Cikini Raya Writers & Readers Festival

Salah satu alasan kenapa saya suka sekali pergi ke acara-acara sastra,
baik di luar kota seperti Ubud Writers & Readers Festival dan Ode
Kampung, maupun di dalam kota seperti Pasar Malam Sastra di Warung
Apresiasi Bulungan, adalah karena di sana saya dapat banyak teman baru.

Dulu, waktu masih jadi konsultan public relation, teman baru berarti
kesempatan (bisnis) baru. Ada tuntutan untuk menghasilkan sesuatu dari
pertemanan dan jaringan yang makin luas itu. Teman adalah investasi,
jadi jangan sampai rugi.

Mentalitas untung-rugi ini pelan-pelan hilang sejak saya berhenti jadi
konsultan dan hanya kerja paruh waktu sebagai editor. Saya lebih
santai berteman, tak ada lagi tuntutan kenalan dengan sebanyak mungkin
orang. Hilang kewajiban menghafalkan wajah si ini dan si itu, lalu
menebak-nebak, kira-kira mereka bisa menguntungkan dalam hal apa.

Tentu, sekarang di belakang saya ada BungaMatahari dan irisPUSTAKA,
yang keduanya bisa diuntungkan (atau dirugikan) oleh jaringan teman
saya yang semakin banyak. Tapi karena BuMa adalah lembaga non-profit,
sedangkan irisPUSTAKA adalah lembaga
not-yet-profitable-and-still-a-long-way-to-actually-see-any-profit,
saya bisa lebih santai membawa diri. 

Kalau tak suka, cukup bilang halo apa kabar dan basa-basi singkat,
tanpa harus  berlanjut ke mana-mana. Sedangkan kalau cocok dan suka,
segala alasan bisa dicari untuk sekedar nongkrong dan ketawa-ketawa.

Misalnya, sepulang dari UWRF tahun ini, ada sekantong nama teman baru
yang saya peroleh. Di antaranya Danny Yatim, Mas Dodo dan Debra Yatim,
serta putri mereka Zulaika. Kami sebenarnya sudah sering bertemu
sebelumnya di acara-acara di Jakarta. Di UWRF tahun lalu, Olin bahkan
sudah memperkenalkan saya dengan Debra waktu acara Poetry Slam di
Bebek Bengil. Tapi mereka pasti lupa.
Sampai akhirnya tahun ini kami ketemu dan kenalan lagi. Debra dan
Zulaika bahkan ikut meramaikan acara peluncuran buku Anya dan Mikael.

Sepulang dari Ubud, kami tetap berhubungan lewat Facebook, dan setelah
gosip kiri-kanan atas-bawah, janjian ketemuan lagi di Cafe au Lait,
Jalan Cikini Raya sekian-sekian, di suatu sore yang penuh kemacetan.
Kumpul-kumpul yang iseng kami namai Cikini Raya Writers & Readers
Festival. Isi programnya bukan workshop atau performances, tapi gosip
sedap tentang penulis dalam dan luar negeri yang di UWRF.

Dari hasil brainstorm singkat, ada empat acara yang akan
dilangsungkan. Pertama, 'Mereka Bilang Ini Puisi!', sebuah acara
setengah poetry slam setengah workshop puisi serba santai yang
diadakan hari Jumat, 14 November 2008 di  SMA Al-Izhar Pondok Labu,
Jakarta Selatan. Sekolah itu punya program yang Bulan Bahasa, dan
poetry slam ini adalah salah satu acara yang termasuk di dalamnya.

Kedua, KebunKata Kota, yang pengumumannya sudah saya pasang di halaman
multiply saya.

Ketiga, jalan-jalan ke Ode Kampung. Saya dan Anya ke sana tahun lalu,
dan pengalaman seru yang kami peroleh rasanya sayang kalau tak dibagi
dengan teman-teman baru kami.

Keempat, Tupperware Party, baca-baca puisi spontan (seperti BunKat) di
acara perayaan ulang tahun penyair Bibsy Soenharjo, yang mungkin akan
diadakan di salah satu restoran di kawasan Ampera.

Kebetulan Martin Jankoswki, penyair Jerman kenalan kami, akan datang
ke Jakarta sepanjang pertengahan November-Desember. Kami sepakat untuk
mengajak dia meramaikan acara-acara tersebut.


Mereka Bilang Ini Puisi!

Siang ini, Anya dan Mikael menjemput saya di kantor, dan kami langsung
meluncur ke Al-Izhar. Acara 'Mereka Bilang Ini Puisi!' diadakan di
mushola SMA lantai 3, dan dihadiri oleh murid-murid kelas 1. Yang
datang (atau tepatnya diharuskan datang, ada faktor pemaksaan di sini,
maklum sekolah!) berjumlah kurang lebih 135 orang. Ramai benar. Mas
Dodo dan Zulaika (yang memang masih sekolah di sana, kelas 3) juga
ada, ditambah beberapa guru.

