Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan,
pemerintah mempertimbangkan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak
bersubsidi.

"Harapan kita, kalau ini (harga minyak internasional) turun terus dan
hitung-hitungan pas, maka menjadi kewajiban moral saya untuk
meringankan beban saudara-saudara kita," ujar Presiden dalam jumpa
pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (28/10). Presiden didampingi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.

Presiden menegaskan, ia telah memerintahkan untuk menghitung
kemungkinan diturunkannya harga BBM bersubsidi sejak harga minyak
internasional turun beberapa minggu lalu. "Kita tidak boleh gopoh.
Tidak boleh nanti seolah-olah hanya ingin mendapatkan insentif
politik. Tidak boleh dan tidak bagus. Itu betul-betul rasional,
jernih. Kalau baik bagi rakyat, memungkinkan diturunkan, ekonomi kita
juga klop dengan itu, kebijakan itu kita ambil," ujarnya.

Presiden menjelaskan, harga BBM bersubsidi saat ini menjadi harga
patokan tertinggi. Maka, apabila nanti harga BBM bersubsidi sudah
diturunkan, tetapi kemudian harga minyak internasional naik kembali
dan memaksa pemerintah menaikkan harga BBM, maka harga yang ditetapkan
akan sama seperti sekarang, yaitu premium Rp 6.000 per liter.

Menanggapi rencana pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi,
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi
Pri Agung Rakhmanto mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah
mengambil keputusan. Dibutuhkan pengkajian yang transparan tentang
volume realisasi konsumsi BBM bersubsidi, dampak penurunan harga
minyak mentah dunia, dan turunnya nilai tukar (depresiasi) rupiah.

Menurut Pri Agung, pemerintah seharusnya tidak mengacu harga jual
minyak mentah Indonesia (ICP) dalam menghitung kecukupan anggaran
subsidi BBM, melainkan anggaran APBN secara keseluruhan. APBN
dirancang mampu menutup besaran subsidi BBM jika harga minyak mentah
dunia mencapai 130 dollar AS per barrel.

Hingga kini, penyerapan APBN 2008 baru 46 persen sehingga masih
tersedia anggaran yang cukup untuk memenuhi subsidi BBM apabila harga
BBM diturunkan. "Selama anggaran subsidi BBM masih mencukupi, harga
bahan bakar di dalam negeri dapat dibiarkan fluktuatif mengikuti
gerakan harga minyak mentah dunia," kata Pri Agung.

Namun, lanjut Pri Agung, pemerintah perlu mencermati faktor risiko
yang berpotensi menekan anggaran subsidi BBM, yakni depresiasi rupiah
dan konsumsi BBM bersubsidi yang melampaui 10 persen dari target
konsumsi 35,5 juta kiloliter.

Selain itu, perlu dibuat program untuk mendorong produktivitas
masyarakat. Dengan demikian, jika harga minyak turun dan pemerintah
menempuh opsi tidak menurunkan harga BBM, masyarakat dapat menikmati
program kompensasinya. (INU/LKT)


http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/29/01431042/presiden.harga.bbm.segera.turun

Kirim email ke