan "kebijakan yang ketinggalan
jaman" ? apakah yang anda maksud adalah kebijakan pemerintah
mengenai importasi daging sesuai dengan surat edaran menteri
pertanian nomor TN.510/94/A/IV/2001 tanggal 20 April 2001 tentang
tindakan penolakan dan pencegahan masuknya PMK ke Indonesia ? surat
edaran yang dibuat oleh mentan periode sebelumnya berdasarkan
analisa kebijakan para ahli peternakan dan peneliti di deptan, yang
pada kalimat pertamanya tertulis "Berdasarkan laporan dari OIE
" ?
Sampai detik ini OIE masih memasukkan PMK sebagai penyakit pada
urutan nomor 1 dalam List A daftar penyakit menular, hal ini bukan
tanpa alasan mengingat PMK sangat mudah menyebar tetapi proses
eradikasi sangat sulit dan memerlukan waktu lama untuk dilakukan.
Ingat mengenai kasus menyebarnya virus PMK dari laboratorium merial
di Inggris bulan agustus 2007? Padahal lab tersebut adalah Lab Bio
Security Level 3 yang sudah memakai pengamanan berlapis. Ya semudah
itu virus PMK dapat menyebar. Apa yg terjadi jika dalam 1 kontainer
daging misal, terdapat 3 atau 4 kg daging yang mengandung virus PMK?
Jika Inggris dengan segala teknologinya tidak bisa menghentikan
penyebaran virus PMK, apakah menurut anda Indonesia mampu menangani
masalah penyebaran virus PMK? Sama seperti cara kita mencoba
menghentikan virus Flu Burung?
Kalau kita sedikit saja meluangkan waktu untuk melihat pada
kata "PMK", dan tidak hanya pada kata "daging" maka kita akan
mendapat data yang jelas mengapa kebijakan ini diberlakukan.
2. Faktanya adalah bahwa OIE ( organisasi kesehatan hewan
dunia ) memang membenarkan impor dr daerah yg punya zone bebas
penyakit PMK dan pastinya para pakar organisasi kesehatan dunia
bukan orang bodo, malah pastinya banyak yg lebih pintar dr Suhadji
(Haniwar, 2008).
Fakta :
Anda memang 100 % benar, para pakar organisasi kesehatan dunia
bukan orang bodo, malah pastinya banyak yg lebih pintar dr Suhadji.
Karena hal ini maka OIE masih memasukkan PMK sebagai penyakit pada
urutan nomor 1 dalam List A daftar penyakit menular dan berdasarkan
resolusi no XVII tentang Recognition of the Foot and Mouth Disease
Status of Members yang mulai berlaku 27 Mei 2008 masih tetap
memasukkan Brazil dan Negara-negara tetangga Brazil seperti Uruguay,
Argentina, Colombia, dan Peru sebagai Negaranegara yang belum bebas
dari PMK.
3. Kompas juga gak pernah memgangkat kenyataan bhw bahkan
Australia, dan New Zealand ( dua Negara bebas PMK ) juga impor dr
Brazilia (Haniwar, 2008).
Fakta :
Mohon maaf untuk masalah yang satu ini kami belum pernah
memperoleh data resmi sehubungan dengan issue importasi daging dari
Negara Brazil yang berstatus belum bebas PMK ke dalam Negara
berstatus bebas PMK yang pemasukan utamanya dari peternakan seperti
Australia dan New Zealand. Tapi saya kira para pejabat resmi di
kedutaan Australia atau New Zealand akan sangat tertarik dengan
statement anda tentang issue ini, terlebih lagi jika anda memiliki
data resmi.
4. Pastinya Kompas gak pernah memuat pendapat Prof Dr Malole yg
mengatakan impor daging dr zone bahkan kompoartemen yg bebas dr PMK
adalah aman.. Tentunya dgn mengikuti protocol yg ditentukan OIE
(Haniwar, 2008).
Fakta :
Benar sekali pendapat anda dan Prof Dr Malole mengenai
importasi dari zone atau kompartemen bebas PMK adalah aman dengan
mengikuti protocol yang ditentukan OIE. Apakah anda dapat
mendefinisikan kalimat "sesuai protocol yang ditentukan OIE" ?
apakah anda pernah mengetahui jenis uji apa saja yang diperlukan
untuk mendeteksi keberadaan virus PMK dalam daging, yang seharusnya
dikerjakan oleh pihak negara pengekspor dan karantina negara
pengimpor ? Apakah sejak tahun 1990 dimana Indonesia dinyatakan
sebagai negara bebas PMK tanpa vaksinasi melalui resolusi OIE no XII
tahun1990 sampai saat ini tahun 2008, pihak karantina pernah dan
diperbolehkan melakukan uji deteksi PMK terhadap bahan daging dan
olahan impor yang masuk melalui pelabuhan dan bandara? Silahkan anda
mencari data mengenai uji apa saja yang pernah dikerjakan oleh
karantina sehubungan dengan penyakit PMK.
