Ada artikel menarik dikompas cetak hari ini, dengan judul "Busway Jakarta 
vs TransMilenio”, Senin, 20 Oktober 2008. Mengupas tentang pelik carut marut 
busway Jakarta dengan sedikit lebih dalam, karena, paling tidak saya bisa 
mendapatkan angka-angka penyebab antrean sangat panjang yang terjadi di salah 
satu halte persis disebelah gedung tempat saya bekerja. Dari balik kaca salah 
satu lantai di gedung itu, mulai pukul 5 sore entah berakhir sampai jam berapa, 
bisa dilihat antrian mengular panjang naik sampai jembatan yang menghubungkan 
halte tersebut dengan halte busway lainnya, atau bisa dirasakan ketika satu dua 
kali saya harus naik busway dijam pulang kantor itu. Entah yang terjadi di 
halte-halte lainnya,  Tentulah sangat tidak nyaman bagi para pengguna busway 
reguler untuk berada disana pagi dan sore setiap hari.
  339 bus berkapasitas angkut 240.000-245.000 orang, 10 koridor dengan total 
172,45 km ruas jalan, dan kompas mendapatkan 30 menit head way, jarak antar 
bus, .Diuraikan pula ketidak efisienan pengaturan arus bus menghasilkan jarak 
antar bus yang lebih panjang. Itulah seklumit angka yang menjelaskan fenomena 
yang saya lihat disalah satu halte busway, atau pembaca lain juga melihatnya 
dihalte yang lainnya, atau malah ikut merasakannya setiap pagi dan sore, setiap 
hari, kecuali hari sabtu-minggu tentunya. 
      Tidak perlu saya tulis ulang untuk lebih memiriskan hati, ketika 
angka-angka tersebut, ditambah dengan system feedernya, kemudian dibandingkan 
dengan yang dimiliki kota Bogota. Atau lebih parah lagi, ticketing koridor 
IV-VII bermetodekan system sobek karcis, semacam yang sering kita dapatkan di 
parkir-parkir pinggir jalan, yang sering pula kita abaikan kertas apa yang 
diberikan juru parkir kepada kita, Model macam ini nggak salah kalau dituduh 
rawan korupsi bukan? Iwan Piliang pernah mengulasnya disalah satu tulisan di 
sketsanya.
  Tentunya bukan itu yang diniatkan atau tidak dipahami oleh pejabat manajemen 
transportasi Jakarta, kalau iya, setuju kiranya, warga Jakarta, apabila para 
pengambil keputusan itu untuk mencari pekerjaan lain atau mengurus transportasi 
public disalah satu kota di abad pertengahan yang urusan transportasi publicnya 
belum serumit Jakarta hari ini.
   
  “Bus Transjakarta versus TransMilenio”
  Ketika membaca judul tulisan artikel itu, terlintas dibenak, bahwa saya akan 
mendapatkan full coverage tentang permasalahan yang dihadapi busway Jakarta, 
tapi ternyata ada yang kurang  untuk diungkap.
  Tentang busway yang menjadi menyebalkan sekarang, cukuplah tahu saya. Tapi 
apa yang melatarinya? Itu yang diharapkan dari Koran macam kompas, untuk 
mengorek lebih dalam para pejabat transportasi public untuk lebih terbuka dan 
jujur kepada public tentang kendala-kendala yang mereka hadapi. Sebagai misal, 
berangkat dari waktu tunggu jarak antar bus yang panjang, terus ke, kenapa 
total bis sangat minim? Apa yang mempersulit pengadaan bus? Padahal vital 
sekali mendapat jumlah bis yang mengimbangi jumlah pengguna busway, semakin 
orang merasa nyaman, semakin banyak orang berpindah dari kendaraan pribadi ke 
busway.
  Tentunya jawaban yang jujur menjawab datalah  yang public berhak untuk tahu, 
bukan jawaban  ngeles atau pembenaran keadaan yang lacur meluncur. Mengharapkan 
warga untuk pasrah dan menerima kondisi yang ada kedepan nanti, seperti apapun 
itu, tentunya bukan pola interaksi yang diharapkan antara warga dan pemegang 
otoritas kota Jakarta.
  Semoga Kompas memang sedari awal berniat untuk memecah artikelnya, sehingga 
diedisi mendatang, dengan proporsi liputan halaman yang minimal sama, akan 
memuat analisa yang lebih mendalam tentang carut marut busway ini


Salam, 

Manunk
Numpang cari makan dijakarta sekarang






  
 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke