Bagi yang ingin tahu agak rinci soal krisis global dan pengaruhnya di negeri
kit, berikut ini saya kutipkan wawancara Dr Rizal Ramli di sebuah surat kabar
Ibukota yang beredar hari ini, Senin, 20 Oktober 2008. Semoga bermanfaat.
Salam!
Adhie M Massardi
"Pemerintah Kok Tidak Belajar dari Pengalaman Masa Lalu..."
Rizal Ramli, Bekas Menko Perekonomian
Krisis global yang menimpa Amerika dan berimbas pada perekonomian nasional
ternyata sudah diprediksi Econit sejak awal 2008. Pada tahun 1996, lembaga
Econit yang dipimpin bekas Menko Perekonomian Rizal Ramli ini pernah
mengeluarkan ramalan ekonomi Indonesia yang disam�paikan dalam laporan Econit
Economic Outlook 1997. Rizal Ramli menyebut tahun 1997 sebagai tahun penuh
ke�tidak�pastian (The Year of Uncertanty).
Meski banyak yang tidak percaya, ramalan itu ternyata terbukti. Indonesia
mengalami awal krisis Oktober 1997 dan dampaknya baru terasa secara luas tahun
1998. Pada awal Januari 2008, Econit kembali mengeluarkan peringa�t-an bahwa
telah terjadi ge�lem�bung finansial di pasar modal serta pasar kredit
konsumen dan properti komersial. Econit menyebut tahun 2008 sebagai tahun
gelembung (The Year of the Bubble).
Menko Boediono pada waktu itu langsung membantah bahwa perkiraan ekonomi
tersebut tidak benar. Bahkan, Menteri Keua�ngan Sri Mulyani mengatakan bahwa
perkiraan Econit tersebut mengada-ada. Tapi ternyata, sejak awal Oktober ini,
perkiraan Econit kembali menunjukkan kebenarannya.
Untuk membahas lebih lanjut dampak dari krisis ini dan efektivitas
langkah-langkah pe�merintah, Rakyat Merdeka me�wawancarai ekonom Rizal
Ramli sebelum menghadiri pertemuan tokoh-tokoh Indone�sia Timur yang dihadiri
Fadel Muhammad, Zaenal Bintang, Manuel Kaesipo, Sumarlin dan banyak tokoh
Indonesia Timur lainnya di Balai Sudirman.
APA yang dimaksud dengan gelembung finansial seperti yang Anda perkirakan?
Pada awal Januari banyak perusahaan di BEI (Bursa Efek Indonesia) yang memiliki
Price Earning Ratio di atas 50 kali. Bahkan ada yang sampai 300 kali. Itulah
contoh gelembung akibat aliran hot money dan praktik goreng-menggoreng saham.
Di samping itu, juga ada ge�lembung di sektor kredit se�perti kredit
konsumen, kredit pro�perti komersial, kredit mo�tor dan kartu kredit yang
ber�potensi menjadi sub�prime ala Indonesia. Karena sombong dan juma�wa,
menteri-men�teri SBY menga��bai�kan pe�ringatan itu dan tidak
melakukan langkah-langkah antisipatif antara bulan Januari-Ok�tober. Ketika
ge�lem�bung itu meletus, da�lam bentuk anjlok besar-be�saran di bursa
dan kekha�watiran tentang sek�tor per�bankan, mere�ka panik dan justru
mengambil langkah-langkah yang bisa menimbul�kan ma�salah baru.
Apa langkah an�ti�sipasi yang seha�rusnya dila�kukan?
Sebetulnya gelem�bung-ge�lem�bung itu bisa dikempeskan se�cara
perlahan-lahan. Baik melalui enforcement di bursa, maupun pengetatan kredit di
sektor-sektor yang meng�gelembung. Jika pengempesan gelembung itu dilakukan,
maka ekonomi Indonesia paling banter hanya akan melambat (soft landing) ketika
terjadi krisis ekonomi di Amerika. Tapi karena kesom�bongan dan penolakan
ke�nya�taan (self denial), pemerintah SBY membiarkan gelembung tersebut
terus membesar. Ketika gelembung itu pecah pemerintah panik, sehingga besar
kemungkinan ekonomi Indonesia akan anjlok lebih besar (hard landing). Apalagi
kebijakan yang diambil adalah kebijakan mo�netaris ala IMF dan Bank Dunia.
Tapi banyak pejabat yang menyatakan bah��wa efek�nya ter�hadap
Indo�nesia kecil dan tidak ada dampaknya ter�hadap rakyat biasa?