5. O ya didunia ini.. soal status Negara bebas atau gak bebas
PMK gak penting lagi.. yg penting risk assessment , lalu adanya
safety assurance , dan trace ability. Ketika para pakar melihat
bhw itu semua ada ya sudah, gak peduli hanya satu slaughter house
saja yg bias memastikan bhw semua produk yg dikeluarkannya adalah
pasti aman dan sehat maka orang boleh mengimpor dr situ. Slaughter
house spt iIni yg disebut Compartment free PMK
Nah bahkan Brazil sudah sampai pada zone free , yg wilayahnya
bahkan jauh lebih luas dr Negara New Zealand..
Di sekeliling zone itu harus ada buffer zone yg memastikan bhw sapi
yg mungkin berpenyakait dr luar wilayah itu gak bias masuk ( mana
pernah Kompas cerita ttg ini ?? ) (Haniwar, 2008).
Fakta :
Benar sekali pendapat anda mengenai 'yang terpenting adalah
risk assesment dan safety assurance" banyak negara-negara yang sudah
menerapkan analisa resiko ini terhadap importasi daging dari negara
berstatus belum bebas PMK atau bisa juga yang diperhalus zona atau
kompartemen bebas PMK. Ada beberapa fakta yang menarik mengenai hal
ini, sebagai berikut :
Menurut laporan terakhir dari Europe Union Food and
Veterinary Office , terdapat beberapa "kegagalan sistem" pada
industri daging Brazil saat dilakukan kunjungan oleh para ahli dari
Uni Eropa. Kegagalan tersebut meliputi kesalahan registrasi,
identifikasi hewan, serta pengendalian pergerakan hewan, serta tidak
adanya jaminan mengenai kemungkinan masuknya hewan yang terinfeksi
PMK untuk dipotong dan di export dagingnya ke negara Uni Eropa. (
22 April 2008, Steve Dube, western Mail ).Dalam laporan lain juga
disebutkan bahwa tidak adanya ear tags untuk identifikasi hewan pada
sapi yang akan dipotong sebelum memasuki RPH ( 29 Mei 2008, Western
Morning News, The Plymouth UK ).
6. Nah kalau orang melalui risk assement yakin bahwa ada safety
assurance dan ada traceability shg selalu bias dijejaki kembali
kalau ada maslaah.. lalu kita impor dari situ .. baru pendapaat
orang pintar yg logis (Haniwar, 2008).
Fakta :
Ada juga data menarik dari konsep "trace ability " yang anda
sebutkan sebagai berikut :
Dalam laporan Europe Union Food and Veterinary Office juga
disebutkan bahwa tidak adanya ear tags untuk identifikasi hewan pada
sapi yang akan dipotong sebelum memasuki RPH ( 29 Mei 2008, Western
Morning News, The Plymouth UK ). Mungkin kita semua perlu untuk
memperoleh cukup data untuk mampu mengambil keputusan yang pintar
dan logis sebelum melakukan importasi.
Data yang baik adalah data jujur yang diperoleh langsung dari
lapangan, andapun dapat mencari data yang valid, seperti pada saat
anda menangani kasus di Carrefour yang ternyata tidak mengakui surat
Departemen Perdagangan mengenai Trading Term pada bulan Maret 2007.
7. Kompas juga gak mau mengerti dan tidak pernah mengemukakan
bhw selama ini daging asal India terus masuk di Kalimantan dan
Sumatra yg diselundupkan dr Malaysia, . Tapia pa faktanya
apakah
telah menyebabkan Sumatra dan Kalimantan terkena PMK
nggak kan ??
Padahal India hanya punya kompartemen bebas belum zona bebas
(Haniwar, 2008).
Fakta :
Benar sekali penjelasan anda mengenai banyaknya lalu lintas
daging illegal ke Kalimantan dan Sumatra dari India dan Malaysia.
Tetapi apakah anda yakin bahwa tidak ada kasus PMK di Kalimantan dan
Sumatra? Sudahkah anda meneliti hasil surveillance yang telah
dilakukan Deptan ? Dapatkah anda menjelaskan ketidak jelasan kasus
PMK di Sumatra dan Jawa pada tahun 2007 ?
