SKETSA
Rabu, 5 November 2008
Berorasi Bergerobak Rusak Bersapi Sakit, Its Time!
SABTU petang, 1 November 2008 di Bandara Soekano Hatta, terminal F. Seperti
biasa, menjelang melewati jalan ke arah ruang tunggu keberangkatan pesawat,
saya selalu melihat buku, di toko buku di pojok kiri. Kendati banyak buku
dipajang itu ke itu, tak mengurangi mata melirik selayang pandang. Sore itu, di
sebuah rak kecil, majalah The Economist mencuri perhatian. Cover-nya putih,
polos. Ada foto Barack Obama, seorang diri, berjalan menuju depan, tangannya
mengayun langkah pasti. Angin menyibak jas biru gelapnya. Ada tulisan: Its
Time, di kulit muka majalah terbitan London, Inggris, itu.
Bagi saya, yang berkecimpung di media, ingin rasanya mengoleksi majalah itu.
Plus membeli satu lagi, dicopot cover-nya, lalu diberi bingkai dan diletakkan
di dinding di ruang kerja, sebagai bentuk apresiasi dalam, sebagai pernyataan
betapa elegannya sebuah halaman muka majalah bergengsi, berpenampilan
minimalis, bergaya optimis, seakan berkata: kini waktunya Obama.
Saya cenderung pro kepada tampilnya sosok muda sebagai pemimpin, macam Obama.
Dawam Rahardjo, di sebuah diskusi di Infid.org, dua pekan silam pernah
mengatakan,. Kini kita butuh pemimpin muda, pemimpin baru berintegritas, pro
rakyat, bukan pemimpin daur ulang.
Obama - - bila terpilih, sebagai sosok yang pernah tinggal di Indonesia semasa
kelas 3 dan 4, SD Menteng 01, Jl. Besuki, Jakarta Pusat, belum tentu memiliki
program luar negeri menguntungkan Indonesia - - itu, jelas menginspirasi.
Banyak milis di Internet mendiskusikan topik Obama, termasuk event yang dibuat
di beberapa Cafe di Jakarta, yang melakukan nonton bareng siaran langsung
pemilihan presiden AS, bagaikan nonton bareng pertandingan sepak bola dunia.
Bisa jadi ini sebuah indikasi bahwa komunitas anak muda di Jakarta menjagokan
Obama.
Di Liputan 6 Petang, Selasa, di daerah di negara bagian New Hampshire, sudah
duluan melakukan pemungutan suara. Di sebuah kantung pemukiman kecil yang
dihadiri oleh 25 pemilih, 17 suara untuk Obama. Konon, di TPS itu, berkaca ke
sejarah Amerika Serikat silam, menjadi pernanda, sosok pemenang di sana,
menjadi presiden yang kemudian menghuni Gedung Putih. Maka bila memang Obama
menang, berarti desakan perubahan di ranah masayakat AS, menjadi terbukti,
memang.
SELASA, 4 November 2008, di Sidang Terbuka Dies Natalis ke-45, Institut
Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat. Siang itu Presiden Soesilo Bambang
Yudhoyono (SBY) menyampaikan orasi ilmiahnya.
SBY sudah menyatakan ingin kembali tampil menjadi presiden untuk kedua kalinya.
Kendati menelan ludah sendiri, karena pernah dalam masa kampanye lima tahun
silam memohon kepada rakyat untuk memberikan kesempatan baginya memimpin
Indonesia sekali saja. Maka berbagai kegiatan SBY kini, tak terhindari menjadi
gerakan menuju kampanye 2009. Bila kriteria daur ulang yang diucapkan Dawam
Rahardjo, tak dapat dipungkiri SBY masuk kategori itu.
Di IPB, 2 Oktober 2004 silam, SBY meraih gelar doktor bidang pertanian dengan
nilai excellent. Disertasinya Pembangunan Pertanian dan Perdesaan sebagai
Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran: Analisis Ekonomi-Politik Kebijakan
Fiskal.
Entah karena mempertanyakan disertasi dengan perwujudan keadaan nyata di
Indonesia kini, mahasiswa di depan kampus Ibnu Khaldun, juga di depan Patung
Kujang, Bogor, berdemontrasi. Mereka antara lain meminta SBY menurunkan harga
BBM, yang menyulitkan keadaan ekonomi rakyat kebanyakan itu.
Pada detik menjelang menyampaikan orasi ilmiah, SBY mengubah tema orasinya dari
"Membangun Konvergensi Nasional Menuju Kemandirian Pangan dan Energi untuk
Kedaulatan Bangsa" menjadi "Ekonomi Indonesia Abad 21: Menjawab Tantangan
Globalisasi".
Menurut Rektor IPB Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc, kepada Kompas.com, perubahan
dilakukan SBY karena melihat perkembangan terakhir terkait krisis keuangan
global. Perspektif makro dan bentuk kontribusi Indonesia untuk mengatasi krisis
keuangan global.
SBY pun menyinggung ihwal ekonomi balon yang berkembang, tidak memperkuat
eknomi bangsa. Bagi saya, bila hal ini diucapkan seorang SBY di sebuah kampus
yang berwibawa, menjadi tanya, mengapa kebijakan ekonomi balon itu yang justeru
dia terapkan selama empat tahun kepemimpinannya?
