http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/07/01375167/mulai.dari.sila.keadilan


Wacana melaksanakan nilai-nilai Pancasila dengan urutan terbalik,
mulai dari paling dasar, dari sila Keadilan Sosial, cenderung meluas.
Lebih-lebih karena bersifat konkret.

paya menegakkan keadilan, terutama dalam bidang ekonomi, merupakan
langkah nyata bagi pelaksanaan Pancasila. Nilai keadilan tidak hanya
menjadi jargon, tetapi kenyataan dalam kehidupan berbangsa.

Selama Pancasila hanya digunakan dan diperalat untuk kepentingan
politik dan bahan retorika, maknanya sebagai ideologi akan melorot dan
hambar. Jauh lebih penting lagi, bagaimana keinginan itu tidak
berhenti pada wacana atau retorika, tetapi benar-benar diikat dalam
program aksi yang dapat dirasakan secara langsung oleh seluruh warga
masyarakat.

Sekadar perbandingan, neososialisme di Amerika Latin menjadi kuat
karena benar-benar dipraktikkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan
dan kepentingan rakyat banyak. Sebelumnya, neososialisme dicemooh
karena hanya menciptakan retorika dan kesadaran palsu yang tidak
membawa perubahan apa-apa bagi rakyat, terutama yang terpinggirkan.

Para pemimpin Amerika Latin, seperti Presiden Venezuela Hugo Chavez
dan Presiden Paraguay Fernando Lugo, mengagumi ajaran Bung Karno
tentang nasionalisme dan sosialisme. Pengalaman Amerika Latin, sejauh
bidang dibanding-bandingkan, memperlihatkan bahwa nilai kemanusiaan
harus dibangun di atas landasan ekonomi. Dalam kebutuhan ekonomi,
seluruh manusia dipertemukan dan dipersatukan. Semua butuh makan.

Prinsip-prinsip Pancasila dikenal luas di Amerika Latin, terutama di
kalangan yang mengenal para pendiri bangsa seperti Bung Karno. Namun,
sampai sekarang ide-ide yang banyak memberikan inspirasi itu hanya
menjadi kunyahan dan omongan.

Persoalan macam ini pernah dialami juga di Amerika Latin. Para
pemimpin sangat pandai berbicara tentang kemajuan dan upaya
memberantas korupsi dan kemiskinan, tetapi tidak ada perubahan.

Partai-partai juga hanya bicara visi dan misi, tetapi tidak melakukan
pekerjaan lapangan. Hanya pandai berkata-kata, tetapi tidak mampu
melakukan transformasi ide dan perilaku yang membebaskan rakyat dan
bangsa dari keterbelakangan.

Panggilan sejarah telah mendorong para pemuka agama dan politisi di
Amerika Latin berubah. Kata-kata dan ungkapan dijadikan kerja. Iman
tidak hanya mencari ilmu pengetahuan, fides quarens intellectum,
tetapi juga pencari kesejahteraan, bonum commune.

Gotong royong merupakan kata lain untuk solidaritas dalam melakukan
pekerjaan. Keberadaan dan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia
antara lain karena mampu mempertahankan prinsip itu dalam praktik.

Ibarat anak tangga

Wacana untuk melaksanakan Pancasila dalam urutan terbalik, mulai
dasar, dari sila Keadilan Sosial, cenderung berkembang luas,
lebih-lebih belakangan ini. Argumennya tergolong kuat. Secara visual,
ibarat anak tangga, sila kelima terletak paling bawah, yang perlu
ditapaki pertama sebelum melangkah ke atas.

Secara sosiologis, keadilan sosial, terutama dalam bidang ekonomi,
menjadi tuntutan fundamental. Kesenjangan sosial akan memberi
komplikasi rumit bagi berbagai aspek kehidupan lainnya. Jika prinsip
keadilan dan kesejahteraan ekonomi terjamin, jalan menuju sila ke-4,
ke-3, ke-2 dan ke-1 menjadi lebih kuat dan lebih mantap.

Tidak terbayangkan kehidupan demokrasi yang dijamin oleh sila ke-4
jika kehidupan ekonomi masih morat-marit. Makna dan kualitas demokrasi
akan rendah jika tidak diperkuat oleh kesejahteraan ekonomi.

Kehidupan demokrasi dalam situasi ketidakadilan sama sekali hambar.
Orang sulit bersikap demokratis dalam situasi kemiskinan dan
kesenjangan sosial ekonomi.

Tidak mungkin membayangkan sila keempat, Permusyawaratan Rakyat, jika
dijalankan dalam perut lapar karena kesenjangan dan kemiskinan.
Kualitas demokrasi antara lain ditentukan oleh kadar kemajuan ekonomi.

Proses demokrasi tidak dapat dijalankan dengan tenang dan aman jika
perut lapar. Pembangunan ekonomi bersifat membebaskan dari kemiskinan,
sekaligus memperkuat kadar demokrasi.

Basis yang kuat dalam bidang ekonomi akan memperkukuh pula penghayatan
terhadap sila ketiga, kedua, dan pertama. Kunci masuk ke dalam
Pancasila haruslah melalui sila kelima.

Jika pijakan sosial ekonomi kuat sesuai dengan sila ke-5 dan demokrasi
kuat sesuai dengan sila ke-4, kegairahan hidup bersama dan persatuan
yang ditegaskan dalam sila ke-3 akan menjadi kuat.

Keadilan sosial dan kehidupan yang demokratis akan memperkuat
persatuan bangsa. Orang akan saling menghormati dan menghargai sebagai
sesama warga masyarakat dalam semangat demokratis.

Jika sila ke-5, ke-4, dan ke-3 dilaksanakan, tangga sila ke-2 akan
terlaksana dengan sendirinya. Kemanusiaan akan tercipta dalam keadilan
sosial, demokrasi, dan persatuan.

Tidak mungkin kemanusiaan akan dihormati jika tidak ada keadilan
sosial, tidak ada demokrasi, dan tidak ada persatuan. Perpecahan atau
permusuhan akan membahayakan kemanusiaan.

Jika empat sila itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, penghayatan
sila Ketuhanan akan semakin kokoh. Rasa ketuhanan akan rendah jika
orang terus bergulat dalam kemiskinan, tidak demokratis, tidak
menghargai persatuan dan kemanusiaan.

Tuhan dimuliakan

Tuhan harus dimuliakan dalam perut yang kenyang, bukan dalam wajah
yang muram oleh kelaparan dan kemiskinan. Luar biasa pikiran dan ide
para pendiri bangsa yang telah merumuskan Pancasila dan Pembukaan UUD
1945, yang menunjukkan arah dan orientasi perjuangan.

Namun, dalam perkembangannya, ide-ide besar Pancasila dan Mukadimah
UUD 1945 masih sebatas retorika dan jargon yang hanya membentuk
kesadaran palsu dan sama sekali tidak menggerakkan tindakan nyata.

Namun, jauh lebih hebat lagi bagaimana mendapatkan makanan itu. Maka,
kemandirian dan kedaulatan pangan diperjuangkan. Tidak gampang
mengapai semua itu.

Bagi kelompok miskin yang baru berupaya mengapai kemajuan, makan
memang sangat penting, tetapi jauh lebih penting bagaimana mengelola
rasa lapar.

Persoalan makan dan kelaparan menjadi enteng jika semua orang
mengembangkan semangat persaudaraan, persahabatan dan pertolongan,
yang mengacu pada spiritualitas keagamaan. (Rikard Bagun)

Kirim email ke