Kisah dengan Tokoh Fragmentaris oleh Agus Noor
< 2008-02-27 05:52:46 >

BELAKANGAN ini, pada banyak kesempatan saya kerap mengutarakan kegelisahan 
seputar menghilangnya ‘tokoh’ dalam cerpen kita. Dan saya yakin, bahwa tak 
banyak ditemukannya ‘tokoh-tokoh yang otentik’ dalam cerpen terkini bukanlah 
semata persoalan keterbatasan ruang penceritaan. Ketika Sunaryono Basuki KS 
menegaskan bahwa characterless short story adalah tak mungkin, maka di sanalah 
sebenarnya persolan itu berada: bahwa yang jadi soal adalah ketiadaan ‘tokoh’, 
bukan ketiadaan pengembangan tokoh atau ‘penokohan’. 

Tokoh sebagai personifikasi karakter, juga menjadi semacam representasi gagasan 
pengarang seputar manusia - atau sebagai upaya menghadirkan ‘varian dari genus 
manusia’ seperti diyakini Iwan Simatupang - ketika menghadapi peristiwa dan 
sejarahnya. Pada tingkat itulah pergulatan tokoh akan menentukan karakter dan 
keotentikannya. Bagaimana pergulatan tokoh itu dihadirkan, itulah yang disebut 
penokohan dalam cerita. 

Diskripsi penokohan boleh pendek, boleh berupa sapuan-sapuan kecil, karena 
keunikan cerpen memang ada pada kepadatannya, kependekannya. Tetapi reaksi dan 
tanggapan tokoh atas peristiwa yang dihadapi itulah yang akan memunculkan 
karakterisasi yang kuat dari tokoh itu. Pergulatan pemikiran dan kejiwaan tokoh 
itulah, yang akan menentukan apakah tokoh itu memang merupakan tokoh yang 
memiliki karakter yang otentik, yang tak tergantikan.

Sepanjang sejarah cerpen Indonesia, barangkali hanya dua kumpulan cerpen yang 
memperlihatkan upaya untuk melakukan eksplorasi penokohan, yakni ‘Orang-orang 
Bloomington’ Budi Darma dan ‘Tentang Delapan Orang’ Satyagraha Hoerip. 
Kisah-kisah dalam kumpulan itu nyaris bertumpu pada tokoh. Tokoh Orez (cerpen 
‘Orez’ Budi Darma) misalnya, menjadi otentik bukan semata-mata karena cara 
pelukisan tokohnya (penokohannya) tetapi karena reaksi dan tanggapan tokoh itu 
atas peristiwa yang dihadapinya. Emosinya, kemarahannya, kelebatan pikirannya 
ketika berinteraksi dengan tokoh-tokoh lainnya dan saat memandang dan 
menghadapi dunia sekelilingnya begitu otentik, hingga tokoh ini tak mungkin 
tergantikan dengan tokoh dengan karakter yang berbeda.

Begitu pun tokoh-tokoh dalam kumpulan Satyagraha Hoerip itu, seperti Miranda 
Devanand atau Umiko Matsui terasa otentik bukan semata-mata lantaran 
diskripsinya yang memang benar-benar detail, seperti “Ada tahi lalat kecil di 
sudut mata kirinya. Kecil sekali.” 

Dua buku ini, saya kira, menarik untuk dilihat sebagai upaya seorang pengarang 
melakukan ‘proyek penokohan’ dalam proses kreatifnya.
Dengan begitu, tokoh menjadi kuat atau tidak, tipis atau tidak, sesungguhnya 
bukan hanya dikarenakan ketiadaan detail diskripsi tokoh tersebut. Bukan pada 
ketiadaan atau kurangnya penokohan, tetapi karena memang tiadanya otentisitas 
karakter. 

Cerpen ‘Safrida Askariyah’ Alimudin bisa kita jadikan soal. Tokoh dalam cerpen 
ini adalah seorang perempuan Aceh korban kekerasan DOM yang kemudian menjadi 
anggota Askariah, pasukan perempuan GAM. Dalam cerpen ini kita nyaris tak 
menemukan diskripsi tokoh itu, hingga kita tak pernah tahu seperti ada rupa 
wajah tokoh yang bernama Safrida ini. Kalau dia orang Aceh, tak ada ciri apa 
pun yang membuat kita yakin bahwa Safrida memang perempuan Aceh. Bukan 
perempuan Jawa, atau Manado. Dan lebih-lebih kita tak melihat reaksinya yang 
khas dan otentik sebagai seorang pejuang yang tetap memendam dendam ketika 
orang-orang di sekelilingnya bergembira menyambut perjanjian damai. 

Reaksinya yang umum dan nyaris sama saja sebagaimana reaksi para korban 
lainnya, membuat tokoh ini hanya semata-mata menjadi ‘gambaran umum’ tentang 
seorang perempuan korban kekerasan. 