8. Buat Mas Patrick.., saya gak sembarangan bela Mentan, krn yg
saya ajukan ada argumennya.. Katakanlah kebenaran walau siapa [un
yg engucapkannya. Masa kalau Mentan sy anggap benar nggak boleh di
bela. Soal bela membela itu yg penting argumentasinya ..bukan soal
orang nya tapi apa programnya katakanl;ah yg benar itu benar
siapaun yg mengatakannya (Haniwar, 2008).
Fakta :
Pak Haniwar Syarif, kami sangat setuju dengan pernyataan anda
mengenai katakanlah yang benar itu benar
siapapun yang
mengatakannya. Andapun berhak membela Mentan sesuai dengan tanggung
jawab dan profesi anda, sama persis seperti tulisan dan komentar
anda pada Forum Pembaca Kompas pada tanggal 19 Januari 2007 untuk
klarifikasi sosis tulang.
" Soalnya saya kebetulan adalah Direktur eksekutif NAMPA (National
Meat Processor Association / Asosiasi Pengolahan Daging Nasional).
Tulisan ini, masih tulisan pribadi saya, walau jabatan direktur
eksekutif NAMPA dan kesarjanaan teknologi pangan memang kebetulan
melekat pada saya, Kalau statement NAMPA ya harus liwat prosedur
kan.. " ( Haniwar, 2007 )
9. Suryopratomo bilang bgt katanya Kompas mesti berpihak pd yg
lemah pd rakyat kecil rupanya kepentingan Australia itu
kepentingan rakyat kecil apapun yg dikatakan orang
akhirnya
nalar kita jua yg bis amastikan setelah melihat semua data.. dan
kita untung punya Pak Agus ..yg mau memuat berita yg bahkan
menyerang Kompas.. dan berpulang pada penilaian kita maisng
masinglah menilai Kompas (Haniwar, 2008).
Fakta:
Memang benar bahwa kita harus berpihak pada rakyat kecil. Apa
definisi anda tentang "rakyat kecil" ? rakyat Indonesia yang lebih
dari separuhnya berada di bawah garis kemiskinan? Para peternak dan
petani? Para penjual bakso? Para pekerja di pabrik anda? Atau kita
harus melihat dengan jelas semua data sebelum kita melakukan
penalaran ?
Jika seandainya terjadi importasi daging dari Negara belum
bebas PMK yang dagingnya disembelih secara syariat Islam, Halal,
Sehat, Aman, dan juga lebih murah, ada 2 skenario yang mungkin
terjadi dengan harga daging sekarang di Indonesia (sekitar Rp.
58.000 ). Daging yang ASUH ( Aman, Sehat, Utuh, Halal ) dan tidak
terlalu mahal masuk Indonesia. Para pedagang mengambil daging Impor
tersebut untuk dilakukan pengolahan menjadi begbagai macam produk
daging atau dapat juga dijual langsung setelah dipacking. Misal saja
setelah harga dasar importasi ditambah 5% bea masuk, 2,5% PPN, 10%
keuntungan importer, dan 5% biaya lain diperoleh harga daging yang
lebih murah Rp.20.000 (Haniwar 2008), sehingga harga daging impor di
pasaran menjadi Rp.38.000.
A. Skenario 1 :
Indonesia adalah surga bagi pedagang, karena kita semua sangat
konsumtif. Di pasar tradisional yang sering dipenuhi oleh rakyat
kecil, tidak pernah ada suatu hal yang namanya "penurunan harga"
dari harga jual awal oleh para pedagang. Sehingga daging seharga Rp.
38.000 tetap dijual seharga Rp. 58.000. Siapakah yang memperoleh
keuntungan ? apakah para rakyat kecil? Atau para pedagang ?
Perlu bukti ? bagaimana dengan harga gas kita yang setiap bulan
selalu melambung, setelah terjadi konversi gas dan minyak tanah tiba-
tiba menghilang dari pasaran.
" Kalau harga gas kita yg ke Cina atau ekspor kenegara lainnya yg
kontrak nya katanya hanya dibawah USD 3 per mmbtu , tidak naik..,
kenapa utk industri dalam negri harus naik
?? Kok yg dip eras
bangsa sendirinya
.?" Jadilah industri ngr lain maju,. Dan inustri
kita terengah engah" (Haniwar, 2007)
B. Skenario 2 :
Para pedagang di Indonesia adalah para pedagang yang nasionalis
dan mau membela kepentingan rakyat kecil, maka harga daging di
pasaran mengalami penurunan menjadi Rp.38.000. Konsumsi daging di
Indonesia 30% Impor dan 70% adalah produksi peternak dalam negeri.
Kenyataan yang ada bahwa dengan harga daging yang Rp.58.000,
peternak Indonesia pun masih sulit memperoleh keuntungan yang cukup
karena mahalnya harga pakan yang dikuasai oleh swasta. Hal ini juga
yang menyebabkan sedikit peternak yang masih mau melakukan budidaya,
mereka lebih suka melakukan usaha penggemukan karena dirasa lebih
menguntungkan itupun dengan harga daging masih Rp.58.000.
Sekarang apa yang terjadi dengan para peternak lokal kita yang
70% itu dengan adanya penurunan harga daging? Yang terjadi adalah
masyarakat akan beralih membeli daging Impor yang lebih murah dan
dapat bergembira sesaat sebelum akhirnya para peternak memutuskan
untuk berhenti beternak karena sudah tidak menguntungkan lagi dan
beralih menjadi distributor daging impor.
10. yg disiarkan Cuma dr sudut nya Mangku , Siswono,
Suhaji.., sedang alasan Mentan utk merasa bhw pembukaan ini aman
tidak pernah dimasukkan dlm berita. Yg ada cuma, Menteri spa
bertanggung jawab. Misalnya ya dia pasti siap bertanggung
jawab.., tapi mengapa atau apa argumennya shg bernai punya inisiatip
ini , nggak pernah masuk koran Kompas. Dikesankan hanya
karena .. dr Brazil lebih murah.
Padahal.. yg benar dia lbh murah dan tetap aman halal.. Nah kenapa
Menteri berpikir ini aman halal dan sehat tidak pernah diuraikan
oleh Kompas (Haniwar, 2008).
Fakta:
Mungkin kita bisa sedikit melihat atas dasar apa terjadi
komentar mengenai penolakan importasi daging. Mangku sitepoe adalah
ilmuwan PNS di IPB yang concern dengan PMK dan masih hidup dengan
gaji PNS, Suhaji adalah PNS yang dilengserkan dalam hal penolakan
kasus importasi daging, Siswono adalah pengusaha dan birokrat yang
mencoba bertindak mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Anda dapat mengecek dahulu mengenai profil para penentang importasi
daging ini. Menurut anda apakah mereka menfapat keuntungan dengan
jika terjadi penolakan atas importasi daging? Atau kita sedikit
bermain logika : siapakah yang mendapat keuntungan dengan adanya
importasi daging dari Brazil yang lebih murah ? apakah para
pedagang? Atau yang pihak lain? Broker dan Fasilitator pedagang
misalnya? Dimanakah peranan NAMPA dalam polemik importasi daging
ini ?
Sekarang mengenai harga daging yang murah, jujur saja memang
harga daging dari Brazil lebih murah. Mengenai masalah halal, apa
definisi anda mengenai kata "halal" ? daging dari hewan yang
disembelih atas nama Allah SWT ? benar sekali. Tetapi jika daging
yang disembelih tersebut mengandung resiko yang membahayakan
masyarakat luas( PMK atau BSE ? ), atau lebih banyak mendatangkan
mudharat dibandingkan manfaat, apakah masih masuk dalam kategori
halal ?
11. Coba lihat satu barius aja :
" Berdasarkan perhitungan IVW, total kerugian akibat wabah PMK yang
berlangsung lebih dari 100 tahun diperkirakan mencapai Rp 11,6
triliun "
Itu rugi 100 tahubn
Bayang kan rugi takyar Inbdonesia 100 tahun , kalau harus beli
dgaing lebih mahal Rp.20.000 aja dr seharusnya
ini itungannya , konusmi perkapota 1.7 kg , jumlah rakyat 240
juta , mak apertahun ; Rp. 20.000 X 240.jutaX1.7 = rRp.
8,160.000.000.000, kalau Cuma 30 persen yg diimpor , jumlah kerugian
pertahun Rp. 2.720.000.000.000. Berapa jumlah nya utk 100
tahun ???
Kalau ini riil, bisa di kalkulasi sederhana (Haniwar, 2008).
