Oleh Aloys Budi Purnomo
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/28/01390368/modal.kejayaan.indonesia



QUO res cumque cadant, stat semper linea recta! Biarpun semua roboh,
tetaplah di garis lurus! Menurut YB Mangunwijaya, ungkapan itu
merupakan semboyan raja-raja Ligne.

Semboyan yang sama bisa memotivasi keindonesiaan yang sedang berjuang
mengatasi keterpurukan. Inilah yang mungkin mendasari pernyataan
Presiden Yudhoyono sebagaimana dilansir dalam berita jalan MetroTv
(26/10/2008 pukul 16.45), "Presiden: Indonesia bertekad menjadi negara
maju, dengan perkokoh kemandirian bangsa, memacu daya saing bangsa,
dan membangun peradaban bangsa".

Tekad menjadi negara maju memperkuat kemandirian, memacu daya saing,
dan membangun peradaban bangsa tidak boleh hanya menjadi slogan,
tetapi harus memotivasi tindakan.

Tekad itu senada dengan seruan Prof Dr Ichlasul Amal (1998) saat
mengajukan gagasan demi membangun strategi dan upaya menyusun agenda
politik dalam reformasi, "There is an urgent need not only to critize
the past, but even more so to plan the future!"

Modal keindonesiaan

Keindonesiaan kita dibangun para founding father dengan tiga modal
utama yang tidak boleh diabaikan siapa pun yang sedang dan akan
memimpin republik.

Pertama, keindonesiaan sekarang ini dibangun dengan modal hati yang
mampu mendengar, ikut terlibat, dan merasakan penderitaan rakyat yang
pada masa itu tertindas penjajah asing.

Para founding father bahkan rela menderita secara pribadi maupun
bersama keluarga dan kelompok. Mereka tidak gentar menghadapi
penderitaan bersama rakyat. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi nyata
berjuang.

Kedua, para pendiri republik dengan segala upaya mengembangkan
intelegensi yang tinggi. Karena itu, mereka mampu menyerap segala yang
baik dan bijak dari berbagai budaya dunia, entah dalam tingkat
regional Asia, internasional Eropa, maupun Amerika, bahkan benua lain.

Daya intelegensi tinggi membuat mereka peka terhadap tanda-tanda zaman
dan menggunakannya sebagai modal untuk membangun cita rasa
keindonesiaan. Aspek intelegensi tinggi nan cerdas ini tidak
ditunggangi kemaruk kekuasaan, apalagi mencari keuntungan diri,
keluarga, maupun kelompoknya.

Tujuan mereka satu: membangun kesatuan, keutuhan, dan kemerdekaan
Indonesia sebagai bangsa merdeka dan mandiri!

Jalan damai

Modal ketiga yang tidak kalah penting dan harus dikembangkan adalah
menempuh jalan damai. Para pemuda yang mewariskan momentum "Soempah
Pemoeda 28 Oktober 1928" untuk bangsa ini bergerak membangun jalan
damai. Mereka tidak mengandalkan kekerasan dalam memikirkan masa depan
Indonesia.

Mereka mengedepankan persatuan dan kesatuan. Itu sebabnya mereka
berseru satu tanah air, tanah air Indonesia; satu bangsa, bangsa
Indonesia; satu bahasa, bahasa Indonesia.

Mereka mengutamakan jalan damai kesatuan dan persatuan, bukan
kekerasan. Kalaupun terpaksa terlibat kekerasan dengan lawan, ia
dipakai untuk menghayati hak membela diri, bukan untuk sekadar
menyerang lawan dan menghancurkan pihak lain.

Agaknya, para founding father republik ini sadar. Keadaan yang
dihadapi memang penuh kekacauan, kekerasan, dan penindasan dalam
konteks feodalisme asing. Namun, mereka tidak kehilangan pedoman etis
untuk mengedepankan sikap moral eling lan waspada.

Kearifan spiritual-kultural Ronggowarsita merasuki sepak terjang
mereka bahwa sabegja- begjane wong kang lali, isih begja wong kang
eling lan waspada. Sebahaagia-dan-merasa-beruntung mereka yang lupa
masih akan bahagia-dan-beruntung mereka yang tetap sadar dan waspada.

Justru karena eling lan waspada, mereka terlibat penderitaan rakyat
dan tidak mau mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat. Karena
eling lan waspada, mereka peka terhadap penderitaan rakyat dan
berjuang demi rakyat.

Maka, benarlah ungkapan yang dikutip Jürgen Moltmann (1986) bahwa
kelupaan menuntun (manusia) menuju pembuangan (kehancuran);
(sedangkan) sikap sadar dan waspada mempercepat keselamatan
(kesejahteraan).

Agaknya, para pemimpin dan para calon pemimpin bangsa ini perlu
memahami betul modal keindonesiaan yang diwariskan para pendiri
republik. Jika demikian, seburuk apa pun situasi kondisi bangsa ini
dalam perspektif mana pun, kita akan tetap maju di jalan lurus menuju
masa depan Indonesia yang maju dan jaya!

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI,
Lentera yang Membebaskan

Kirim email ke