Inilah gejala yang banyak kita rasakan dalam cerpen kita terkini, di mana tokoh 
lebih sering menjadi representasi dari gambaran sosiologis.

Mungkin benar seperti dinyatakan Sunaryono, cerpen ‘yang berfokus pada tokoh 
dianggap mengekang’, hingga kemudian ‘mengeksploitasi unsur-unsur lain dari 
sebuah cerpen’. 

Cerpen Indonesia terkini memang sepertinya lebih mementingkan eksplorasi cara 
berbahasa dan bercerita, hingga yang lebih menonjol adalah unsur suasana dan 
peristiwa. Tak mengherankan bila dalam cerpen ‘Anak Ibu’ Reda Gaudiamo kita tak 
menemukan diskripsi penokohan, karena alur dan karakter tokohnya hanya bisa 
‘kita duga-duga’ melalui percakapan seorang ibu dan anaknya. 

Hal yang sama bisa kita rasakan pada cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu, yang 
selalu hadir samar-samar, hingga kita selalu tergoda untuk mengidentifikasi 
tokoh-tokoh itu dengan pengarangnya. Seolah-olah, kita baru bisa memperoleh 
gambaran tokoh Nayla, misalnya, bila kita mengaitkannya dengan sosok Djenar 
sendiri.

Tentu saja, pada banyak cerpen kita masih menemukan tokoh dengan karakter yang 
otentik. Seperti tokoh-tokoh jembel yang ditulis Joni Ariadinata, yang sarkas, 
kasar dan keras. 

Atau kegilaan dan keganjilan tokoh-tokoh Hudan Hidayat yang selalu terobsesi 
dengan darah dan kematian. 

Pada Joni, kita menemukan reaksi-reaksi yang khas dari orang-orang jenis 
bromocorah. Sedang pada Hudan kita berhadapan dengan tokoh yang memiliki cara 
berpikir yang memang aneh. 

Tetapi sebagaimana pada kasus Djenar, karena pemberian tokoh yang kadang tak 
terlalu kuat, pembaca kemudian kerap mengaitkan tokoh-tokoh yang ditulis itu 
dengan riwayat pengarangnya. 

Dalam konteks ini, contoh paling gres adalah cara Mariana Amiruddin melihat 
tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ‘Manusia Ikan’ Hudan Hidayat, sebagai bagian 
integral dari obsesi pengarangnya: “Bahwa karya-karya Hudan adalah dirinya dan 
hidupnya”.

Apa yang bisa dibaca dari gejala itu? 

Pertama, barangkali kita (atau para pengarang kita) memang tak lagi menemukan 
karakter-karakter yang unik dan otentik dalam lingkungan sosiologis kita. Bila 
ini benar, tiadanya tokoh dalam cerita kita adalah gambaran sebuah masyarakat 
yang tengah mengalami penyeragaman karakter. Atau bagaimana situasi sosial 
politik kita sekarang ini tidak memungkinkan bagi hadirnya satu kepribadian 
yang unik dan otentik. Apakah ini akibat dari upaya membangun masyarakat yang 
‘berkepribadian nasional’? 

Kedua, itu adalah gejala ketidakmampuan kita untuk menemukan dan menghadirkan 
tokoh dengan otentisitas karakter yang kuat. Karena ketidakmampuan itulah, para 
pengarang kita kemudian memakai riwayat dan sejarah hidupnya untuk menjadi 
model tokoh-tokoh yang ditulisnya.

Di sinilah, saya kemudian tertarik dengan apa yang dikembangkan oleh Radhar 
Panca Dahana dalam cerpen-cerpen yang belakangan ini ditulisnya, seperti ‘Senja 
Buram, Daging di Mulutnya’. 

Radhar seperti meyakini bahwa saat ini kita tak mungkin menghadirkan ‘tokoh 
yang bulat utuh’, round character, karena memang kenyataan di mana para 
pengarang hidup juga semakin fragmentaris, di mana potongan-potongan peristiwa 
nyaris hadir serempak menghentak. 

Karena itu, penokohan yang fragmentaris menjadi jalan yang mungkin untuk 
ditempuh. 

Mungkin, yang terjadi saat ini memang bukan cerpen dengan ‘tipis tokoh’ seperti 
dinyatakan Goenawan Mohamad, tetapi cerpen dengan tokoh-tokoh yang 
fragmentaris. Tokoh dengan penghadiran yang fragmentaris. Pikiran dan kejiwaan 
yang fragmentaris. Dan ini menjadi gambaran bagi realitas kita yang memang 
makin fragmentaris. 

Inikah salah satu gejala postmodernisme dalam cerpen kita?

*) Agus Noor, Prosais.



      Global warming. What is that?

Kirim email ke