Perhatiannya yang besar kepada pengembangan pasar saham, perdagangan uang
berikut berbagai instrumen keuangan yang di-trading-kan, seakan bertentangan
dengan apa yang diorasi-ilmiahkan SBY.
Ekonomi sektor riil, kurang mendapatkan tempat. Bahkan karena cenderung larut
dalam okonomi balon kopong, sudah acap diingatkan oleh kalangan ekonom, sebagai
pertumbuhan hampa, antara lain oleh mereka yang tergabung di Indonesia Bangkit.
Seorang kawan saya pengusaha kecil, Miftahuddin, dari Bengkulu. Pekan lalu ia
ke Jakarta. Kami di Bengkulu menilai keadaan eknomi kini laksana berjalan
bergerobak rusak bersapi sakit, ujarnya.
Keadaan turunnya harga tandan sawit yang mencapai Rp 300/kg, benar-benar tak
pernah diantisipasi oleh pemerintah. Miftahuddin memperlihatkan kliping koran,
berita dua orang petani sawit yang bunuh diri, karena tandan sawit dipanen
kini, bukannya memberi untung justeru membawa kerugian uang. Tidak dipanen,
mutu tandan rusak.
Karenanya di tengah gerobak rusak dan sapi sakit - - sebagai analogi keadaan
oleh Miftahuddin - - bukan sebuah orasi-orasian yang dibutuhkan oleh rakyat
kebanyakan kini. Suatu anomali yang memerlukan gebrakan perubahan yang
mebutuhkan nyali. Sayangnya mereka yang yang sudah pernah menjabat, dan itu ke
itu saja wajahnya, mulai tawar, hambar. Karenanya kehadiran calon muda baru
bernyali tampil ke gelanggang untuk 2009, bisa menjadi kuda hitam.
DI LUAR dugaan saya Vivanews.com - - portal berita yang masih dalam format beta
- - 4 November 2008, pukul 16.08, menulis bahwa Partai Indonesia Sejahtera
mencalonkan Ir. Drs. Bugiakso, 45 tahun, sebagai calon wakil presiden
mendampingi Soetiyoso - - yang sudah duluan diusung partai itu sebagai calon
presiden.
Bugiakso yang pernah saya tulis 5 Juli 2008 lalu di
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=150, belum pernah menyatakan akan
maju menjadi calon presiden atau wakil presiden kepada saya, Juli 2008 lalu.
Namun dari berita kini, lalu dari melihat mulai tampaknya beberapa baliho
tentang sosok Ketua Umum Soedirman Centre yang juga Ketua Umum Keluarga Besar
Putra Putri Polisi (KBPPP) itu, bisa jadi tanda-tanda ke arah tampilnya ke
kancah nasional menjadi kental.
Dan bila berita itu memang demikian, kehadiran Bugiakso bisa menjadi fenomenon.
Ia sosok muda. Ia punya perhatian besar terhadap ekonomi kerakyatan, basis
studinya pertanian dan peternakan. Ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga
besar Soedirman, dan bertekad mengemban dan mewujudkan kalimat almarhum
Panglima Besar Soedirman, bahwa, Rakyat tak boleh menderita, pemimpinlah yang
harus menderita.
Melalui beberapa kawan sejak sembilan bulan lalu kami telah mencoba memainkan
www.partaionline.org, bagi menangguk sosok muda, wajah baru yang diharapkan
dapat tampil memimpin Indonesia ke depan. Nama Bugiakso memang muncul bersama
Gamawan Fauzi, 50 tahun, Gubernur Sumatera Barat, Iznul Majdi, 36 tahun,
Gubernur NTB, Fadel Muhammad, 56 tahun, Gubernur Gorontalo, dan Fadjroel
Rahman, 44 tahun, aktifis reformasi.
Situs itu ditabalkan bagi menangguk sebuah sudut pandang lain, pembanding bagi
kalangan yang cenderung apatis melihat partai-partai di land base.
Amat disayangkan bila sosok muda yang segar, hanya menjadi orang nomor dua
mendampingi sosok daur ulang. Lantas mengapa tak ada partai yang berani lalu
menjagokan Bugiakso menjadi nomor satu? Juga mengapa partai tak melirik
Fadjroel Rahman dan membiarkannya berjuang seorang diri ke Mahkamah Konstitusi
mempersoalkan calon independen.
Bukankah fenomena Obama bisa menjadi pemicu aras kebangkitan bagi tampilnya
pemimpin baru, muda, di Indonesia kini?
Nah di tengah situasi gerobak rusak dan sapi sakit, sebagai analogi keadaan di
lapangan, maka:
It's time!
Kini saatnya, saya pun bermimpi bahwa bila saatnya tiba majalah macam TEMPO pun
memuat cover sosok pemimpin baru Indonesia yang benar-benar dapat membawa
Indonesia ke alam baru, alam yang benar-benar berpihak kepada rakyat, bukan
sekadar berorasi pro rakyat, tetapi berlaku sebaliknya kepada warga. Itu
artinya bukan cuma Obama yang disampul-wajahkan The Economist***
Iwan Piliang, presstalk.info
[Non-text portions of this message have been removed]