Mas Totot,
Tentu saja bisa. Harus. Dengan catatan, selama ada rancangan besarnya. Panduan
yang menyeluruh.
Masalahnya, sekarang kita lagi hura-hura main partai. Setiap partai punya
kepentingan sendiri-sendiri sehingga ketika masuk dalam jajaran penyelenggara
negara, mereka manfaatkan posisi sebaik-baiknya untuk kepentingan partai &
pribadi. Mereka tidak kompak bicara dalam skala nasional atau yang lebih luas,
kecuali ketika nuntut naik gaji & fasilitas.
Akibatnya, ketika satu jabatan digantikan orang dari lain partai maka arahpun
berubah seketika. Hasilnya, kerja pembangunan jadi serba tumpang-tindih,
kehidupan masyarakat jadi penuh tambal-sulam.
Kita harus berani mengakui di titik inilah para reformis kalah telak dari
Soeharto yang telaten main PELITA yang tiap periodenya dirinci lewat GBHN.
Reformis harusnya bisa lebih baik dari Orbais.
Boleh kita cari jalan keluar soal kemacetan jalan, tapi sambil terus cari jalan
keluar membenahi "kenakalan politik" yang mengandalkan kemanjaan partai-partai.
Inilah biang dari segala kekusutan hidup masyarakat.
Pembenahan pelan-pelan boleh, nggak pelan juga nggak papa.
ajeg=
--- St. Herwinoto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
(...)
> Bisa gak ya semua aspek itu dibereskan secara simultan dan
> bersamaan, sedikit demi sedikit, hingga tercipta kondisi yg ideal?
> Paling tidak, ada semangat berkorban bersama-sama, demi
> terciptanya kondisi yg diinginkan secara bersama2 pula.
>
> Salam,
> Totot