Banyak pe�jabat yang asal bunyi. Mereka bicara ba�gai�kan orang
ping�gir jalan, karena dam�paknya pasti akan cukup besar. Untuk ekspor
komoditi terutama di daerah-daerah luar jawa, dam�paknya sudah terasa dengan
anjlok�nya per�min�taan sekitar 50-60 per�sen. Dam�pak ter�hadap
rakyat biasa baru akan terasa kuartal kedua tahun de�pan dan akan terus
ber�lanjut sampai 2011, kecuali, ada per�ubahan paradigma dan
kepe�mimpinan pada tahun 2009.
Apa hubungannya?
Pemerintah SBY dan menteri-menteri ekono�minya menganut paradig�ma
monetaris ala IMF dan Bank Dunia. Sebagai contoh, hanya Indonesia satu-satunya
negara yang melakukan kebi�jakan uang ketat dengan menaik�kan tingkat
bunga. Di seluruh dunia, Amerika, Eropa, Asia, tingkat bunga justru diturunkan
untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap ekonomi. Pejabat Indonesia tetap
�ndablek� dan terus manut pada saran IMF untuk menaikkan tingkat bunga.
Mereka tidak belajar dari krisis moneter 10 tahun yang lalu.
Pada awal September 1997, Menteri Keuangan Marie Mu�hammad dan Gubernur BI
Soedradjad Djiwandono melak�sana�kan kebijakan moneter super ketat atas
saran IMF. Ketika itu Econit mengkritik kebijakan itu secara terbuka. Hasilnya,
lem�baga keuangan Indo�nesia me�ngalami kesuli�tan likuiditas yang
beru�jung dengan ke�bang�krutan puluhan bank ter�masuk BCA, Bank
Danamon, dan sebagainya. Biaya dari salah kebijakan itu adalah BLBI dengan
nilai ratusan triliun rupiah. Boediono sebagai Direksi Bank Indonesia pada
waktu itu, ikut menyetujui kebijakan yang akhirnya menjadi beban rakyat
Indonesia.
Bukankah mereka punya ala�san dengan menaikkan tingkat bunga?
Oh ya sudah tentu. Sebagai monetaris, mereka percaya betul bahwa inflasi
Indonesia yang sudah double digit ini (12 persen), adalah akibat dari pasok
uang yang berlebihan sehingga untuk menurunkannnya, moneter harus diketatkan.
Tapi cara berpikir monetaris tersebut keblinger karena inflasi tinggi saat ini
dise�bab�kan oleh kenaikan harga BBM dan keti�dakmampuan peme�rin�tah
me�ngen�dalikan harga kebutuhan pokok. Solusinya bukan dengan menaikkan
ting�kat bunga, tetapi menu�runkan harga BBM dan me�ning�katkan
produksi kebu��tuhan pokok. Jadi solusi monetaris tersebut hanya sekadar
otak-atik pasokan uang yang justru akan semakin merugikan sektor riil.
Presiden sudah mengeluar�kan 10 langkah. Apa itu tidak cukup?
Jelas tidak cukup ka�rena itu hanya be�rupa im�bauan yang kurang koheren,
bu�kan poli�cy. Apalagi lan�dasan dari ber�bagai langkah yang diambil,
esensi dasarnya adalah mone�taris. Akibat me�reka terlalu ma�nut terhadap
model IMF dan Bank Dunia, mereka membiarkan aliran hot money sampai 24 miliar
dolar lebih selama empat tahun pe�merin�tahan SBY. Aliran modal spekulatif
tersebut bahkan sering diang�gap se�bagai lambang keber�hasilan
pemerintah SBY dan buk�ti keper�cayaan asing ter�ha�dap ekonomi
Indonesia. Pa�dahal jumlah aliran hot money tersebut nilainya dua kali
dibandingkan hot money pada awal krisis 1997.
Pemerintah akan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan sektor riil...
Wong selama empat tahun saja, ketika makro bagus, sektor riil malah anjlok kok.
Berulang-ulang kami katakan bahwa telah terjadi percepatan deindustria�lisasi
selama empat tahun pemerintahan SBY, terutama memukul sektor-sektor padat
tenaga kerja. Indonesia hanya bisa cepat keluar dari krisis, jika
mening�galkan paradigma monetaris ala IMF dan Bank Dunia dan mengu�bahnya
dengan jalan baru yang lebih mandiri dan struk�tural. Tapi itu tidak
mung�kin terjadi selama pemerin�tahan SBY karena mereka telah kepin�cut
dan tersan�dera dengan garis IMF dan Bank Dunia. Hanya dengan jalan baru dan
pe�mimpin baru, Indonesia bisa bangkit cepat dari Krisis Eko�nomi Jilid II
ini.
[] faz
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/