Oleh Rikard Bagun
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/07/00582339/altar.di.ladang.rakyat




Altar dan mimbar yang selalu diagungkan di tempat yang tinggi telah
diturunkan jauh ke bawah, ke ladang rakyat, ke tengah permukiman kumuh
perkotaan dan lingkungan petani gurem di banyak negara Amerika Latin.
Luar biasa!

Ayat-ayat suci pun dibahas dalam kesederhanaan bahasa rakyat di bawah
pohon singkong, jagung, jeruk dan pisang, tidak jauh dari rumpun tomat
dan sayur-sayuran sebagai tanaman kehidupan dalam arti sesungguhnya.

Percakapan tentang ayat suci, yang menjadi acuan utama dan pertama
neososialisme Amerika Latin, semakin menggairahkan karena bersentuhan
langsung dengan tanah sebagai ibu (motherland), ayah (fatherland),
rumah (homeland), yang memiliki watak kesucian (holy land), sumber
impian (dreamland), sumber nafkah yang sangat menjanjikan (promised land).

Ajaran agama benar-benar dibumikan. Namun, tantangan juga muncul
karena tanah menjadi isu sensitif oleh struktur kepemilikan tidak adil
seperti fenomen latifundista (kepemilikan tanah di atas 100 hektar),
yang menjadi gejala umum di berbagai negara di Amerika Latin. Sekadar
ilustrasi, 77 persen lahan Paraguay dikuasai hanya oleh 1 persen dari
6,5 juta penduduk.

Kontras dengan kehidupan para tuan tanah yang eksklusif, petani kecil
dan gurem terus menghimpun diri dalam komunitas basis, berbincang
tentang nasib dalam perspektif iman.

Tanpa harus menyebut neososialisme, anggota komunitas basis
menjalankan prinsip kebersamaan, kepedulian, solidaritas, dan saling
membantu, yang dalam budaya Indonesia disebut gotong royong.

Prinsip dasar, yang paralel dengan ajaran agama itu diikat kuat pada
komitmen kegiatan harian pribadi dan kelompok pada lingkungan
komunitas basis.

Spiritualitas keagamaan ditransformasikan menjadi praxis (refleksi dan
praktik) sebagai pergulatan yang bersifat pragmatis untuk melawan
kemelaratan dan kemiskinan.

Gerakan perlawanan terhadap kemiskinan dan kemelaratan pun dimulai
dengan upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang bagi
masyarakat pedesaan tidak bisa lain harus melalui usaha menanam.

Pengaruhnya luar biasa. Anggota komunitas basis dapat menghasilkan
sesuatu untuk dikonsumsi dan mengonsumsi apa yang dihasilkan.
Kemandirian ekonomi pada level elementer pun terbentuk, yang
bersinggungan langsung dengan peningkatan kesadaran iman pada kelompok
alas rumput.

Orientasi yang begitu kuat pada tindakan, pragmatisme, dan praxis
dalam kehidupan beragama di Amerika Latin membuat para agamawan
meninggalkan retorika dan khotbah berpanjang-panjang. Ritual keagamaan
di rumah-rumah ibadat berlangsung singkat, tetapi kuat menyapa
kepentingan masyarakat.

Kecemasan tentang kemurnian ajaran agama tetap dianggap penting,
tetapi lebih diperlukan lagi sensitivitas terhadap realitas kehidupan
orang miskin dan menderita.

Lama sebelum terpilih menjadi presiden Paraguay tahun 2008 ini,
Fernando Lugo pernah menggugat, mengapa kaum agamawan begitu cemas
dengan "rok mini", tetapi tidak sensitif terhadap kemelaratan dan
kemiskinan yang sangat menyiksa lahir batin rakyat.

Altar kurban

Ajaran agama telah menjadi sesuatu yang organik, hidup, dan dinamis
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di banyak negara Amerika Latin,
lebih-lebih belakangan ini.

Sudah terlalu lama, bahkan sampai ratusan tahun, ayat-ayat suci
cenderung dimanipulasi sebagai retorika yang hanya menimbulkan gaung
besar dan keasyikan bagi pemuka agama, tetapi kurang memberi makna
bagi kehidupan rakyat banyak.

Arus balik terjadi tahun 1960-an saat kalangan agamawan menyadari
betapa makna kehidupan beragama akan terancam, hambar, dan terasing
jika masyarakat terus dikepung oleh kemiskinan, kesenjangan sosial,
dan ketidakadilan.

Perubahan kesadaran itu tidak datang tiba-tiba, tetapi sebagai
antitesis terhadap situasi tertekan yang berlangsung puluhan tahun,
bahkan ratusan tahun, sejak zaman kolonial.

Namun, perkembangan itu tidak bisa dibayangkan jika tidak dikelola
para agen perubahan yang berada di garis depan gerakan Teologi
Pembebasan sejak awal tahun 1970-an.

Teologi Pembebasan antara lain bertujuan menyadarkan masyarakat
bagaimana melepaskan diri dari kemiskinan. Namun, gerakan itu sempat
menimbulkan kecurigaan di kalangan elite dan penguasa pada era Perang
Dingin, lebih-lebih karena gugatan terhadap kesenjangan sosial,
ketimpangan ekonomi, dan kemiskinan.

Bahkan, terkenal ucapan Dom Helder Camara dari Brasil, "Ketika saya
memberi makanan kepada orang miskin, saya dianggap orang baik. Tetapi,
saat saya mempersoalkan kenapa mereka miskin, saya dituduh komunis."

Camara dan para agamawan lainnya tergerak turun ke bawah, menyatu
dalam pola hidup sederhana dengan masyarakat miskin dan menderita.
Sikap pembelaan dan pemihakan terhadap kaum miskin dan terpinggirkan
begitu jelas dan nyata.

Kirim email ke