Fakta :
Kami pikir ada beberapa hal yang dapat dikutip dari pernyataan kali
ini
A. Benar sekali bahwa kasus PMK pertama di Indonesia terjadi
di daerah Malang, Jawa Timur pada tahun 1887. tahun 1980-an,
kejadiannya terbanyak di pulau Jawa, namun demikian sejak kejadian
wabah terakhir tahun 1983, maka pemerintah melaksanakan peningkatan
upaya pengendalian penyakit yang dilakukan secara menyeluruh dan
berkelanjutan di semua daerah. Upaya tersebut meliputi vaksinasi
massal menggunakan vaksin homolog, monitoring dan evaluasi kekebalan
pasca vaksinasi serta pengendalian laulintas ternak. Indonesia telah
menyatakan bebas kasus PMK sejak tahun 1986, dan diakui OIE pada
tahun 1990. Sehingga efektif program eradikasi PMK di Indonesia
berlangsung selama 7 tahun mulai dari tahun 1983-1990. Jadi program
eradikasi PMK tidak dilakukan selama 100 tahun.
Apakah anda pernah mencari data atau informasi mengenai
apa saja yang telah dilakukan oleh para peneliti dan jajaran pegawai
departemen pertanian selama masa 7 tahun itu? Usaha melakukan
penelitian awal dalam mencari seed virus PMK asli Indonesia tahun
1983 yang ternyata berbeda dengan virus PMK periode sebelumnya
sehingga harus dibuat vaksin baru karena vaksin PMK yang telah
digunakan sudah tidak mampu lagi melindungi ternak sapi Indonesia.
Proses perburuan virus melalui puluhan surveillance ke seluruh
wilayah di Indonesia dengan dana terbatas. Mereka melakukan semua
hal ini hanya demi harapan membebaskan Indonesia dari PMK bukan demi
memperhitungkan selisih harga daging !
B. Kerugian kita selama 100 tahun tidaklah sebesar 11,6
triliun. Ini hanya perhitungan perkiraan yang dibuat pada tahun
2003, mengenai berapa besar dana yang diperlukan untuk program 7
tahun pemberantasan PMK jika terjadi Outbreak pada tahun 2003.
Menurut ketua umum pengurus PB-PDHI Dr. Budi Tri Akoso, perkiraan
biaya yang keluar dibutuhkan sebesar Rp.11,5 triliun untuk tahun
2003, dimana tingkat inflasi belum seperti tahun 2008 dan harga BBM
masih berkisar Rp. 4000, belum seharga Rp.6000 seperti sekarang
tahun 2008. Nominal tersebut akan lebih bertambah jika disesuaikan
dengan kondisi perekonomian tahun 2008, apalagi jika kita mencoba
dengan logika buta mengkalikan jumlah tersebut dengan 100 tahun.
Kami mohon maaf sekali perhitungan kalkulasi ini tidak pernah
sederhana karena masih harus melihat kondisi ekonomi dan sosial
terkini jika kasus PMK memang benar terjadi. Sekali lagi kami mohon
maaf jika logika kami tidak bisa menerima perhitungan Absurd
kerugian rakyat jika membeli daging murah selama 100 tahun versi
anda.
C. Pertanyaan berikut kami serahkan kepada bapak Haniwar
Syarif : dari mana negara kita tercinta ini memperoleh dana sebesar
Rp.11,5 Triliun (hitungan tahun2003) jika terjadi kasus PMK di
Indonesia ? dapatkah kita memperoleh kompensasi program
pemberantasan PMK dari selisih harga daging ?
12. Ada apa Pak Andi Surudji ?/
Ucapab bebas PMK adalah prestasi monumental , itu apa maknanya
sih .. ? bhw krn prestasi itu rakyat jadi susah harus beli mahal,
dan peternakan sapi kita terus terpuruk..
Ayo pak Surudji jawab pertanyaan saya, (Haniwar, 2008).
Fakta :
Kami pikir anda harus menanyakan masalah prestasi bebas PMK yang
monumental ini kepada para jajaran pegawai departemen pertanian dan
peneliti yang telah berjuang selama 7 tahun untuk memberantas
penyakit PMK dan masih hidup sampai sekarang dengan berpenghasilan
tetap sesuai gaji PNS. Mereka tidak berpikir bagaimana cara mencari
keuntungan selisih harga daging pada saat itu, dan mereka berhasil
memberantas PMK, mereka hanya perlu penghargaan atas jerih payah
mereka dulu. Dan anda hari ini datang, mempertanyakan kredibilitas
mereka dengan cara yang mohon maaf kurang santun dan mempertaruhkan
kelangsungan hidup peternak di Indonesia hanya demi selisih harga
daging? Kami pikir akan ada banyak sekali pihak yang tertarik dengan
pola pemikiran dan gaya negosiasi anda.