Debra membuka acara dengan memperkenalkan kami kepada hadirin yang
usianya rata-rata separuh usia kami itu. Dia langsung memperkenalkan
Mikael sebagai orang Australia yang nyasar di sini, dan mengajak
tebak-tebakan asal daerah Anya dan saya berdasarkan nama kami. Ada
yang menebak Anya dari Filipina, sedangkan saya disangka datang dari
Ambon. Hmm. Gak apa-apa, menyerempet sedikit.

Untuk memanaskan suasana, Mikael dan Anya bergantian baca puisi,
disusul Martin. Belum panas-panas juga, jadi Mikael dan Martin duet
membaca puisi karya penyair bule ini (dalam bahasa Indonesia dan
Jerman), yang mengundang sambutan meriah dari audiens.

Ini saatnya, pikir saya. Mereka pasti berebutan maju ke depan. Eh,
enggak juga lho ternyata. Saya sudah terlalu lama meninggalkan bangku
SMA, sehingga lupa bahwa di usia seperti itu, yang penting adalah
crowd mentality, bukan individuality. Lha, gimana mau individual,
identitas aja masih mencari?

Debra terus mengajak mereka yang berminat untuk langsung maju dan baca
puisi karya sendiri, atau karya Mikael, Anya dan Martin (yang
fotokopinya sudah dibagikan), dengan pancingan hadiah buku puisi Martin.

Dengan sedikit pemaksaan dan tunjuk-tunjukkan, akhirnya maju beberapa
orang. Sebagian besar memilih puisi Anya. Agaknya karya si pendiri
BuMa ini lebih cocok buat mereka, daripada karya Mikael dan Martin.
Walaupun akhirnya ada juga satu orang yang berani baca puisi Mikael
dan satu lagi yang baca puisi Martin.

Beberapa kali saat suasana terasa mulai mendingin, saya maju ke depan
dan merebut mike dari tangan Debra (mengulang aksi kudeta MC suka-suka
seperti di Gaya Fusion), dan menantang anak-anak itu untuk maju ke depan.

Saya sempat memberi contoh melalui pembacaan puisi spontan,
benar-benar mengarang saat itu juga di tempat, untuk menunjukkan bahwa
puisi bukan sesuatu yang sulit. Kata kuncinya adalah 'menyenangkan'.
Puisi itu seru, asyik, ada di mana-mana.

Dengan mike di tangan, saya hampiri hadirin yang malu-malu itu, dan
langsung menyodorkan mike kepada satu-dua orang, sambil minta mereka
menyebutkan kata pertama yang terpikirkan oleh mereka saat itu juga.
Yang pertama menjawab 'duduk', dan yang kedua menjawab 'i love you'.
Ketawa ramai yang memenuhi ruangan mewarnai upaya saya menciptakan
baris-baris puisi spontan nan garing dari kata-kata mereka. Cukup
berhasil agaknya.

Bantuan datang dari Zulaika, yang tampil membaca puisi yang spontan
diciptakannya saat itu juga, yang langsung saya buat jawabannya saat
itu juga. Saya bilang ke anak-anak bergizi tinggi itu, bahwa ini yang
biasa kami lakukan di dunia maya. Berbalas puisi, karena semua bisa
berpuisi.

Lucunya, saya berkhotbah kepada mereka bilang bahwa tak usah mikirin
bentuk, rima dan lain-lain, yang penting ekspresikan dirimu. Ternyata
puisi spontan saya pun masih menggunakan rima. Rapi dan teratur. Saya
baru sadar akan hal ini saat Anya dan Mike menegur saya sambil ngakak.
"Gimana sih lo! Katanya gak pake rima, kok barusan rima semua isinya!
Hahaha...

Acara diteruskan dengan pembacaan puisi dari dua murid Al-Izhar, dan
Mas Dodo, Anya dan Martin. Saat Debra menutup acara, jam menunjukkan
pukul 14:30. Lumayan, satu setengah jam mengindoktrinasi generasi
sehat gizi dengan kredo semua bisa berpuisi (tuhkan, lagi-lagi berima!).

Di masa yang akan datang, saya rasa lebih baik kalau susunan acaranya
seperti KebunKata dan diadakan di tempat yang lebih santai, seperti
kantin sekolah atau lapangan basket. Kalau yang membuka acara kelompok
musik sadis seperti Otak n Chair, pasti murid-murid SMA itu tak butuh
waktu lama untuk menemukan kodrat narsis mereka, dan langsung lompat
ke depan menyambar mike.

Semangat menolak tua memang tak akan habis dimakan usia. Tapi mungkin
memang sudah waktunya BungaMatahari membangun basis kembali dari
generasi (yang lebih) muda. Ini saatnya. Ayo kita racuni mereka dengan
puisi!


http://blackuniverse.multiply.com/journal/item/390/Mereka_Bilang_Ini_Puisi?replies_read=4

http://duniahitam.wordpress.com/2008/11/14/mereka-bilang-ini-puisi/






Kirim email ke